Kamis, 07 Januari 2010

Efek Koriolis

Gaya koriolis, gaya ini timbul ini timbul karena rotasi bumi yang kadang-kadang disebut
gaya semu. Gaya koriolis adalah gaya fiktif yang dimunculkan pada sistem koordinat yang
tidak inersial. Pada sistem koordinat tidak inersial berlaku berlaku hokum newton I. salah
satu contoh sistem koordinat ti tidak inersial adalah sistem koordinat yang ikut berotasi
dengan bumi, seperti garis lintang dan garis bujur.
Efek koriolis adalah "gaya semu" yang dirasakan oleh benda yang berada pada sebuah
piringan yang bergerak. Nah, tapi harus diingat, kerangka inersia (diam) harus ikut bergerak
bersama piringan sehingga piringan dianggap diam (tak bergerak). Benda tersebut akan
merasa terlempar keluar karena adanya gaya sentrifugal yang arah gayanya tak linier.
Penerapannya yang paling berpengaruh digunakan adalah untuk "melempar" roket ke luar
angkasa. Itulah alasannya kenapa daerah sekitar equator sangat diperebutkan negara-negara
maju sebagai basis peluncuran roketnya. Karena efek koriolis yuang besar di sekita
khatulistiwa akibat rotasi bumi, penghematan bahan bakar dapat digunakan untuk
meluncurkan benda yang laebih berat ke antariksa.

• Efek Koriolis
Jika benda melakukan gerakan di sistem K' (permukaan bumi), percepatan
Koriolis akan ikut berbicara karena adanya vektor kecepatan v'. Arah percepatan ini sudah
kita ketahui selalu tegak lurus terhadap arah kecepatan benda di sistem K', sehingga
arahnya tergantung pada arah kecepatan v'. Kita tinjau misalnya gerak benda jatuh bebas.
Pada awal geraknya arah kecepatan v' adalah vertikal ke bawah. Jika kejadiannya itu di
Surabaya yang terletak pada lintang 7° LS, gambar 6 akan menunjukkan pada kita arah
percepatan Koriolis yang terjadi. Percepatan ini akan menyebabkan lintasan benda
menyimpang dari arah vertikal. Dapat diduga bahwa simpangan yang terjadi cukup kecil,
kecuali kalau laju gerak bendanya besar sekali, sehingga arah kecepatannya setiap saat
dapat didekati dengan arah vertikal. Untuknya mudahnya gesekan udara kita abaikan dan
arah vertikal kita impitkan dengan arah radial, efek sentrifugalnya juga kita abaikan.
Efek Koriolis tampak paling jelas jika kita mengamati pola aliran arus laut dan
arah angin pasat sepanjang tahun. Pada semester Maret-September matahari berada di
belahan utara mengakibatkan atmosfir di belahan selatan mempunyaikelebihan tekanan.
Udara dari belahan selatan akan bergerak menyeberangi khatulistiwa ke belahan utara.
Gerakan massa udara ke utara ini akan dibelokkan arahnya oleh percepatan Koriolis. Kita
lihat dulu di belahan selatan percepatan Koriolis yang diderita udara arahnya ke barat
sehingga angin akan berbelok ke barat laut. Angin ini adalah angin tenggara pada musim
kemarau di pulau Jawa. setelah menyeberangi khatulistiwa percepatan Koriolis berbalik ke
arah timur, sehingga angin berbelok ke arah timur laut .
Pada semester September-Maret yang terjadi adalah sebaliknya. Angin ke selatan
terkena percepatan Koriolis ke barat di belahan utara dan ke timur di belahan selatan.
Anda periksa sendiri arah-arahnya. Angin ini adalah angin barat laut pada musim
penghujan di pulau Jawa. Secara ringkas efek Koriolis menyebabkan gerakan angin akan
menyimpang ke kiri di belahan selatan dan menyimpang ke kanan di belahan utara. Hal
ini dapat mengakibatkan berputarnya gerakan udara searah jarum jam di belahan utara dan
berlawanan dengan arah jarum jam di belahan selatan, angin yang berputar ini bisa disebut
angin siklon.

1 komentar:

Halaman