Sabtu, 13 Februari 2010

Pemanfaatan Pantai Karst Kabupaten Gunung Kidul

PEMANFAATAN PANTAI KARST KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Dra. Astrid Damayanti, M.Si , Ranum Ayuningtyas, S.Si, Anindita Dyah K, S.Si
e-mail : astridd_maya@yahoo.com, ranum.tiga@gmail.com, misao_sikepang@yahoo.com
Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia

ABSTRAK

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki panjang pantai 95.181 km (Anonim, 2006) menempati posisi ke-4 setelah Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia. Pantai di Indonesia menawarkan beragam keindahan alamnya yang bernilai jual tinggi untuk kegiatan pariwisata, olahraga kebaharian, dan sangat potensial bagi pengembangan ekonomi nasional baik karena potensi ruang dan kekayaan alamnya maupun nilai estetikanya. Walaupun memiliki potensi yang besar, kegiatan ekonomi penduduk Indonesia di wilayah pantai masih berorientasi ke daratan (Damayanti, 2001).
Pulau Jawa yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi menyebabkan tingginya kepekaan pantai terhadap pencemaran dan gangguan lingkungan lainnya akibat pembangunan perkotaan, permukiman, perikanan dan pelabuhan serta pengrusakan lain yang mungkin ditimbulkan oleh pemanasan global. Kondisi tersebut juga berpotensi terjadi pada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di selatan Pulau Jawa yang pantainya menghadap ke Samudera Hindia. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kondisi pantai yang berbeda jika dibandingkan kondisi pantai di utara Jawa. Walaupun demikian, pantai di selatan Yogyakarta memiliki potensi yang sama dengan pantai di utara Jawa namun harus dibedakan cara pembangunan dan pemanfaatannya karena pantai di selatan Yogyakarta kondisi memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal kondisi lokasi (menghadap ke Samudera Hindia), geologi dan bathimetri pantai. Oleh karena itu informasi akan karakteristik lingkungan pantai sangat diperlukan agar pemanfaatan kekayaan alam menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan sehingga perubahan tataguna ruang tidak melebihi daya dukungnya
Kabupaten Gunungkidul, adalah salah satu kabupaten yang memiliki pantai yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Pantai di Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah yang memiliki karakteristik yang sangat khas dan berbeda dengan daerah lainnya, Gunungkidul merupakan daerah karst dan di bagian utaranya merupakan daerah alluvial yang keduanya memiliki karakteristik masing-masing. Wilayah karst yang terkenal tandus memiliki pantai yang juga memiliki sifat karst menyimpan banyak potensi untuk berbagai kegiatan ekonomi.
Pantai karst di Kabupaten Gunungkidul tepatnya Pantai Objek Wisata Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Ngandong, dan Sundak memiliki persamaan dalam hal kondisi geologi, genesa, dan proses pembentukan morfologi pantai, namun demikian untuk setiap pantainya memiliki karakteristik lingkungan pantai yang berbeda-beda. Perbedaan karakteristik lingkungan dibuktikan dengan terdapatnya perbedaan bentuk pantai dan diameter butir sedimen, perbedaan ini juga harus diketahui kaitannya dengan kondisi gelombang, arus laut, suhu, salinitas, dan pH laut pada masing-masing pantainya. Dengan mengetahui kaitan antara kondisi fisik dan kimia pantai, maka kelak juga diketahui potensi masing-masing pantai. Dengan demikian diharapkan daerah tersebut dapat membangun dan mengembangkan kemampuan ekonomi disesuaikan dengan kondisi lingkungannya, berkelanjutan dengan memperhatikan kondisi dan menjaga keseimbangan lingkungan hidup.

1.2 Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Pantai yang menjadi daerah penelitian masing-masing memiliki persamaan dalam hal kondisi geologi, genesa, dan proses pembentukan morfologi pantai, namun memiliki perbedaan karakteristik lingkungan secara fisik dan kimiawi. Adapun pertanyaan penelitian yaitu :
1. Bagaimanakah karakteristik lingkungan pantai karst di daerah penelitian ?
2. Bagaimana pemanfaatan pantai karst di daerah penelitian saat ini dan dimasa yang akan datang ?

1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui dan memahami keadaan atau kondisi morfologi lingkungan dan proses yang terjadi pada pantai karst yang menjadi daerah penelitian. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan masyarakat sekitar pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, agar pemanfaatan dan pengembangan potensi kawasan pantai di daerah karst tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungannya.
Sedangkan sasaran penelitian ini adalah :
1. Mengetahui karakteristik lingkungan pantai karst di daerah penelitian
2. Mengetahui pemanfaatan pantai karst di daerah penelitian

1.4 Batasan dan Definisi Oprasional
1. Pantai adalah bagian dari muka bumi yang merupakan garis khayal tempat bertemunya daratan dan perairan, dari muka air laut rata-rata terendah sampai muka air laut rata-rata tertinggi (Sandy, 1996).
2. Karst adalah adalah bentukan muka bumi yang sangat unik yang merupakan hasil dari erosi bawah tanah yang memiliki batuan induk seperti limestone dan marbel yang terlarutkan oleh air.
3. Pantai karst adalah bagian dari muka bumi mulai dari muka air laut rata-rata terendah sampai muka air laut rata-rata tertinggi. Pada bagian tersebut terdapat akumulasi dari sedimen lepas seperti kerikil, pasir, yang memiliki karakteristik bentukan dari hasil pelarutan kapur oleh agen air yang memiliki bahan batuan induk kebanyakan seperti limestone, marbel dan dolomite.
4. Karakteristik lingkungan pantai adalah gambaran kondisi lingkungan pantai yang khas mencakup kondisi fisik dan kimianya berupa : lereng gisik, energi gelombang, diameter butir sedimen, salinitas air laut, suhu air laut, dan pH air laut.
5. Lereng Gisik/pantai adalah besar sudut yang terbentuk antara permukaan pantai dengan sumbu garis datar dalam satuan derajat.
6. Energi gelombang adalah daya hasil dari gangguan yang merambat pada media air laut yang berpindah dari satu tempat kepada tempat lain tanpa mengakibatkan partikel medium berpindah secara permanen; yaitu tidak ada perpindahan secara masal dalam satuan joule.
7. Diameter butir sedimen adalah ukuran segmen garis yang melalui titik pusat dan menghubungkan dua titik pada butir sedimen dalam satuan milimeter.
8. Salinitas air laut adalah kadar garam yang terkandung dalam air laut dalam satuan permil (‰)
9. Suhu air laut adalah indikasi jumlah energi (panas) yang terdapat dalam satu sistem atau massa dalam satuan derajat celcius (°C)
10. pH air laut adalah derajat keasaman air laut

1.5 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Daerah penelitian meliputi pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Ngandong dan Sundak di Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan menekankan pada pendekatan kualitatif sebagai penunjang dari hasil analisis spasial.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. lereng pantai, dengan parameter besar sudut lereng gisik/pantai dalam satuan derajat (°) kemudian dikonvert ke dalam satuan persen (%);
2. energi gelombang, dengan parameter :
a. besar energi gelombang dalam satuan joule;
b. tipe gelombangnya;
3. butir sedimen, dengan parameter :
a. diameter butir sedimennya dalam satuan millimeter (mm);
b. warna butir sedimen untuk mengetahui asal sedimennya.
4. Salinitas air laut, dengan parameter banyaknya garam yang terlarut dalam 1 iter air laut
5. Suhu air laut, dengan parameter jumlah energi (panas) yang terdapat pada luasan area tertentu dalam satuan derajat celcius (°C)
6. Derajat keasaman air laut, dengan parameter kandungan elektrolit H+ yang terdapat pada air laut pada luasan area tertentu

Setelah mendapatkan data sebagai parameter dari variabel-variabel, data yang didapatkan kemudian dikelaskan dan dapat dibuat matriksnya. Pengkelasan datanya seperti berikut :
Tabel 1. Kelas Lereng Gisik/pantai
Lereng Gisik
Presentase Lereng (%) Kategori
0 - 2 Datar
2 - 15 Datar Bergelombang
15 - 25 Bergelombang
25 - 40 Terjal
> 40 Curam
Sumber : Pethick, 1984

Tabel 2. Kelas Energi Gelombang
Energi Gelombang
Joule Kategori
≥ 1871 Kuat
< 1871 Lemah
Sumber : Pethick, 1984

Tabel 3. Kelas Diameter Butir Sedimen
Diameter Butir Sedimen
Phi Kategori
-1 – 0 Sangat Kasar
0 - +1 Kasar
+1 - + 2 Medium
+2 - +3 Halus
+3 - +4 Sangat Halus
Sumber : Wenthworth dalam Pethick, 1984





Tabel 4. Kelas Salinitas Air Laut
Salinitas
‰ Kategori
< 28 ‰ Rendah
28 - 34 ‰ Sedang
> 34 ‰ Tinggi
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan

Tabel 5. Kelas Suhu Air Laut
Suhu
°C Kategori
> 35 °C Tinggi
26 - 35 °C Sedang
< 26 °C Rendah
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan

Tabel 6. Kelas Keasaman Air Laut
Derajat Keasaman
pH Kategori
8,5 - 9 Basa tinggi
7,5 - 8,5 Basa rendah
7 Netral
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan

1.6 Analisis Data
Penelitian mengkaji data-data yang sudah diolah secara spasial yang kemudian dianalis lebih lanjut untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian dengan cara analisis deskriptif secara spasial untuk mengetahui karakteristik lingkungan masing-masing pantai dengan mendeskripsikan bagaimana kondisi lereng gisik/pantai, butir sedimen, energi gelombang, salinitas air laut, suhu air laut dan pH air laut pada masing masing pantai dan kaitan dengan pemafaatannya.

BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil survey lapang, pengolahan data dan hasil analisis spasial didapatkan informasi bahwa karakteristik lingkungan pantai karst pada wilayah penelitian dari barat ke timur memiliki karakteristik lingkungan pantai yang berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pemanfaatan pantai oleh warga yang tinggal di sekitar pantai. Berikut akan dibahas secara rinci karakteristik lingkungan dan pemanfaatan masing-masing pantai :
2.1 Karakteristik Lingkungan Pantai Baron dan Pemanfaatannya
Pantai Baron adalah pantai yang letaknya paling barat pada daerah penelitian. Pantai Baron memiliki kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 4,86° atau 8,5% yang termasuk jenis lereng datar bergelombang (lihat Peta 4). Pantai Baron memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada pantai Baron adalah 61 m, lebar sedimen Pantai Baron adalah lebar sedimen yang paling besar pada daerah penelitian. Hal ini didukung dengan kondisi Pantai Baron yang berlereng landai sehingga membuat jangkauan pasang surut litoral pantai sangat jauh. Berdasarkan hasil observasi dan perhitungan, jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Baron sekitar 61 meter.
Jangkauan pasang surut yang cukup panjang memberikan banyak energi tambahan gelombang laut pada Pantai Baron untuk mengikis pantainya. Energi gelombang pada Pantai Baron adalah 2193 joule (termasuk kedalam kelas energi gelombang kuat, lihat Peta 5), energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai. Gelombang tersebut tidak lepas dari kontribusi angin yang berhembus pada Pantai Baron yang kecepatannya sebesar 44,2 meter tiap detik. Pantai Baron yang yang bentuk pantainya menjorok ke darat dan memiliki muara sungai membuat pantainya memiliki fluktuasi yang cukup tinggi terhadap perubahan bentuk aliran sungainya. Muara sungai memberikan pengaruh yang cukup kuat pada karakteristik sedimen pada pantai dan aliran sungai menuju samudera. Pengaruh ombak dan tidak terdapatnya halangan pada pantai (barrier) membuat Pantai Baron sangat mudah tererosi namun dengan tenaga yang jauh lebih kecil karena lereng gisik pantai yang landai.
Diameter butir sedimen pantai Baron sebesar 0,515 mm, ukuran butir sedimen yang cukup halus untuk pantai karst. Butir sedimen Pantai Baron termasuk ke dalam jenis sedimen pasir medium (lihat Peta 3) dengan Φ = 0.957 (skala Wenthworth) yang merupakan hasil bentukan dari 2 (dua) hal, yaitu sedimentasi materi yang diendapkan sungai bawah tanah yang bermuara ke pantai dan hasil pengikisan laut. Namun jika dibandingkan dengan kondisi butir sedimen pada pantai lain, butir sedimen pada Pantai Baron memiliki ciri khas, yaitu lebih halus dan berwarna lebih gelap (hitam). Warna butir sedimen Pantai Baron yang gelap menunjukkan bahwa butir sedimen tersebut berasal dari sungai yang bermuara di pantainya.
Pantai Baron memiliki kisaran salinitas antara 28 – 31 ‰. Bagian selatan memiliki nilai salinitas yang rendah. Hal ini disebabkan karena di pantai Baron terdapat muara sungai bawah tanah. Pada muara sungai ini terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dengan air laut sehingga salinitas airnnya pun menjadi lebih kecil dibandingkan dengan salinitas air di pantai-pantai lainnya di wilayah penelitian.
Suhu air laut di pantai Baron berkisar antara 26 - 30˚ C. Suhu udara di bagian utara dimana terdapat muara sungai bawah tanah lebih rendah dibanding bagian selatan.
Derajat keasaman air laut di pantai Baron merupakan yang terendah diantara pantai-pantai di Gunungkidul yaitu sebesar 7,5. Hal ini disebabkan oleh adanya muara sungai bawah tanah di pantai Baron yang menyebabkan terjadinya percampuran antara air tawar dengan air laut. Keasaman air laut di bagian selatan pantai Baron atau di dekat muara sungai bawah tanah mendekati 7. Sedangkan di bagian utaranya yaitu wilayah yang jauh dari muara sungai besarnya PH berkisar antara 7,5 dan 8.
Pantai Baron yang memiliki jangkauan pasang surut yang cukup panjang serta kondisi lereng pantai yang landai menjadikan pantai ini mudah untuk dilewati perahu nelayan penduduk sekitar, oleh karena itu kegiatan perikanan laut tangkap menjadi salah satu pemanfaatan pantai oleh warga sekitar yang mendatangkan kesejahteraan penduduk sekitarnya. Selain itu pula, terdapatnya fenomena muara sungai di pantai yang memiliki debit air yang deras dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai sumber air bersih dan pembangkit tenaga listrik. Pemanfaatan pantai Baron lainnya adalah untuk pariwisata, karena kondisi alam pantai Baron yang indah dengan butir sedimen yang halus. Dengan adanya pemanfaatan pantai sebagai pariwisata, penduduk juga memiliki kesempatan lebih untuk menambah pendapatan dengan menjadi penjual souvenir pariwisata pantai serta fasilitas penunjang pariwisata lainnya seperti restoran atau rumah makan, penginapan atau resort dan lainnya.

2.2 Karakteristik Lingkungan Pantai Kukup dan Pemanfaatannya
Pantai Kukup memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 6,74° atau 11,8% yang termasuk ke dalam kelas lereng datar bergelombang. Pantai Kukup memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Kukup adalah 18,5 meter, dan jangkauan pasang surut litoral pada pantainya 18,4 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron, hal ini disebabkan oleh lereng Pantai Kukup yang curam.
Energi gelombang pada Pantai Kukup adalah 3560 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone, akibat gelombang, arus laut dan kecepatan anginnya sebesar 69 meter perdetik.
Pantai Kukup memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm dengan warna sedimen yang cerah, butir sedimen Pantai Kukup termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Warna butir sedimen yang cerah diakibatkan karena tidak adanya muara sungai pada pantai Kukup, hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen dari Pantai Kukup berasal dari kikisan dasar laut. Namun berdasarkan hasil pengolahan data di laboratorium terdapat butir sedimen yang berwarna hitam yang jumlahnya sangat sedikit (minoritas). Hal ini disebabkan sampel sedimen tersebut diambil dekat dengan karang pantai. Hal ini juga menunjukkan bahwa butir sedimen yang dekat dengan cliff berasal dari hasil kikisan tebing pantai tersebut.
Berdasarkan pengambilan sampel air laut di sekitar pantai Kukup, maka didapatkan salinitas air laut sekitar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Kukup berkisar antara 32 – 35 ˚ C. Suhu air perairan yang terlindung oleh pulau-pulau karang lebih rendah dibanding dengan suhu air di perairan yang terbuka. Derajat keasaman air laut di perairan pantai Kukup adalah sebesar 9.
Pantai Kukup adalah salah satu pantai tujuan wisata di Kabupaten Gunungkidul yang sangat menarik, pada pantai ini terdapat pulau karang dan memiliki karang yang menempel tepat pada pinggir pantainya. Pemanfaatan pantai sebagai kawasan tujuan pariwisata juga dapat dimanfaatkan penduduk dengan menyediakan fasilitas penunjang pariwisata seperti penginapan, restoran atau rumah makan, tempat belanja souvenir pantai, serta show room ikan hias, karena di pantai Kukup banyak nelayan ikan yang sengaja menangkan biota laut yang terjebak di karang-karang ketika pantai surut, biasanya biota ini memiliki kondisi fisik yang cantik dengan warna-warna yang bervariasi seperti ikan, bintang laut, dan bulu babi.
Selain pemanfaatan pantai sebagai tujuan pariwisata, dan ikan hias laut, pantai Kukup juga dapat dimafaatkan sebagai sumber budidaya rumput laut. Pantai Kukup yang memiliki karang yang menempel dengan pantai menjadi habitat yang baik bagi rumput laut didukung pula dengan kondisi kimia air laut pada pantai ini yang cocok untuk budidaya rumput laut. Namun pemanfaatan rumput laut saat ini tidak maksimal, dan pemanenannya masih menggunakan alat yang dapat merusak substratnya yaitu karang. Oleh karena itu hendaknya pemafaatan pantai sebagai budidaya rumput laut dapat diusahakan agar lebih maksimal lagi dengan menerapkan metode pengembagan budidaya rumput laut dengan alat pemanen yang tidak merusak karang sebagi substrat rumput lautnya.

2.3 Karakteristik Lingkungan Pantai Sepanjang dan Pemanfaatannya
Sesuai dengan namanya, Pantai Sepanjang adalah pantai yang bentuknya memanjang dari barat ke timur, dan tidak memiliki pulau karang yang menghalangi (tidak memiliki barrier). Pantai Sepanjang memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 21,28° atau 11,8% termasuk ke dalam kelas lereng curam. Pantai Sepanjang memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Sepanjang adalah 10,6 m, dengan jangkauan pasang surut litoral padanya hanya 9,82 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan pantai yang lainnya, hal ini disebabkan oleh lereng pantai Sepanjang yang curam.
Dengan kondisi jangkauan pasang surut yang kecil, pantai Sepanjang tidak mendapatkan kontribusi yang besar dalam menambah energi pada pantainya untuk proses pengikisan. Energi gelombang pada Pantai Sepanjang adalah 4036 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai yang dipengaruhi juga oleh kecepatan angin yang berhembus dengan kecepatan 43.9 meter tiap detik.
Pantai Sepanjang memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm, butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya yang merupakan hasil dari pengikisan dasar laut yang diendapkan pada pantai.
Besar salinitas air laut di perairan pantai Sepanjang berkisar antara 33 - 34 ‰. Semakin menjauhi garis pantai, salinitas air laut semakin tinggi. Suhu air laut perairan pantai Sepanjang berkisar antara 33 - 35 ˚ C. Derajat keasaman air laut perairan pantai Sepanjang berkisar antara 8 – 9.
Kondisi fisik pantai Sepanjang dengan lereng yang curam, jangkauan pasang surut yang pendek, energi gelombang yang kuat membuat pantai ini tidak dapat dimanfaatkan untuk bidang perikanan tangkap. Namun kondisi kimia air lautnya cocok untuk budidaya rumput laut, tetapi pemanfaatan rumput laut juga kurang dapat dimaksimalkan karena para petani rumput lautnya enggan datang ke pantai ini karena akses jalan menuju pantainya yang sulit. Dimasa yang akan datang hendaknya diadakan pembangunan jalan sebagai akses untuk menuju ke pantai sehingga dapat meningkatkan potensi pemanfaatan pantai sebagai kawasan pariwisata, budidaya rumput dan cagar alam pantai karst.

2.4 Karakteristik Lingkungan Pantai Drini dan Pemanfaatannya
Pantai Drini adalah pantai yang memiliki topografi berombak (undulating) dengan kemiringan lereng gisik sebesar 10° atau 17,63% termasuk ke dalam kelas lereng bergelombang. Jenis batuannya adalah batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat yang membentuk jenis tanah Mediteran.
Energi gelombang pada Pantai Drini adalah 908 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah, hal ini juga didukung dengan kecepatan angin yang berhembus yaitu 55 meter tiap detik. Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks hempasan gelombang (K), maka diketahui bahwa gelombang laut pada Pantai Drini memiliki nilai 0,003 termasuk tipe plunging karena nilai indeksnya di antara 0,003 – 0,007 (lihat Peta 5).
Pantai Drini memiliki diameter butir sedimen sebesar 0,725 mm. Butir sedimen pantai ini termasuk ke dalam jenis sedimen pasir kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = 0.464 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya, hal ini menunjukan bahwa butir sedimen pada Pantai Drini berasal dari hasil kikisan cliff dan dasar laut. Kecuali pada bagian tengah pantai terdapat pasir yang diameternya sangat halus dan berwarna hitam, sama seperti pasir yang terdapat pada Pantai Baron. Pasir tersebut terdapat pada bagian pantai Drini yang diperkirakan sebelumnya adalah sebuah muara sungai bawah tanah, yang saat ini muara sungainya sudah tidak lagi mengendapkan materi yang dikandungnya, karena debit airnya sangat kecil.
Sama seperti sebagian besar pantai di Gunungkidul, besar salinitas air laut di pantai Drini berkisar antara 33 - 34 ‰. Suhu air laut di pantai ini berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Suhu air laut di bagian timur perairan pantai Drini lebih besar jika dibandingkan dengan suhu air laut pada bagian baratnya. Pada bagian barat perairan pantai Drini suhu air berkisar antara 33 – 34 ˚ C sedangkan pada bagian timur perairan suhu air laut berkisar antara 36 – 38 ˚ C. Derajat keasaman air laut di pantai Drini berkisar antara 8,5 – 9.
Pantai Drini dimanfaatkan sebagai pantai perikanan tangkap, walaupun kondisi fisik pantai Drini yang berlereng curam, namun bagian barat pantainya tidak memiliki karang yang menempel pada pantai, sehingga memudahkan nelayan untuk menangkap ikan menggunakan perahu. Oleh karena pantai Drini dapat menghasilkan komoditas perikanan, di pantai Drini terdapat pasar lelang ikan juga rumah makan. Bagian timur pantai yang terdapat karang yang menempel di pinggir pantai, sehingga pada bagian tersebut tidak dijadikan tempat menaruh perahu tetapi menjadi kawasan yang terlindung dari ombak yang didukung dengan kondisi kimia air laut yang cukup kondusif sehingga banyak ditumbuhi oleh rumput laut. Pemanfaatan budidaya rumput laut dapat dikembangkan dengan penanaman yang terawat serta metode pemanenan yang tetap menjaga kelestarian karang. Pemanfaatan pantai Drini juga dapat dikembangkan lagi ke bidang pertanian untuk budidaya tanaman drini yang merupakan tanaman khas dari pantai ini yang memiliki khasiat obat terhadap racun ular.

2.5 Karakteristik Lingkungan Pantai Krakal dan Pemanfaatannya
Pantai Krakal adalah pantai bentuk teluk yang membentuk sudut yang besar, sehingga memiliki pemandangan yang indah jika dilihat dari salah satu bagian ujung pantainya. Pantai Krakal memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 10,25° atau 18,08% termasuk ke dalam kondisi lereng pantai yang bergelombang. Pantai Krakal memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat, dengan jenis batuan dasar berupa gamping, maka tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada pantai Krakal adalah 13.9 m, jangkauan pasang surut litoral pada pantai Krakal sekitar 13,4 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron, hal ini disebabkan oleh lereng pantai Krakal yang curam.
Energi gelombang pada pantai Krakal adalah 166 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya dari garis pantai. Kecepatan angin di pantai Krakal adalah 73.4 meter per detik.
Pantai Krakal memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm, butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen pada pantai Krakal berasal dari hasil kikisan dasar laut yang diendapkan di pantai.
Air laut di perairan pantai Krakal memiliki salinitas sebesar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Krakal berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Semakin menjauhi garis pantai, suhu air laut semakin kecil. Besar derajat keasaman perairan pantai Krakal berkisar antara 8 – 8,5. nilai derajat keasaman di sepanjang pantai Krakal tidak memiliki variasi yang besar.
Pantai Krakal merupakan pantai yang memiliki bentuk menjorok ke darat seperti teluk yang besar, dengan karang yang menempel pada pinggir pantainya. Kondisi ini membuat pantai Krakal memiliki energy gelombang yang kecil sehingga energy yang sampai pada garis pantainya juga kecil, hal tersebut membuat pantai krakal mudah untuk dijadikan habitat hidup rumput laut. Hal ini juga didukung dengan terdapatnya karang yang menjadi substrat hidupnya rumput laut. Pemanfaatan rumput laut pada pantai Krakal dibilang sudah lebih maju dibandingkan dengan pantai yang lain, karena sudah dikelola dengan baik oleh Universitas Gadjah Mada untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein.
Namun pantai Krakal belum memiliki akses listrik yang membuat pantai indah ini belum dapat mengembangkan pemanfaatannya ke bidang pariwisata. Pemanfaatan lain pantai Krakal adalah bidang pertanian ikan tangkap tanpa kapal dan tambang pasir serta cangkang kerang untuk dijual ke pengrajin souvenir pariwisata pantai yang biasanya terdapat di pantai Baron.

2.6 Karakteristik Lingkungan Pantai Ngandong dan Pemanfaatannya
Pantai Ngandong adalah pantai kecil yang terletak di antara pantai Krakal dan Sundak. Pantai Ngandong memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 13° atau 23,08% termasuk ke dalam kelas lereng pantai bergelombang (lihat gambar 9). Pantai Ngandong memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Ngandong adalah 12,33 meter, dengan jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Ngandong sekitar 12 meter. Hal ini disebabkan oleh lereng Pantai Ngandong yang curam. Jangkauan pasang surut yang pendek tidak memberikan kontibusi banyak untuk tambahan energi gelombang pada pantainya.
Energi gelombang pada Pantai Ngandong adalah 2193 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai. Akibat dari kekerasan batuan yang tidak homogen, membuat Pantai Ngandong memiliki bentuk pantai yang tidak teratur. Hal ini juga diperkuat dengan tidak terdapatnya penghalang (barrier) di muka pantai yang membuat daratan pada pantai mudah tererosi oleh ombak.
Pantai Ngandong memiliki diameter butir sedimen sebesar 0,725 mm, butir sedimen pantai ini termasuk ke dalam jenis sedimen pasir kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = 0.464 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen pada Pantai Ngandong berasal dari hasil kikisan dasar laut yang kemudian diendapkan di pantai.
Pantai Ngandong memiliki salinitas air laut sebesar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Ngandong rata-rata sebesar 33 ˚ C. Nilai derajat keasaman perairan pantai Ngandong sebagian besar bernilai 8.
Pemanfaatan pantai Ngandong sangat terbatas, yaitu hanya dibidang perikanan tangkap saja, karena hamper setengah daerah pantai Ngandong merupakan pantai pribadi (private beach) yang kurang dapat diakses oleh masyarakat umum. Pantai Ngandong tidak memiliki banyak karang yang menempel pada garis pantainya sehingga memudahkan nelayan untuk menjalankan perahunya. Kondisi inilah yang membuat pantai Ngandong cukup produktif dalam memanfaatakan potensi pantai dibidang perikanan sampai memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI).

2.7 Karakteristik Lingkungan Pantai Sundak dan Pemanfaatannya
Pantai Sundak adalah pantai yang terletak paling timur pada daerah penelitian. Pantai Sundak memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 19.87° atau 36,02% termasuk ke dalam kelas lereng terjal (lihat gambar 10a dan 10b). Pantai Sundak memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Sundak adalah 12,7 meter, dan jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Sundak sekitar 12,685 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron padahal lereng Pantai Sundak cukup landai. Jangkauan pasang surut yang pendek khusus untuk Pantai Sundak dikarenakan oleh Pantai Sundak memiliki karang yang menempel tepat di pinggir pantainya, sehingga bagian sedimen yang terdapat di pantai lebih sedikit dibandingkan dengan panjang sedimen yang terdapat di karangnya. Jangkauan pasang surut Pantai Sundak tidak memberikan kontribusi yang besar pada penambahan energi gelombang di Pantai Sundak.
Energi gelombang pada Pantai Sundak adalah 293,22 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai yang menghancurkan daratan (abrasi pantai atau erosi laut) yang diperkuat dengan tidak adanya halangan (barrier) pada pantainya. Pantai Sundak memiliki kekerasan batuan yang cukup homogen. Hal ini terbukti dari bentuk Pantai Sundak yang memanjang teratur.
Pantai Sundak memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm. Butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Butir sedimen Pantai Sundak berasal dari hasil kikisan dasar laut yang kemudian diendapkan di pantai.
Pantai Sundak memiliki salinitas air laut antara 32 – 33 ‰. Suhu perairan berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Di perairan yang terlindungi suhu air laut lebih rendah dibanding dengan di perairan yang tidak terlindungi. Derajat keasaman perairan pantai Sundak berkisar antara 7,5 – 8,5. Pada bagian barat pantai Sundak dimana terdapat arch nilai derajat keasaman lebih rendah dibanding di bagian lainnya.
Pantai Sundak yang terdiri atas 2 bagian, yaitu pantai Sundak bagian barat yang dimanfatkan pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul sebagai kawasan pariwisata, dan pantai Sundak bagian timur yang merupakan pantai milik pribadi (private beach) yang sudah dimanfaatkan sebagai resort yang tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Pantai Sundak memiliki karang yang menempel pada pinggir pantainya sehingga pemanfaatan pantai untuk perikanan tidak dapat dilakukan, melainkan pemanfaatan budidaya rumput laut yang cukup besar dan tambang pasir serta cangkang kerang yang memang banyak terdapat pada pantai pantai Sundak (bagian barat) menjadikan pantai Sundak sebagai salah satu pemasok bahan mentah souvenir pariwisata pantai.

BAB III
KESIMPULAN

Karakteristik lingkungan pantai karst pada daerah penelitian dari barat ke timur memiliki karakteristik pantai yang berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pemanfaatan pantai oleh warga yang tinggal di sekitar pantai.
Pantai Karst di Kabupaten Gunungkidul dimanfaatakan untuk bidang perikanan tangkap, budidaya rumput laut, dan dijadikan cagar.



Peta – peta :


































DAFTAR PUSTAKA

Bird, E. C. F. 1984. “An Introduction to Coastal Geomorphology” . Third edition.
Damayanti, Astrid. 2001. “Karakteristik beberapa Pantai Potensial di Daerah Istimewa Yogyakarta”, Jurnal Geografi, 02(7), hal 8-17, Departemen Geografi UI, Depok.
Kusnadi, Rachmat. 2001. “Geografi”, Grafindo Media Pratama, Bandung.
Longuet-higgins, M. 1970. “Longshore Currents Generated by Obluquely Incident Sea Waves” . J. Geopys Res
Pethick, John. 1984. “An Introduction to Coastal Geomorphology”, Edward Arnold, Mariland.
Purnama, Setyawan. 1992. “Petunjuk Praktikum Oseanografi”, Laboratorium Geomorfologi Dasar, Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Sandy, I. M. 1996. “Pantai dan Wilayah Pesisir. Dalam seminar sehari penerapan teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan pesisir ”, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta.
Sullivan, Dr. Donald. 2001. Coastal Geological Materials . National Park Service, Additional image courtesy of, University of Denver. http://www.teachersdomain.org/resources/ess05/sci/ess/earthsys/coastenv/index.html (25 Okt. 2007)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Halaman