D. GWK (GARUDA WISNU KENCANA)
a. Kondisi Geologi
Daerah GWK sama dengan kondisi lahan Karst daerah lainnya. Memang yang di GWK lebih chalky seperti di Padalarang. Hanya yang di Uluwatu gamping yang kelihatannya sama dengan GWK menindih breksi volkanik yang memang masih jalur Old Andesite Jawa. Model singkapan seperti ini sam seperti sejak dari Jampang di Sukabumi (gamping Bojonglopang di atas breksi volkanik Jampang), di Peg.Kidul (Wonosari di atas group Kebo Butak-Nglanggran) dan di Uluwatu. Baik Bojonglopang maupun Wonosari sekitar Miosen Tengah-Akhir. Dalam pikiran saya saat itu, baik GWK dan Uluwatu masih sejajar ke jalur selatan karbonat Pegunungan Selatan Jawa dan bahwa jalur Old Andesite masih menerus ke Nusa Tenggara, maka mungkin GWK limestone itu Miosen Tengah juga. Hanya tentu cek umur yang akan menentukannya
b. Iklim
Kondisi iklim di kawasan Garuda Wisnu Kencana secara umum adalah sama dengan berbagai tempat lain yang ada di Pulau Bali, yaitu beriklim tropis dengan suhu antara 28oC hingga 35oC. meskiipun demikian, pada kawasan Garuda Wisnu Kencana ini memiliki perbedaan dengan tempat lain di Bali, yaitu curah hujannya yang relatiif lebih rendah. Sehingga di tempat tersebut kurang terdapat tanaman sebagai penutup permukaan tanah. Namun dengan semakin berkembangnya pembangunan di kawasan Garuda Wisnu Kencana, banyak sekali perubahan yang terjadi di kawasan tersebut. Dahulu di kawasan tersebut hanya terdapat hamparan perbukitan karst yang gersang, namun kini telah berubah menjadi sebuah kawasan wisata eksotik yang banyak ditumbuhi tanaman hijau terbuka.
Di samping itu berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan masyarakat sekitar ketika diadakannya KKL II, bahwa di daerah tersebut memiliiki kondisi awan yang relatif banyak berhamburan memenuhi angkasa di atas kawasan tersebut sepanjang hari. Dari keadaan tersebut sedikit banyak dapat membantu mengontrol kondisi kelembaban di kawasan Garuda Wisnu Kencana. Sehingga walaupun dengan kondisi tropis, namun kawasan Garuda Wisnu Kencana memiliki kelembaban relatif yang tidak terlalu kering, ataupun terlalu basah. Sehingga dari keadaan yang demikian dapat kita rasakan hembusan angin tropis yang sejuk.
c. Hidrologi
Kawasan Garuda Wisnu Kencana yang terletak di kawasan perbukitan karst telah memberikan banyak perubahan pada kondisi hidrologis daerah tersebut. Dengan kondisi yang sedemikian gersang dan letaknya yang relatiif tinggi dari permukaan laut, menyebabkan di daerah tersebut tidak dijumpai sungai-sungai maupun danau. Namun demikian, tidak jauh dari patung Dewa Wisnu terdapat Parahyangan Somaka Giri, yaitu sebuah mata air keramat, yang mana dari mata air tersebut mengalir air dengan kandungan mineral-mineral utama. Keberadaan air di puncak bukit kapur padas ini memang merupakan sebuah keajaiban dan belum dapat dijelaskan secara ilmiah. Dari keadaan yang tidak normal tersebut menjadikan kawasan di sekitar mata air tersebut sebagai tempat kunjungan spiritual dan meditasi. Mata air tersebut dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan telah dipergunakan luas dikalangan penduduk setempat dalam upacara memohon hujan guna mendapatkan panen yang baik.
d. Tata Guna Lahan
Berkaitan dengan tata guna lahan di kompleks Garuda Wisnu Kencana, kawasan tersebut memiliki lahan terbuka yang luas dengan padang rumput, maupun semak belukar yang luas menutupi perbukitan karst di daerah tersebut. Di kawasan ini tidak dijumpai adanya hutan maupun kawasan pertanian atau pun perkebunan. Hal ini bisa dimaklumi mengingat daerah tersebut merupakan daerah gersang, sehingga tidak memungkinkan untuk dijadikan lahan pertanian maupun perkebunan.
Namun dari kondisi alam yang kurang mendukung untuk kegiatan bercocok tanam tersebut dapat dimanfaatkan menjadi kawasan pariwisata yang sangat menarik dan indah. Hal ini dapat dilihat dari keberadaan Garuda Wisnu Kencana telah menjadi salah satu tujuan utama untuk berbagai pertunjukan kesenian, pameran dan konferensi ataupun kunjungan santai bahkan kunjungan spiritual. Kawasan seluas 250 hektar ini merangkum berbagai kegiatan seni budaya, tempat pertunjukan serta berbagai layanan tata boga.
e. Konservasi Lahan
Konservasi lahan di kawasan Garuda Wisnu Kencana dilakukan dengan dua metode, yaitu konservasi secara vegetatif dan mekanik. Vegetatif yaitu dengan penutupan lahan secara permanen di beberapa tempat yang digunakan sebagai objek wisata. Selain itu di daerah Garuda Wisnu Kencana terdapat saluran drainase dengan rumput, hal ini bisa dikatakan pula sebagai konservasi lahan secara vegetatif. Sedangkan konservasi lahan secara mekanik di kawasan Garuda Wisnu Kencana dapat dilihat dari pengolahan tanah yang dilakukan secara manual dengan teknologi modern, dan dengan pengolahan tanah dengan memotong-motong perbukitan karst (karang) sesuai konturnya agar bisa dimanfaatkan dengan lebih baik.