Kamis, 05 September 2013

SEJARAH KOTA KEDIRI

KEBESARAN MASA LALU
Sudah menjadi pengetahuan umum, Kediri merupakan daerah yang memiliki sejarah masa lalu yang gemilang . Bahkan Kediri di masa lalu adalah daerah penting dalam konstelasi nusantara karena menjadi salah satu pusat di antara kerajaan-kerajaan nusantara masa itu.

Kediri juga menjadi salah satu daerah yang menjadi saksi bagi kebangkitan dan kehancuran kerajaan-kerajaan di nusantara yang memang silih berganti timbul tenggelam mewarnai lembaran sejarah kehidupan banga besar nusantara ini. Khusus bagi Jawa Timur, Kediri di masa-masa silam merupakan daerah yang bisa dikatakan cikal bakal lahirnya kerajaan-kerajaan besar sekaligus menjadi payung bagi daerah-daerah dan kerajaan-kerajaan kecil lainnya.
Pusat kerajaan baru di Jawa Timur muncul diantara dua masa berlangsungnya pemerintahan kerajaan di Jawa Tengah. Hal ini kita ketahui dari sebuah prasasti bertahun 729 saka (840 M) yaitu “PRASASTI HARINJING” di Desa Sukabumi, Kec. Kepung Kab. Kediri. Prasasti tersebut ditulis dalam bahasa Sansekerta dengan huruf kawi (Jawa Kuno).
Pengaruh Kerajaan Sriwijaya di belahan barat dan Mataram disebelah timur pada tahun 928 selagi empu sendok berkuasa di tanah air kita membuat perkembangan kerajaan-kerajaan kecil diseluruh jawa, termasuk Jawa Timur berkembang pesat. Mpu Sendok sebagai seorang bangsawan yang berasal dari kerajaan Mataram mendirikan kerajaan baru di Jawa Timur, dengan gelar RAKAI HINO MPU SENDOK SRI ICANA WIKRAMADHARMA TUNGGADEWA (929-947). Ibukota negara icana tidak jelas, tetapi kira2 pusat pemerintahan tersebut terletak di loceret Nganjtini ditandai dengan ditemukannya Candi lor yang menunjukkan tahun 929-1222M.
Setelah Mpu Sendok meninggal tahun 947 M, kepemimpinan pemerintahan mataram diganti oleh Sri Isyana Tunggawijaya, yang kemudian mempersunting putri Lokapala. Pernikahan tersebut memberikan putra yan kemudian menggantikan kedudukan Tunggawijaya yaitu Sri Makutawangsa Whardana. Selanjutnya pada tahun 990-1007 kerajaan mataram dikendalikan oleh Sri Dharmawangsa mati terbunuh sedangkan Airlangga dapat meloloskan diri dari peristiwa itu dengan diiringi Narottama, kemudian selama 4 tahun hidup di hutan dekat Wonogiri.
Pemerintahan Airlangga
Pada tahun 1019 atas pemerintahan beberapa Adipati dan kaum Brahmana yang masih setia, Airlangga diangkat untuk menduduki tahta kembali. Ia bertahta dan bergelar SRI MAHARAJA RAKELAHU CRILO KESWARA DHARMAWANGSA AIRLANGGA ANANTA WIKRAWAI-TUNGGADEWA. Pada masa pemerintahannya, airlangga berusaha menyatukan daerah-daerah kerajaan dharmawangsa yang telah terpecah belah akibat pengeruh Sriwijaya dengan kebijakan seperti :
  • Memindahkan ibukota kerajaan dari Wuwutan Mas ke Kahuripan kembali.
  •  Mengadakan perbaikan sistem pengadilan dengan menghapus hukuman siksa diganti dengan hukuman denda. ·    
  • Memajukan pertanian dengan mendirikan pematang-pematang besar di desa Wringin Sapta pada Sungai Brantas, sehingga desa dan sawah-sawah terhindar dari banjir, Bandar Ujung Gakuh dekat Surabaya menjadi makmur. ·         
  • Memperhatikan dan memajukan perdagangan baik didalam maupun diluar negeri ke Champa, India Utara dan India Selatan. ·        
  • Memerintahkan menyalin buku Mahabarata kedalam bahasa Jawa Kuno sehingga rakyat dapat membaca dan terpengaruh oleh peradaban hindu. Mpu Kanwa menyalin buku Arjuna Wiwaha sebagai lambang perkawinan Airlangga, dan Gatot Kaca Sraya. ·         
  • Mendirikan pertapaan yang indah di puncangan, serta memperbaiki tempat-tempat suci  
Sesuai dengan kehidupan orang Hindu Airlingga ingin memenuhi kewajiban yaitu menjadi pertapa, dan sebelum mengundurkan diri pada tahun 1041 ia membagi kerajaan menjadi dua bagian untuk kedua putranya adapun pembagian kerajaan sebagai berikut :
  1. Bagian Timur : Kerajaan Jenggala dengan ibukota Kahuripan meliputi daerah Surabaya, Malang dan Besuki.
  2. Bagian Barat : Kerajaan Panjalu atau Kadiri meliputi daerah Kediri, Madiun dengan ibukota Dahapura

Kamis, 20 Juni 2013

Etiopia Tetap Lanjutkan Pembangunan Bendungan Sungai Nil


ADDIS ABABA, KOMPAS.com - Etiopia mempertahankan rencana untuk menbangun bendungan di Sungai Nil, menjelang pertemuan regional tentang penggunaan air sungai di Sudan. Pertemuan tentang penggunaan air Sungai Nil ini dilangsungkan di ibukota Sudan Selatan, Juba, Kamis (20/6/2013).
Minggu lalu, Etiophia membuat marah pemerintah Mesir dengan meratifikasi penggunaan air Sungai Nil dan mengabaikan perjanjian abad ke-19 tentang penggunaan air sungai itu.
Dalam wawancara dengan BBC, Duta Besar Etiopia untuk Inggris, Berhanu Kebede mengatakan negara itu tidak ambil bagian dalam perjanjian awal pembagian air sungai.
Namun ia mengatakan pembangunan bendungan baru akan membantu mengembangkan pembangkit listrik untuk Ethiopia dan negara-negara tetangga.
Kebede mengatakan para pakar menyimpulkan pembangunan gedung itu tidak akan membahayakan negara-negara di hilir termasuk Mesir.
"Bendungan ini dibangun untuk menghasilkan pembangkit tenaga air bagi Etiopia dan negara-negara tetangga. Pembangunan ini bahkan dapat membuka babak baru dalam sejarah hubungan negara-negara di sepanjang sungai," kata Berhanu Kebede.
Bendungan senilai 4,2 miliar dolar AS itu akan menjadi proyek pembangkit tenaga air terbesar di Afrika dan dijadwalkan akan selesai tahun 2017.
Sekitar 86% air Sungai Nil yang mengalir ke Mesir berasal dari Sungai Nil Biru dari Etiopia.
Sungai Nil Biru bergabung dengan Sungai Nil Putih di ibukota Sudan, Khartoum dan membentuk Sungai Nil yang mengalir ke Mesir.
Kairo mengatakan khawatir atas pembangunan bendungan itu.
Sungai Nil melintas di sepanjang 6.695 kilometer melewat 11 negara mulai dari Rwanda dan Burundi ke kawasan Laut Tengah.

Kamis, 16 Mei 2013

Es di Everest Meleleh

CANCUN, KOMPAS.com — Pemanasan
global telah berdampak pada Everest,
puncak tertinggi di dunia dengan ketinggian
mencapai 8.848 meter di atas permukaan
laut, yang berlokasi di Pegunungan
Himalaya, perbatasan China dan Nepal.
Dalam sebuah konferensi yang berlangsung
di Cancun, Meksiko, Selasa (14/5/2013)
kemarin, Sudeep Thakuri dari University of
Milan di Italia mengatakan bahwa dalam
penelitiannya banyak es di Everest yang
telah meleleh.
Diberitakan Livescience , Selasa, pelelehan es
yang terjadi di Everest mencapai 13 persen.
Sementara itu, batas wilayah bersalju di
Everest naik hingga 180 meter. Artinya,
semakin sedikit wilayah yang ditutupi salju.
Thakuri dan rekannya melakukan penelitian
pada perubahan gletser, temperatur, dan
curah hujan di Everest dan sekitar Taman
Nasional Sagarmatha, wilayah Himalaya
yang dilindungi dan berlokasi di Nepal.
Tim menemukan, gletser di wilayah tersebut
telah mengalami penurunan sejak tahun
1962. Lebih lanjut, Thakuri dan rekannya
menyatakan bahwa curah hujan telah turun
100 milimeter, sementara temperatur telah
naik 0,6 derajat Celsius sejak tahun 1992.
Thakuri menduga bahwa pelelehan yang
terjadi di Everest adalah akibat dari
pemanasan global. Meski demikian, Thakuri
belum bisa menghubungkan secara pasti
pelelehan dengan fenomena perubahan
iklim.
Turunnya gletser dan pelelehan es di
Himalaya menyita banyak perhatian
ilmuwan. Banyak yang menyerukan bahwa
apa yang terjadi di Himalaya adalah bukti
nyata perubahan iklim yang banyak
dipengaruhi oleh aktivitas manusia.
Beberapa studi telah mengungkap bahaya
dari terus naiknya suhu Bumi. Studi terbaru
menyatakan bahwa peningkatan suhu Bumi
akan menyebabkan setengah dari total
spesies tumbuhan dan sepertiga dari total
spesies hewan terancam. Emisi CO2 yang
memengaruhi pemanasan suhu Bumi kini
telah mencapai titik tertinggi dalam 3 juta
tahun terakhir.

Jumat, 22 Februari 2013

Mengapa Ledakan Meteor Rusia Tak Terprediksi Sebelumnya?

JAKARTA, KOMPAS.com - Teknologi antariksa manusia masa kini, terutama dari negara maju seperti Amerika Serikat dan Rusia, mampu mendeteksi benda antariksa yang berpotensi untuk menumbuk Bumi. Tapi, pada peristiwa ledakan meteor di Rusia Jumat (15/2/2013), manusia rupanya "kecolongan".

Pertanyaannya sekarang, mengapa manusia dan teknologinya bisa kecolongan?

“Tidak terdeteksinya meteor yang meledak di Rusia mungkin karena keterbatasan sistem yang ada saat ini dalam mendeteksi benda-benda langit berukuran kecil dengan jarak yang jauh,” kata Dr. Hakim L. Malasan, ahli Astronomi ITB, saat dihubungi Kompas.com, Minggu (17/2/2013).
Hakim mengungkapkan, benda angkasa dikategorikan kecil bila ukurannya kurang dari 30 meter.
Hal yang sama juga dikemukakan astrofisikawan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional (LAPAN), Thomas Djamaluddin. “Ukuran asteroid yang terlalu kecil membuat keberadaannya sulit terdeteksi,” katanya.

Thomas mengungkapkan, obyek luar angkasa yang berada di dekat bumi saat ini dideteksi menggunakan metode optik. Deteksi obyek dengan metode ini didasarkan pada kecerlangan obyek tersebut. Metode ini memiliki keterbatasan dalam mendeteksi benda-benda luar angkasa yang berukuran kecil.

“Mendeteksi asteroid berukuran kecil itu sulit karena objek tersebut sangat redup apalagi kalau jaraknya jauh dari Bumi, sehingga sering luput dari pengamatan," papar Thomas yang juga dihubungi hari ini.

"Kalaupun terdeteksi, biasanya asteroid tersebut sudah berada pada jarak yang sangat dekat dengan Bumi dan kita sulit berbuat banyak untuk menghindarinya. Berbeda dengan asteroid 2012 DA14 yang relatif mudah dikenali,” tambahnya.

Asteroid 2012 DA14 diketahui melintas dekat Bumi pada Sabtu (16/2/2013) dini hari waktu Indonesia.

Menurut Thomas, asteroid berukuran relatif kecil yang berpotensi menghantam Bumi memang pernah terdeteksi. Sayangnya, ini cuma secara tak sengaja. Asteroid itu menghantam Bumi pada tahun 2008, tepatnya di wilayah Sudan, Afrika.

Asteroid yang jatuh di Sudan berukuran lebih kecil, diameterya hanya 6 meter. Diperhitungkan, asteroid jatuh 19 jam setelah terdeteksi. Lokasi tumbukan juga sudah ditentukan. Dan, tumbukan memang terjadi sesuai prediksi.

Thomas menambahkan, selain ukuran yang kecil, kecepatan meteor ketika jatuh ke Bumi juga menjadi salah satu faktor tidak terdeteksinya meteor yang meledak di Rusia.

“Kecepatan rata-rata asteroid saat jatuh bisa mencapai 20 – 30 km/detik atau setara 70.000 km – 100.000 km/jam. Karenanya bila asteroid teridentifikasi pada jarak 2 juta km, itu artinya asteroid tersebut sudah sangat dekat dengan Bumi,” ujar Thomas.

Informasi yang terbaru dari portal resmi NASA ukuran meteorit yang meledak di Rusia sebesar 17 meter (sebelumnya 15 meter) dengan bobot 10.000 ton. Meski digolongkan berukuran kecil, meteorit ini ukurannya lebih besar bila dibandingkan dengan meteor yang jatuh di lepas Pantai Bone tahun 2008 lalu. Ledakannya menyebabkan 200.000 meter persegi kaca pecah di lokasi bencana, dan melukai sekitar 1.200 orang.

Hakim dan Thomas menerangkan, kerusakan yang terjadi di lokasi bukan diakibatkan oleh tumbukan atau serpihan meteor, akan tetapi pleh gelombang kejut yang muncul ketika meteor tersebut meledak. (Fifi Dwi Pratiwi)

Senin, 04 Februari 2013

Purnama Bakal Tenggelamkan Jakarta?

JAKARTA, KOMPAS.com - Bulan mencapai fase purnama pada Minggu (27/1). Saat itu, pasang naik air laut mencapai maksimum. Namun, hal ini belum tentu menimbulkan rob atau memicu banjir besar di Jakarta. Tergantung curah hujan di daratan, kecepatan angin, tinggi gelombang di laut, dan ada tidaknya siklon tropis.

Pasang adalah fenomena naik turunnya permukaan air laut yang terjadi setiap hari. Kenaikan air laut dipengaruhi oleh gaya gravitasi Bulan dan Matahari.

Karena jarak Bulan ke Bumi lebih dekat dibandingkan Matahari, pengaruh gravitasi Bulan terhadap Bumi 1,46 kali lebih besar dibandingkan pengaruh gravitasi Matahari. ”Makin dekat jaraknya, makin besar gaya gravitasinya,” kata dosen Kelompok Keahlian Tata Surya, Program Studi Astronomi, Institut Teknologi Bandung, Moedji Raharto, Rabu (23/1/2013).

Waktu air laut naik atau turun di setiap daerah berbeda. Besaran kenaikan muka air laut pun bervariasi dari hari ke hari.

Kenaikan mencapai maksimum saat Bulan purnama dan Bulan mati karena gaya gravitasi Bulan dan Matahari saling menguatkan. Sebaliknya, kenaikan air laut minimum saat Bulan pada fase perempat awal dan perempat akhir karena gravitasi Bulan dan Matahari saling melemahkan.

Besaran gaya gravitasi Bulan terhadap Bumi juga ditentukan oleh jarak Bumi dan Bulan yang bervariasi setiap hari. Penyebabnya, lintasan revolusi Bulan mengelilingi Bumi berbentuk elips sehingga dalam satu putaran akan ada jarak terjauh dan terdekat Bulan terhadap Bumi.

Saat ini, Bulan bergerak dari titik terjauhnya menuju titik terdekatnya terhadap Bumi. Jarak terjauh Bulan untuk periode revolusi kali ini terjadi 22 Januari pada jarak 405.320 kilometer. Jarak terdekatnya terjadi 10 Januari pada jarak 360.048 kilometer dan 7 Februari pada jarak 365.314 kilometer.

”Karena saat ini Bulan relatif dekat dengan jarak terjauhnya, dampak terhadap pasang air laut tidak sebesar ketika Bulan di titik terdekatnya,” kata Moedji.

Muka air laut sama

Kepala Pusat Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) R Mulyono Rahadi Prabowo mengatakan, data Dinas Hidro-Oseanografi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut menyebutkan, tinggi pasang air laut di pantai utara Jakarta mencapai maksimum pada 24-25 Januari setinggi 1,1 meter dari kondisi normal. Pada 26-28 Januari berkisar 1 meter.

Pada 27 Januari, air laut mulai naik pukul 05.00 dan mencapai puncak pukul 08.00-11.00. Setelah itu air laut surut lagi.

Tinggi muka air laut saat banjir besar pekan lalu dengan yang diisukan akan terjadi akhir pekan ini sama.

Banjir besar yang melanda Jakarta pada 15-17 Januari terjadi beberapa hari setelah pasang naik maksimum air laut saat Bulan mati. Fase Bulan mati terjadi pada 13 Januari. Saat itu, ketinggian air laut 1-1,1 meter pada 10-13 Januari.

Artinya, faktor curah hujan akan lebih berperan pada banjir tidaknya Jakarta. Pekan lalu, hujan dengan intensitas tinggi (lebih dari 100 milimeter per hari) terjadi merata mulai kawasan Puncak, Bogor, Depok, hingga Jakarta.

Pada akhir pekan ini hingga awal pekan depan, prakiraan BMKG menunjukkan, intensitas hujan tinggi berpotensi terjadi di Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Bogor bagian selatan. Di wilayah Jakarta lain dan sekitar Jakarta, intensitas hujan ringan-sedang.

”Saat ini hingga awal Februari adalah puncak musim hujan. Karena itu, potensi terjadi hujan sedang hingga lebat tinggi,” kata Prabowo.

Cuaca laut

Pasang naik maksimum akan menimbulkan rob atau limpasan air laut ke daratan jika pada saat bersamaan kecepatan angin di laut dan gelombang laut tinggi. Terlebih lagi jika ada badai siklon tropis di Laut China Selatan.

Tingginya kecepatan angin menentukan ketinggian gelombang yang terjadi. Jika muka laut sudah tinggi akibat pasang naik maksimum dan gelombang lautnya tinggi, dampaknya di darat akan sangat besar.

Banjir rob di pantai utara Jakarta sebenarnya peristiwa rutin. Waktu terjadinya rob umumnya Juni-Agustus saat musim kemarau di Jakarta dan musim panas di belahan Bumi utara. Ketika itu, potensi munculnya siklon tropis di Laut China Selatan sangat tinggi.

Saat ini, potensi siklon tropis ada di Samudra Hindia di selatan Jawa. Karena itu, badai ini tidak memberikan dampak besar bagi perairan Jakarta.

Peneliti Meteorologi Maritim BMKG Andri Ramadhani mengatakan, karakter banjir rob di Jakarta berbeda dengan daerah lain di pantai utara Jawa. Meski sama-sama dipicu oleh tinggi muka air laut, kecepatan angin laut, dan tingginya gelombang laut, rob di Jakarta juga dipicu gelombang alun dari Laut China Selatan.

”Gelombang alun yang menerpa Jakarta merupakan rambatan dari gelombang tinggi di Laut China Selatan akibat badai siklon tropis,” katanya.

Menurut Prabowo, selama akhir pekan ini hingga awal pekan depan belum terlihat adanya bibit siklon tropis di atas Laut China Selatan. Kecepatan angin di wilayah tersebut di bawah 25 knot (46 kilometer per jam). Tinggi gelombang sekitar 3 meter.

Keadaan di Laut China Selatan harus diwaspadai jika tinggi gelombangnya 5-6 meter dan kecepatan angin di atas 25 knot.

Relatif tenangnya kondisi Laut China Selatan membuat perairan utara Jakarta relatif aman. Kecepatan angin sekitar Teluk Jakarta, pekan ini, 5-15 knot (9 km per jam hingga 28 km per jam). Tinggi gelombang di Laut Jawa normal, 2-3 meter.

Kewaspadaan harus dilakukan jika perairan Jakarta memiliki angin berkecepatan 15-25 knot (28 km per jam hingga 46 km per jam) dan tinggi gelombang lebih dari 3 meter.

Data menunjukkan, tidak ada aspek astronomis dan meteorologis yang perlu dikhawatirkan berlebih sebagai akibat naiknya muka air laut di perairan utara Jakarta.

Meski demikian, kewaspadaan tetap diperlukan karena risiko bencana tetap ada. Prediksi ini belum memperhitungkan kerusakan lingkungan dan kesiapan infrastruktur menghadapi bencana yang mungkin terjadi. ”Yang penting, jangan panik,” kata Andri.
Sumber :
Kompas Cetak
Editor :
yunan

Halaman