Faktor yang Mempengaruhi Erosi
Proses terjadinya erosi secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor. Kedua faktor yang mempengaruhi terjadinya erosi adalah:


1. Erosivitas Hujan (R)
Erosivitas berarti kemampuan hujan untuk menimbulkan erosi dan fungsi dari sifat fisik hujan seperti curah hujan, lama hujan, infiltrasi hujan , ukuran butir hujan dan kecepatan jatuhnya hujan. Walaupun curah hujan mempunyai kemampuan menimbulkan erosi, tetapi tidak setiap kejadian hujan akan menimbulkan erosi.
Hujan akan menimbulkan erosi apabila intensitasnya cukup tinggi dan jumlahnya banyak dalam jangka waktu yang relatif lama. Selain itu ukuran butir hujan sangat berperan dalam menentukan erosi. Energi kinetik air hujan yang merupakan penyebab utama dalam penghancuran agregat-agregat tanah besarnya tergantung pada diameter butir hujan, sudut datang, dan kecepatan jatuhan. Energi kinetik mencapai maksimum pada intensitas 50-100 mm/jam dan >250 mm/jam, sehingga kekuatan untuk merusak tanah juga semakin besar (Nugroho, 2002:6).

2. Erodibilitas dan Sifat Fisik Tanah (K)
Erodibilitas merupakan kemudahan suatu tanah untuk mengalami erosi. Suatu kejadian hujan dengan jumlah dan intensitas tertentu dapat menyebabkan tingkat erosi yang berbeda jika jatuh pada dua jenis tanah yang berbeda. Nilai erodibilitas yang tinggi (nilai K tinggi), dengan curah hujan yang sama akan lebih mudah tererosi daripada tanah dengan tingkat erodbilitas rendah (K rendah).
Erodibilitas menyangkut ketahanan tanah terhadap pelepasan dan pengangkutan, serta kemampuan tanah untuk menyerap air ke tanah, sehingga yang memberi pengaruh adalah karakteristik sifat fisik tanah meliputi tekstur, struktur, bahan organik, dan infiltrasi.
a. Tekstur Tanah
Tekstur tanah adalah perbandinga berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu masa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi pasir, debu, dan liat. Tanah terdiri dari bahan padat, cair, gas, dan jasad hidup. Bahan padat terdiri atas bahan organik dan anorganik. Bahan anorganik terdapat dalam bermacam-macam bentuk serta ukuran. Berdasarkan besar ukurannya dibagi dalam beberapa fraksi ata golongan. Fraksi batu >10mm, kerikil 2-10 mm, pasir 0,05-2 mm, debu 0,02-0,05 mm, dan liat <0,02 mm. Pasir, debu, dan liat merupakan fraksi utama (Kartasapoetra, 1987:10). Perbandingan relatif (dalam persen) antara fraksi pasir, debu, dan liat disebut dengan tekstur tanah.
Tanah yang bertekstur kasar (tanah berpasir) mempunyai kapasitas laju infiltrasi yang tinggi. Sehingga jika tanah tersebut dalam, maka erosi dapat diabaikan. Tanah yang bertekstur pasir halus juga mempunyai kapasitas infiltrasi yang tinggi tetapi jika terjadi aliran permukaan, amaka butir-butir halus ini akan mudah sekali terangkut. Sedangkan tanah yang mempunyai kadar liat tinggi umumnya lebih tahan terhadap erosi daripada tanah yang berkadar liat rendah (Juarti, 2004:28).

b. Struktur Tanah
Struktur tanah merupakan penyusunan butir-butir primer (pasir, debu, liat) menjadi butir sekunder (agreat, cold) dengan ruang pori diantaranya. Berdasarkan bentuk dan besarnya struktur tanah digolongkan atas tipe-tipe sebagai berikut:
1). Tipe lempeng (platy)
Agregat mempunyai ukuran horizontal lebih besar dari ukuran vertikal dan tipe ini dibedakan atas kelas-kelas:
Sangat tipis, kurang dari 1 mm
Tipis, antara 1-2 mm
Sedang, antara 2-5 mm
Tebal, antara 5-10 mm
Sangat tebal, lebih dari 10mm
2). Tipe Tiang
Ukuran agreat vertikal lebih dari horizontal, bentuknya dibedakan atas tipe prismatik yang ujungnya bersegi dan bertipe kolumner yang ujungnya membulat, dan masing-masing dibedakan lagi menurut kelas-kelas:
Sangat halus, panjangnya kurang dari 10 mm
Halus, antara 10-20 mm
Sedang, antara 20-50 mm
Kasar, antara 50-100 mm
Sangat kasar, lebih dari 100 mm

3). Tipe Gumpal (blockly)
Ukuran agreat vertikal lebih dan horizontal sama besar, bentuknya masih dibedakan berdasarkan ujung-ujungnya atas: gumpal bersudut dan gumpal membulat, dan masih dibedakan menurut besarnya, antara lain:
Sangat halus, kurang dari 5 mm
Halus, 5-10 mm
Sedang, 10-20 mm
Kasar, lebih dari 50 mm
4). Tipe Remah (crumb)
Berbentuk butir-butir tanah yang saling mengikat seperti irisan roti dan didibedakan lagi atas kelas-kelas:
Sangat halus, diameter butir kurang dari 1 mm
Halus, diameter butir 1-2 mm
Sedang, diameter butir 2-5 mm
Kasar, diameter butir 5-10 mm
Sangat kasar, diameter butir lebih dari 10 mm
5). Tipe Granuler
Berbentuk butir lepas-lepas, dibedakan atas kelas-kelas seperti pada tipe remah.
6). Tipe Berbutir Tunggal (single grain)
Tidak membentuk agregat tanah.
7). Tipe Pejal (masif)
Strktur tanah bertipe pejal merupakan kesatuan ikatan partikel-partikel tanah yang mampat. Struktur tanah pejal memiliki duas aspek yang dipandang penting dalam kaitannya dengan erosi, yaitu (1) sifat fisika-kimia liat yang mendukung terbentuknya kemantapan agregat yang mantap, dan (2) adanya bahan-bahan pengikat yang terbentuk butir-butir primer menjadi agregat yang mantap (Seta, 1987:5).
Selain itu struktur tanah juga memegang peranan penting terhadap pertumbuhan tanaman baik secara langsung maupun tidak langsung. Pengaruh langsung yaitu terhadap pertumbuhan akar tanaman. Bila tanah padat, akar sukar menembus tanah tersebut, tetapi bila struktur tanah remah maka akar akan tumbuh dengan baik. Sedangkan pengaruh yang tidak langsung yaitu terhadap permeabilitas atau kemampuan tanah untuk mengalirkan air dan udara dalam tanah (Suripin, 2001).

c. Bahan Organik
Bahan organik merupakan penimbunan sisa tumbuhan dan hewan. Bahan yang telah mengalami pelapukan mempunyai kemampuan untuk menyerap air hujan, sehingga dapat memantapkan agregat tanah. Bahan organik yang dikandung tanah hanya sedikit sekitar 3-5% dari berat tanah dalam lapisan top soil yang mewakili, pengaruhnya terhadap sifat tanah dan kehidupan tanaman antara lain: sebagai pembentuk butir (granulator) dari butir-butir tanah dan memperbaiki struktur tanah sehingga produktif, sumber pokok unsur-unsur (P, N, K, S) serta unsur mikro, mendorong peningkatan daya penahan tanah dan mempertinggi jumlah air yang tersedia bagi kehidupan tanaman dan sumber tenaga bagi kegiatan mikroorganisme (Juarti dan Dwiyono, 1992:12).
Bahan organik juga mempunyai peranan yang lain dalam pembentukan dan pemantapan agregat tanah. Bahan organik berupa daun dan ranting yang belum hancur dan menutupi permukaan tanah, merupakan pelindung tanah terhadap kekuatanperusak butir-butir hujan yang jatuh. Sehingga semakin tinggi bahan organik dalam tanah, maka butir-butir hujan yang jatuh akan sulit merusak tanah. Selain itu, semakin banyak kandungan bahan organik dalam tanah akan mampu menghambat aliran di atas permukaan (run off) tanah, sehingga run off mengalir dengan lambat. Bahan organik ini banyak mengandung humus dan terletap pada paisan atas tanah. Sehingga, semakin ke bawah, kandungan bahan organik dalam tanah makin berkurang.

d. Permeabilitas
Permeabilitas merupakan kemampuan tanah untuk meloloskan air dan udara dalam tanah (Suripin, 2001:48). Permeabilitas tanah dipengaruhi oleh jumlah pori-pori makro dan ditentukan juga oleh tekstur tanah. Permeabilitas tanah dapat mengilangkan daya air untuk mengerosi tanah.
Ada dua macam permeabilitas, yaitu permeabilitas tanah jenh air dan permeabilitas tanah tidak jenuh air. Permeabilitas tanah jenuh air terjadi jika gerakan dalam pori-pori tanah seluruhnya terisi oleh air. Permeabilitas tanah tidak jenuh air terjadi jika gerakan air dalam pori tanah tidak seluruhnya terisi air, melainkan juga udara.

e. Panjang dan Kemiringan Lereng (LS)
Panjang lereng berpengaruh pada kecepatan aliran permukaan. Semakin panjang lereng pada tanah, maka akan semakin panjang besar pula kecepatan aliran di permukaan, sehingga pengikisa-pengikisan tanah yang terjadi semakin besar. Kecepatan aliran permukaan akan menambah daya kikis dan daya angkut material yang tererosi.
Panjang lereng dihitung muai dari titik pangkal aliran permukaan sampai suatu titik dimana air aliran permukaan masuk ke dalam saluran-saluran atau dimana kemiringan berkurang sehingga kecepatan aliran air sangat berkurang. Air yang mengalir di permukaan tanah akan terkumpul di ujung lereng yang berarti lebih banyak air yang mengalir dan makin besar kecepatannya di bagian bawah lereng. Semakin panjang lereng, maka volume kelebihan air yang berakumulasi di atasnya menjadi lebih besar dan kemudian semua akan turun dengan volume dan kecepatan yang meningkat (Utomo, 1989o).
Kemiringan merupakan faktor yang sangat perlu diperhatikan. Pengaruh kemiringan lereng lebih besar dibandingkan pengaruh panjang lereng karena pergeakan air serta kemampuannya memecahkan dan membawa partikel tanah akan bertambah dengan bertambahnya sudut kemringan lereng (Nugroho, 2002:7). Menurut Arsyad (1983), tanah di bagian bawah lereng mengalami erosi yang lebih besar daripada di bagian atas lereng, karena semakin ke bawah, air yang terkumpul semakin banyak dan kecepatan aliran juuga meningkat sehingga daya erosinya besar. Berdasarkan kedua pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa tanah yang lerengnya tidak curam, maka laju aliran permukaannya kecil. Dalam keadaan demikian kesempatan air di permukaan untuk berinfiltrasi besar, sehingga run off tidak membahayakan karena daya kikis dan daya angkut berkurang. Sedangkan kecepatan aliran permukaan pada tanah yang berlereng curam besar, sehingga akan memperbesar erosi.
Dalam menentukan nilai LS digunakan persamaan Wescmeier sebagai berikut:
LS=(L/22,1)m.(0,065+0,045S+0,0065S^2)
Dimana:
LS : Panjang dan kemiringan lereng
L : Panjang lereng
S : Kemiringan lereng
m : Eksponen yang nilainya berkisar 0,2 sampai 0,5
m = 0,5 jika kelerengannya >5%
m = 0,4 jika kelerengannya 3% - 5%
m = 0,3 jika kelerengannya 1% - 3%
m = 0,2 jika kelerengannya <1%
Sumber: Seta, 1991:97

e. Pengelolaan Tanaman (C)
Keberadaan tanaman akan mempengaruhi bsesarnya erosi yang terjadi. Namun, pengaruh setiap tanaman berbeda-beda sehingga perlu diadakan pemilihan tanaman yang paling sesuai agar dapat menekan laju erosi.
Peranan tanaman dalam mengurangi erosi melalui intersepsi dan absorpsi hujan oleh tajuk tanaman akan mengurangi energi air hujan yang jatuh, sehingga memperkecil erosi. Namun sebaliknya yang makin tinggi tajuk dari permukaan tanah, energi kinetik yang ditimbulkan lebih besar sehingga erosivitisanya semakin besar (Nugroho, 2002:7). Sedangkan perakaran tanaman berfungsi untuk memantapkan agreat tanah serta memperbesar porositas tanah di sekitarnya.
Apabila dalam pengelolaan lahan tanaman ini sudah tidak baik artinya pemilihan tanaman kurang tepat, maka sudah dapat dipastikan akan terjadi erosi. Pengelolaan tanaman ini erat kaitannya dengan pengelolaan lahan sehingga antara keduanya harus disesuaikan untuk dapat menekan laju erosi.

f. Pengelolaan Lahan (P)
Manusia sebenranya merupakan penentu terjadinya erosi karena berkaitan dengan pengolaan lahan. Dengan pengelolaan laahan yang tepat, maka tingkat erosi dapat dikendalikan. Pengelolaan lahan dapat dilakukan dengan counturing (penanaman sejajar kontur, countur strip cropping (penanaman dalam jalur kontur), dan penterasan (Juarti, 2004).