Penetapan batas tertinggi laju erosi yang masih dapat dibiarkan atau ditoleransikan adalah perlu karena tidak mungkin menekan laju erosi menjadi nol dari tanah-tanah yang diusahakan untuk pertanian terutama pada tanah-tanah yang berlereng (Arsyad, 2000).
Hasil penelitian Hardjowigeno (1987) dapat ditetapkan besarnya T maksimum untuk tanah-tanah di Indonesia adalah 2,5 mm per tahun, yaitu untuk tanah dalam dengan lapisan tanah (subsoil) yang permeable dengan substratum yang tidak terkonsolidasi (telah mengalami pelapukan). Tanah-tanah yang kedalamannya kurang atau sifat-sifat lapisan bawah yang lebih kedap air atau terletak di atas substratum yang belum melapuk, nilai T harus lebih kecil dari 2,5 mm per tahun (Arsyad, 2000).
Erosi wajar yang mempunyai laju seimbang dengan laju pembentukan tanah justru perlu ada karena sangat berperan penting dalam peremajaan tanah, sehingga tingkat kesuburan dan produktivitas tanah tidak terganggu dan dapat dipertahankan dari waktu ke waktu.secara alami laju kehilangan tanah yang diperkenankan bergatung pada kondisi tanah. Apabila suatu tanah profilnya dalam dan tingkat kesuburannya sama pada seluruh kedalaman, maka kehilangan tanah sebesar 25 mm selama 30 tahun dampaknya tidak sama dengan kehilangan tanah yang ada pada profil dangkal.
Cara penetapan besar erosi wajar yang dilakukan sampai ssat ini hanya berdasarkan pikiran secara kualitatif. Arsyad memperkirakan kecepatan laju erosi wajar di Indonesia sebesar dua sampai tiga kali nilai di Amerika Serikat, yaitu berkisar 15-33 ton/ha/th atau 1,25-2,5 mm/th (Arsyad:1989).
Besarnya erosi diperbolehkan (EDP) dihitung dengan menggunakan metode Hammer (1981) yang berdasarkan nilai kedalaman ekuivalen tanah dan umur kelestarian tanah yang diharapkan. Kedalaman ekuivalen diperoleh dari atau dengan mengalihkan data kedalaman tanah hasil dari pengukuran dengan faktor kedalam yang besarnya untuk masing-masing jenis tanah berbeda. Kelestarian sumberdaya tanah dimaksudkan untuk menghitung harapan umur sumberdaya tanah agar tetap produktif. Hammer menyatakan bahwa 300 tahun telah relatif cukup untuk menghtung EDP guna perencanaan jangka panjang. Menentukan EDP dapat menggunakan metode yang dikemukakan oleh Hammer. Metode Hammer tersebut adalah sebagai berikut:
EDP=(kedalaman tanah ekuivalen)/(umur kelestarian tanah)
Kedalaman tanah ekuivalen merupakan perkalian antara kedalaman tanah efektif dengan faktor kedalaman. Kedalaman tanah efektif adalah kedalaman tanah sampai pada lapisan tanah penghambat pertumbuhan perakaran. Faktor kedalaman adalah indeks yang didasarkan pada resiko kerusakan tanah sebagai fungsi kedalaman.