Laut merupakan gambaran nyata mengenai permukaan bumi, dan sekitar 70% dari permukaan bumi berupa air, dimana permukaan air terdapat endapan pasir laut, dasar lembah yang masing-masing memiliki cirri topografi yang berbeda.
Laut merupakan suatu bagian yang saling berhubungan sehingga memiliki proses yang lebih variatif, tergantung pada lokasi yang ada di sekelilingnya di samping proses pergerakan aliran air secara global. Oleh karena itu, dalam mempelajari laut diperlukan berbagai disiplin ilmu yang biasa disebut dengan ilmu multi disipliner. Adapun ilmu pendukungnya yaitu fisika oceanografi, geologi oceanografi, kimia oceanografi, dan biologi oceanografi. Ilmu tersebut digunakan untuk lebih membantu dalam mempelajari laut.
Permukaan bumi yang memiliki laut lebih besar (sekitar 70 %) jika dibandingkan dengan luas daratan yang hanya sekitar 30 %, maka dari sini dapat diketahui bahwa kehidupan mahkluk hidup di muka bumi termasuk juga dengan manusia sangatlah dipengaruhi oleh keadaan laut, misalnya oleh adanya arus laut, penguapan air laut, gelombang laut, dan sebagainya. Sehingga sangatlah penting dalam mempelajari ilmu memngenai keadaan laut atau oceanografi.
Wilayah perairan merupakan media yang rentan terhadap pencemaran. Berbagai jenis pencemar baik yang berasal dari sumber perumahan, industri, gejala alam, dan lainnya banyak memasuki badan air. Setelah terakumulasi maka secara langsung ataupun tidak langsung pencemar tersebut akan berpengaruh terhadap kualitas air.
Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang. Organisme yang termasuk makrozoobentos diantaranya adalah: Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida. Klasifikasi benthos menurut ukurannya : Makrobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih besar dari 1 mm (0.04 inch), contohnya cacing, pelecypod, anthozoa, echinodermata, sponge, ascidian, and crustacea. Meiobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran antara 0.1 - 1 mm, contohnya polychaete, pelecypoda, copepoda, ostracoda, cumaceans, nematoda, turbellaria, dan foraminifera. Mikrobenthos merupakan benthos yang memiliki ukuran lebih kecil dari 0.1 mm, contohnya bacteri, diatom, ciliata, amoeba, dan flagellata.
Hewan bentos hidup relatif menetap, sehingga baik digunakan sebagai petunjuk kualitas lingkungan, karena selalu kontak dengan limbah yang masuk ke habitatnya. Kelompok hewan tersebut dapat lebih mencerminkan adanya perubahan faktor-faktor lingkungan dari waktu ke waktu karena hewan bentos terus menerus berada dalam air yang kualitasnya berubah-ubah.
Keberadaan hewan bentos pada suatu perairan, sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan, baik biotik maupun abiotik. Faktor biotik yang berpengaruh diantaranya adalah produsen, yang merupakan salah satu sumber makanan bagi hewan bentos dan interaksi spesies serta pola siklus hidup dari masing-masing spesies dalam komunitas. Adapun faktor abiotik adalah fisika-kimia air yang diantaranya: suhu, arus, oksigen terlarut (DO), kebutuhan oksigen biologi (BOD) dan kimia (COD), serta kandungan nitrogen (N), kedalaman air, dan substrat dasar.
Makrozoobentos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif) maka penyebarannya juga sempit. Makrozoobenthos yang memiliki toleran lebih tinggi maka tingkat kelangsungan hidupnya akan semakin tinggi. Tingkat pencemaran terhadap perairan dapat dilihat dengan identifikasi makrozoobenthos yang terdapat di wilayah tersebut.