Tampilkan postingan dengan label G-Teknik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label G-Teknik. Tampilkan semua postingan
Rabu, 08 Agustus 2012
Gedung di Jakarta Harus Hemat Energi
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menerbitkan regulasi penerapan konsep hemat energi dan ramah lingkungan dalam bangunan gedung. Hal ini sekaligus untuk menghemat biaya operasional gedung.
Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo memaparkan hal itu dalam sambutan tertulisnya, pada konferensi efisiensi energi nasional, Senin (11/6/2012) di Jakarta.
Dengan berlakunya Peraturan Gubernur Nomor 38 Tahun 2012 tentang bangunan gedung hijau, Jakarta merupakan salah satu kota metropolitan pertama di dunia yang menetapkan peraturan daerah tentang bangunan gedung hijau.
Dalam peraturan gubernur ini, dimensi dan fungsi bangunan harus dipandang dari berbagai aspek di antaranya fungsi hunian, fungsi usaha, fungsi sosial dan budaya. Konsepsi hemat energi dan ramah lingkungan yang merupakan warna dasar dari bangunan gedung hijau memiliki korelasi dengan penghematan biaya operasional gedung.
Biaya operasional gedung cenderung meningkat dan makin mahal dari tahun ke tahun. Dengan menerapkan konsep itu, diharapkan ikut menghemat biaya operasional dalam pengelolaan gedung-gedung komersial maupun gedung-gedung kantor lainnya.
Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Pemprov DKI Jakarta Wiriyatmoko menjelaskan, aturan itu saat ini telah diimplementasikan untuk bangunan baru. Sementara untuk gedung yang sudah ada, penerapan konsep hemat energi dan ramah lingkungan akan dilaksanakan secara bertahap.
"Untuk menerapkan konsep hijau ini butuh biaya miliaran rupiah. Jadi, ini akan dilakukan bertahap," ujarnya.
Menurut Fauzi Bowo, sebagai kota besar, Jakarta harus dipersiapkan dengan baik untuk menyediakan sarana dan prasarana kota, fasilitas dan utilitas kota yang mutunya setara dengan standar dunia. Namun besarnya jumlah penduduk mengakibatkan tekanan sangat besar pada daya dukung lingkungan.
Hampir 70 persen lahan kota Jakarta terisi bangunan fisik dalam bentuk pemukiman, perkantoran, dan sarana-prasarana kota. Kondisi ini rawan terhadap terjadinya pencemaran lingkungan kota.
Dari aspek topografi, Jakarta merupakan kota delta, yang 40 persen wilayahnya berada di bawah permukaan air laut pasang, serta dilintasi 13 sungai besar, yang semuanya bermuara di pantai utara kota Jakarta. Akibatnya, Jakarta rawan banjir dengan segala dampaknya terhadap lingkungan hidup dan ekosistem kota.
Sumber: www.kompas.co.id
Label:
G-Regional,
G-Teknik,
G-Terapan
Selasa, 07 Agustus 2012
Beginilah Detik-detik Pendaratan Curiosity di Mars
WASHINGTON, KOMPAS.com — Wahana antariksa Mars Science Laboratory beserta robot Curiosity akhirnya berhasil mendarat di permukaan Planet Mars yang selama ini paling membuat manusia penasaran.
Informasi dari Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA) di situs situs webnya menyatakan bahwa Curiosity mendarat di Kawah Gale, di dekat ekuator atau garis khatulistiwa Mars, sekitar pukul 15.00 waktu Mars atau 12.31 WIB.
Curiosity berhasil menjejakkan diri di permukaan Mars setelah melalui proses mendebarkan yang disebut "Teror Tujuh Menit".
Begitu memasuki atmosfer Mars, wahana yang membawanya melakukan manuver untuk memperlambat kecepatan hingga ketinggian sekitar 11 kilometer dari permukaan Mars.
Kemudian parasut supersonik dikembangkan hingga wahana turun sampai ketinggian 1,6 kilometer. Wahana tersebut kemudian melepas retrorocket yang akan memandu pendaratan robot Curiosity yang dibawanya.
Retrorocket kemudian menurunkan robot Curiosity menggunakan tali nilon dengan teknik yang disebut "derek angkasa".
Begitu Curiosity menyentuh permukaan Mars, tali nilon yang digunakan dilepas dan retrorocket terbang menjauh.
Robot beroda enam itu pun mulai bergerak di permukaan Mars. Curiosity diharapkan bisa meneliti molekul yang mendukung kehidupan di Mars sekaligus memecahkan misteri evolusi Mars. Keberhasilan ini juga menandai keberhasilan pertama mendaratkan robot beroda enam di Mars.
Sumber: www.kompas.co.id
Senin, 28 Mei 2012
Sifat Kelistrikan Batuan
Sifat kelistrikan batuan adalah karakteristik dari batuan bila dialirkan arus listrik ke dalamnya. Arus listrik dapat berasal dari alam itu sendiri disebabkan oleh adanya atom-atom penyusun kerak bumi yang berinteraksi satu sama lainnya akibat adanya ketidakseimbangan muatan, atau arus listrik yang sengaja dimasukkan ke dalamnya. Beberapa sifat kelistrikan batuan yang berguna dalam eksplorasi secara geolistrik khususnya dalam metode resistivitas adalah potensial listrik alami, konduktivitas listrik, dan konstanta dielektrik. (Handayani, 2004).
Potensial listrik alami terjadi karena adanya aktivitas elektrokimia atau kegiatan mekanik alam. Potensial listrik ini dapat dikelompokkan menjadi:
1. Potensial elektrokinetik, terjadi bila larutan elektrolit bergerak melalui media berbentuk pipa kapiler atau media yang berpori-pori.
2. Potensial difusi, terjadi bila ada perbedaar mobilitas dari ion-ion dalam larutan yang mempunyai konsentrasi berbeda.
3. Potensial nerust, terjadi bila suatu elektroda logam dimasukkan ke dalam larutan homogen.
4. Potensial mineralisasi, terjadi bila dua elektroda logam dimasukkan ke dalam elektroda homogen.
Konduktivitas listrik adalah kemampuan dari batuan dalam menghantarkan arus listrik. Arus listrik dapat mengalir dalam batuan dengan tiga cara yaitu:
1. Konduksi secara elektronik, hal ini terjadi jika batuan mengandung banyak elektron bebas, seperti bada batuan yang banyak mengandung logam. Sehingga arus listrik mudah mengalir pada batuan tersebut.
2. Konduksi secara elektrolitik, ini banyak terjadi pada batuan yang bersifat porus dan pada pori-pori tersebut terisi oleh larutan elektrolit. Sehingga arus listrik mengalir di bawah oleh ion-ion larutan elektrolit.
3. Konduksi secara dielektrik, konduksi ini terjadi pada batuan yang bersifat dielektrik, artinya batuan tersebut mempunyai elektron bebas sedikit dan bahkan tidak ada. Tetapi karena adanya pengaruh medan listrik dari luar maka elektron- elektron dalam atom batuan dipaksa berpindah dan berpisah dengan intinya sehingga terjadi polarisasi. Konduksi ini sangat bergantung pada konstanta dielektrik batuan.
Berdasarkan harga resistivitasnya, batuan dapat digolongkan menjadi tiga golongan, yaitu: (Anonymous, 2007).
a. Konduktor baik : 10-6< ρ < 1Ωm
b. Konduktor pertengahan : 1 < ρ < 107 Ωm
c. Isolator : ρ > 107 Ωm
Sumber: Yulianingrum, Dita. 2011. Skripsi: Pemetaan Resistivitas Area Rawan Longsor dengan Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner (Studi Kasus di Desa Joho Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung). Malang: Universitas Negeri Malang.
Sabtu, 03 Maret 2012
Klasifikasi Gerakan Tanah
Pada suatu kelerengan tidak akan terjadi gerakan tanah hanya oleh satu faktor saja. Hampir seluruh gerakan tanah terjadi oleh karena penyebab yang kompleks. Sepanjang waktu lereng yang curam itu ada, gaya gravitasi secara terus menerus menariknya ke bawah, dan air selalu meresap ke dalam tanah, tetapi tidak terjadi gerakan tanah pada lereng tersebut. Kemudian datanglah faktor pemicu gerakan tanah, misal hujan yang lebat, dan terjadilah gerakan tanah. Pemicu gerakan tanah yang lain adalah gempabumi atau hujan lebat dan semakin umum adalah akibat ulah manusia (Dwikorita, 2003)
Ada dua faktor penting di dalam menentukan tipe-tipe gerakan tanah, yaitu: kecepatan gerakannya dan kandungan air di dalam materi yang mengalami gerakan tanah.
Tanah Longsor
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah. Proses terjadinya tanah longsor sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. (Arifah, 2009)
Longsoran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu longsoran rotasional dan longsoran planar/translational. Longsoran rotasional inilah yang umum dijumpai, longsoran bergerak melalui bidang rotasional yang sumbunya sejajar dengan lereng batuan. Pada keadaan tidak terjadi longsor (gambar 2.1.a), maka akan terjadi keseimbangan antara driving force terhadap resisting force. Jika driving force lebih besar dari resisting force maka terjadilah longsor dan bila longsor terjadi, maka bagian kepala (head of slide pada gambar 2.1.b) akan turun dan pada bagian toe akan terangkat (gambar 2.1.b). Setelah terjadi longsor pada kepala terbentuk cekungan, air terakumulasi padanya dan air tersebut meresap ke dalamnya sehingga kepala menjadi tidak stabil. Di samping itu, di atas kepala longsoran meninggalkan tebing yang lebih curam dibanding sebelum longsor dan hal inilah yang menyebabkan longsoran berulang kembali di tempat yang sama. (Subagyo, 2003)

Gambar 2.1. Analisis Stabilitas Lereng Pada Longsoran Rotasional (a)Sebelum Terjadi Longsor (b) Setelah Terjadi Longsor
Longsoran translasional terjadi pada bidang yang lemah seperti bidang sesar/patahan, bidang kekar, lapisan yang kaya akan lempung, atau terjadi pada batuan keras berada di atas batuan yang lunak.
1. Longsoran Translasi

Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai. (ESDM)
2. Longsoran Rotasi

Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia.
Sumber: Yulianingrum, Dita. 2011. Skripsi: Pemetaan Resistivitas Area Rawan Longsor dengan Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner (Studi Kasus di Desa Joho Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung). Malang: Universitas Negeri Malang.
Ada dua faktor penting di dalam menentukan tipe-tipe gerakan tanah, yaitu: kecepatan gerakannya dan kandungan air di dalam materi yang mengalami gerakan tanah.
Tanah Longsor
Tanah longsor adalah perpindahan material pembentuk lereng berupa batuan, bahan rombakan, tanah, atau material campuran tersebut, bergerak dari tempat yang tinggi ketempat yang lebih rendah. Proses terjadinya tanah longsor sebagai berikut: air yang meresap ke dalam tanah akan menambah bobot tanah. Jika air tersebut menembus sampai tanah kedap air yang berperan sebagai bidang gelincir, maka tanah menjadi licin dan tanah pelapukan di atasnya akan bergerak mengikuti lereng dan keluar lereng. (Arifah, 2009)
Longsoran dapat dibedakan menjadi dua, yaitu longsoran rotasional dan longsoran planar/translational. Longsoran rotasional inilah yang umum dijumpai, longsoran bergerak melalui bidang rotasional yang sumbunya sejajar dengan lereng batuan. Pada keadaan tidak terjadi longsor (gambar 2.1.a), maka akan terjadi keseimbangan antara driving force terhadap resisting force. Jika driving force lebih besar dari resisting force maka terjadilah longsor dan bila longsor terjadi, maka bagian kepala (head of slide pada gambar 2.1.b) akan turun dan pada bagian toe akan terangkat (gambar 2.1.b). Setelah terjadi longsor pada kepala terbentuk cekungan, air terakumulasi padanya dan air tersebut meresap ke dalamnya sehingga kepala menjadi tidak stabil. Di samping itu, di atas kepala longsoran meninggalkan tebing yang lebih curam dibanding sebelum longsor dan hal inilah yang menyebabkan longsoran berulang kembali di tempat yang sama. (Subagyo, 2003)

Gambar 2.1. Analisis Stabilitas Lereng Pada Longsoran Rotasional (a)Sebelum Terjadi Longsor (b) Setelah Terjadi Longsor
Longsoran translasional terjadi pada bidang yang lemah seperti bidang sesar/patahan, bidang kekar, lapisan yang kaya akan lempung, atau terjadi pada batuan keras berada di atas batuan yang lunak.
1. Longsoran Translasi

Longsoran translasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk rata atau menggelombang landai. (ESDM)
2. Longsoran Rotasi

Longsoran rotasi adalah bergeraknya massa tanah dan batuan pada bidang gelincir berbentuk cekung. Jenis longsoran translasi dan rotasi paling banyak terjadi di Indonesia.
Sumber: Yulianingrum, Dita. 2011. Skripsi: Pemetaan Resistivitas Area Rawan Longsor dengan Menggunakan Metode Geolistrik Konfigurasi Wenner (Studi Kasus di Desa Joho Kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung). Malang: Universitas Negeri Malang.
Minggu, 04 Desember 2011
FAKTOR PENENTU KEPEKAAN TANAH TERHADAP LONGSOR DAN EROSI
FAKTOR PENENTU KEPEKAAN TANAH TERHADAP LONGSOR DAN EROSI
Pengetahuan tentang faktor penentu kepekaan tanah terhadap longsor dan erosi akan memperkaya wawasan dan memperkuat landasan dari pengambil keputusan, penanggung jawab lapangan, teknisi, penyuluh dan organisasi kemasyarakatan dalam menyusun program dan melaksanakan teknik penanggulangan longsor dan erosi di daerah kewenangannya. Longsor dan erosi adalah proses berpindahnya tanah atau batuan dari satu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah akibat dorongan air, angin, atau gaya gravitasi. Proses tersebut melalui tiga tahapan, yaitu pelepasan, pengangkutan atau pergerakan, dan pengendapan. Perbedaan menonjol dari fenomena longsor dan erosi adalah volume tanah yang dipindahkan, waktu yang dibutuhkan, dan kerusakan yang ditimbulkan. Longsor memindahkan massa tanah dengan volume yang besar, adakalanya disertai oleh batuan dan pepohonan, dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan erosi tanah adalah memindahkan partikel-partikel tanah dengan volume yang relatif lebih kecil pada setiap kali kejadian dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Dua bentuk longsor yang sering terjadi di daerah pegunungan adalah:
(1). Guguran, yaitu pelepasan batuan atau tanah dari lereng curam dengan gaya bebas atau bergelinding dengan kecepatan tinggi sampai sangat tinggi (Gambar 1a). Bentuk longsor ini terjadi pada lereng yang sangat curam (>100%).
(2). Peluncuran, yaitu pergerakan bagian atas tanah dalam volume besar akibat keruntuhan gesekan antara bongkahan bagian atas dan bagian bawah tanah (Gambar 1b). Bentuk longsor ini umumnya terjadi apabila terdapat bidang luncur pada kedalaman tertentu dan tanah bagian atas dari bidang luncur tersebut telah jenuh air.


Gambar 1. Bentuk longsor yang sering terjadi di Indonesia: a) guguran, dan
b) peluncuran.
Sekitar 45% luas lahan di Indonesia berupa lahan pegunungan berlereng yang peka terhadap longsor dan erosi (Tabel 1). Pegunungan dan perbukitan adalah hulu sungai yang mengalirkan air permukaan secara gravitasi melewati celah-celah lereng ke lahan yang letaknya lebih rendah. Keterkaitan antara daerah aliran sungai (DAS) hulu, tengah, dan hilir diilustrasikan pada Gambar 2. Keterkaitan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
(1). Penggundulan hutan di DAS hulu atau zona tangkapan hujan akan mengurangi resapan air hujan, dan karena itu akan memperbesar aliran permukaan. Aliran permukaan adalah pemicu terjadinya longsor dan/atau erosi dengan mekanisme yang berbeda.
(2). Budidaya pertanian pada DAS tengah atau zona konservasi yang tidak tepat akan memicu terjadinya longsor dan/atau erosi. Pengendalian aliran permukaan merupakan kunci utama. Pada daerah yang tidak rawan longsor, memperbesar resapan air dan sebagai konsekuensinya adalah memperkecil aliran permukaan merupakan pilihan utama. Sebaliknya, jika daerah tersebut rawan longsor, aliran permukaan perlu dialirkan sedemikian rupa sehingga tidak menjenuhi tanah dan tidak memberbesar erosi.
(3). Air yang meresap ke dalam lapisan tanah di zona tangkapan hujan dan konservasi akan keluar berupa sumber-sumber air yang ditampung di badan-badan air seperti sungai, danau, dan waduk untuk pembangkit listrik, irigasi, air minum, dan penggelontoran kota.
Faktor yang mempengaruhi terjadinya longsor dan erosi adalah faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang utama adalah iklim , sifat tanah, bahan induk, elevasi, dan lereng. Faktor manusia adalah semua tindakan manusia yang dapat mempercepat terjadinya erosi dan longsor. Faktor alam yang menyebabkan terjadinya longsor dan erosi diuraikan berikut ini.
1.1. Iklim
Curah hujan adalah salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian longsor dan erosi. Air hujan yang terinfiltrasi ke dalam tanah dan menjenuhi tanah menentukan terjadinya longsor, sedangkan pada kejadian erosi, air limpasan permukaan adalah unsur utama penyebab terjadinya erosi. Hujan dengan curahan dan intensitas yang tinggi, misalnya 50 mm dalam waktu singkat (<1 jam), lebih berpotensi menyebabkan erosi dibanding hujan dengan curahan yang sama namun dalam waktu yang lebih lama (> 1 jam). Namun curah hujan yang sama tetapi berlangsung lama (>6 jam) berpotensi menyebabkan longsor, karena pada kondisi tersebut dapat terjadi penjenuhan tanah oleh air yang meningkatkan massa tanah. Intensitas hujan menentukan besar kecilnya erosi, sedangkan longsor ditentukan oleh kondisi jenuh tanah oleh air hujan dan keruntuhan gesekan bidang luncur. Curah hujan tahunan >2000 mm terjadi pada sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini berpeluang besar menimbulkan erosi, apalagi di wilayah pegunungan yang lahannya didominasi oleh berbagai jenis tanah.
2.2. Tanah
2.2.1. Kedalaman, tekstur dan struktur tanah Kedalaman atau solum, tekstur, dan struktur tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air. Pada tanah bersolum dalam (>90 cm), struktur gembur, dan penutupan lahan rapat, sebagian besar air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang menjadi air limpasan permukaan. Sebaliknya, pada tanah bersolum
dangkal, struktur padat, dan penutupan lahan kurang rapat, hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi dan sebagian besar menjadi aliran permukaan
(Gambar 3).

Gambar 3. Hubungan antara struktur lapisan tanah dan penutupan lahan terhadap jumlah infiltrasi dan aliran permukaan relatif.
Faktor lain yang menentukan kelongsoran tanah adalah ketahanan gesekan bidang luncur. Faktor yang menentukan ketahanan gesekan adalah: a) gaya saling menahan di antara dua bidang yang bergeser, dan b) mekanisme saling mengunci di antara partikel-partikel yang bergeser. Untuk kasus pertama, partikel hanya menggeser di atas partikel yang lain dan tidak terjadi penambahan volume. Untuk kasus kedua, terjadi penambahan volume karena partikel yang bergeser mengatur kedudukannya sedemikian rupa, sehingga menyebabkan keruntuhan. Ketahanan gesekan ditentukan oleh bentuk partikel. Pada partikel berbentuk lempengan seperti liat, penambahan air mempercepat keruntuhan. Sebaliknya pada partikel berbentuk butiran seperti kuarsa dan feldspar, penambahan air memperlambat keruntuhan.
2.2.2. Bahan induk tanah
Sifat bahan induk tanah ditentukan oleh asal batuan dan komposisi mineralogi yang berpengar uh terhadap kepekaan erosi dan longsor. Di daerah pegunungan, bahan induk tanah didominasi oleh batuan kokoh dari batuan volkanik, sedimen, dan metamorfik. Tanah yang terbentuk dari batuan sedimen, terutama batu liat, batu liat berkapur atau marl dan batu kapur, relatif peka terhadap erosi dan longsor. Batuan volkanik umumnya tahan erosi dan longs or. Salah satu ciri lahan peka longsor adalah adanya rekahan tanah selebar >2 cm dan dalam >50 cm yang terjadi pada musim kemarau. Tanah tersebut mempunyai sifat mengembang pada kondisi basah dan mengkerut pada kondisi kering, yang disebabkan oleh tingginya kandungan mineral liat tipe 2:1 seperti yang dijumpai pada tanah Grumusol (Vertisols). Pada kedalaman tertentu dari tanah Podsolik atau Mediteran terdapat akumulasi liat (argilik) yang pada kondisi jenuh air dapat juga berfungsi sebagai bidang luncur pada kejadian longsor.
2.3. Elevasi
Elevasi adalah istilah lain dari ukuran ketinggian lokasi di atas permukaan laut. Lahan pegunungan berdasarkan elevasi dibedakan atas dataran medium (350-700 m dpl) dan dataran tinggi (>700 m dpl). Elevasi berhubungan erat dengan jenis komoditas yang sesuai untuk mempertahankan kelestarian lingkungan. Badan Pertanahan Nasional menetapkan lahan pada ketinggian di atas 1000 m dpl dan lereng >45% sebagai kawasan usaha terbatas, dan diutamakan sebagai kawasan hutan lindung. Sementara, Departemen Kehutanan menetapkan lahan dengan ketinggian >2000 m dpl dan/atau lereng >40% sebagai kawasan lindung.
2.4. Lereng
Lereng atau kemiringan lahan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya erosi dan longsor di lahan pegunungan. Peluang terjadinya erosi dan longsor makin besar dengan makin curamnya lereng. Makin curam lereng makin besar pula volume dan kecepatan aliran permukaan yang berpotensi menyebabkan erosi. Selain kecuraman, panjang lereng juga menentukan besarnya longsor dan erosi. Makin panjang lereng, erosi yang terjadi makin besar. Pada lereng >40% longsor sering terjadi, terutama disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi. Kondisi wilayah/lereng dikelompokkan sebagai berikut:
Datar : lereng <3%, dengan beda tinggi <2 m.
Berombak : lereng 3-8%, dengan beda tinggi 2–10 m.
Bergelombang : lereng 8-15%, dengan beda tinggi 10–50 m.
Berbukit : lereng15-30%, dengan beda tinggi 50–300 m.
Bergunung : lereng >30%, dengan beda tinggi >300 m.
Erosi dan longsor sering terjadi di wilayah berbukit dan bergunung, terutama pada tanah berpasir (Regosol atau Psamment), Andosol (Andisols), tanah dangkal berbatu (Litosol atau Entisols), dan tanah dangkal berkapur (Renzina atau Mollisols). Di wilayah bergelombang, intensitas erosi dan longsor agak berkurang, kecuali pada tanah Podsolik (Ultisols), Mediteran (Alfisols), dan Grumusol (Vertisols) yang terbentuk dari batuan induk batu liat, napal, dan batu kapur dengan kandungan liat 2:1 (Montmorilonit) tinggi, sehingga pengelolaan lahan yang disertai oleh tindakan konservasi sangat diperlukan. Dalam sistem budidaya pada lahan berlereng >15% lebih diutamakan campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry).
Sumber: Pedoman Umum Budidaya Pertanian di Lahan Pegunungan
Pengetahuan tentang faktor penentu kepekaan tanah terhadap longsor dan erosi akan memperkaya wawasan dan memperkuat landasan dari pengambil keputusan, penanggung jawab lapangan, teknisi, penyuluh dan organisasi kemasyarakatan dalam menyusun program dan melaksanakan teknik penanggulangan longsor dan erosi di daerah kewenangannya. Longsor dan erosi adalah proses berpindahnya tanah atau batuan dari satu tempat yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah akibat dorongan air, angin, atau gaya gravitasi. Proses tersebut melalui tiga tahapan, yaitu pelepasan, pengangkutan atau pergerakan, dan pengendapan. Perbedaan menonjol dari fenomena longsor dan erosi adalah volume tanah yang dipindahkan, waktu yang dibutuhkan, dan kerusakan yang ditimbulkan. Longsor memindahkan massa tanah dengan volume yang besar, adakalanya disertai oleh batuan dan pepohonan, dalam waktu yang relatif singkat, sedangkan erosi tanah adalah memindahkan partikel-partikel tanah dengan volume yang relatif lebih kecil pada setiap kali kejadian dan berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Dua bentuk longsor yang sering terjadi di daerah pegunungan adalah:
(1). Guguran, yaitu pelepasan batuan atau tanah dari lereng curam dengan gaya bebas atau bergelinding dengan kecepatan tinggi sampai sangat tinggi (Gambar 1a). Bentuk longsor ini terjadi pada lereng yang sangat curam (>100%).
(2). Peluncuran, yaitu pergerakan bagian atas tanah dalam volume besar akibat keruntuhan gesekan antara bongkahan bagian atas dan bagian bawah tanah (Gambar 1b). Bentuk longsor ini umumnya terjadi apabila terdapat bidang luncur pada kedalaman tertentu dan tanah bagian atas dari bidang luncur tersebut telah jenuh air.


Gambar 1. Bentuk longsor yang sering terjadi di Indonesia: a) guguran, dan
b) peluncuran.
Sekitar 45% luas lahan di Indonesia berupa lahan pegunungan berlereng yang peka terhadap longsor dan erosi (Tabel 1). Pegunungan dan perbukitan adalah hulu sungai yang mengalirkan air permukaan secara gravitasi melewati celah-celah lereng ke lahan yang letaknya lebih rendah. Keterkaitan antara daerah aliran sungai (DAS) hulu, tengah, dan hilir diilustrasikan pada Gambar 2. Keterkaitan tersebut dijelaskan sebagai berikut:
(1). Penggundulan hutan di DAS hulu atau zona tangkapan hujan akan mengurangi resapan air hujan, dan karena itu akan memperbesar aliran permukaan. Aliran permukaan adalah pemicu terjadinya longsor dan/atau erosi dengan mekanisme yang berbeda.
(2). Budidaya pertanian pada DAS tengah atau zona konservasi yang tidak tepat akan memicu terjadinya longsor dan/atau erosi. Pengendalian aliran permukaan merupakan kunci utama. Pada daerah yang tidak rawan longsor, memperbesar resapan air dan sebagai konsekuensinya adalah memperkecil aliran permukaan merupakan pilihan utama. Sebaliknya, jika daerah tersebut rawan longsor, aliran permukaan perlu dialirkan sedemikian rupa sehingga tidak menjenuhi tanah dan tidak memberbesar erosi.
(3). Air yang meresap ke dalam lapisan tanah di zona tangkapan hujan dan konservasi akan keluar berupa sumber-sumber air yang ditampung di badan-badan air seperti sungai, danau, dan waduk untuk pembangkit listrik, irigasi, air minum, dan penggelontoran kota.
Faktor yang mempengaruhi terjadinya longsor dan erosi adalah faktor alam dan faktor manusia. Faktor alam yang utama adalah iklim , sifat tanah, bahan induk, elevasi, dan lereng. Faktor manusia adalah semua tindakan manusia yang dapat mempercepat terjadinya erosi dan longsor. Faktor alam yang menyebabkan terjadinya longsor dan erosi diuraikan berikut ini.
1.1. Iklim
Curah hujan adalah salah satu unsur iklim yang besar perannya terhadap kejadian longsor dan erosi. Air hujan yang terinfiltrasi ke dalam tanah dan menjenuhi tanah menentukan terjadinya longsor, sedangkan pada kejadian erosi, air limpasan permukaan adalah unsur utama penyebab terjadinya erosi. Hujan dengan curahan dan intensitas yang tinggi, misalnya 50 mm dalam waktu singkat (<1 jam), lebih berpotensi menyebabkan erosi dibanding hujan dengan curahan yang sama namun dalam waktu yang lebih lama (> 1 jam). Namun curah hujan yang sama tetapi berlangsung lama (>6 jam) berpotensi menyebabkan longsor, karena pada kondisi tersebut dapat terjadi penjenuhan tanah oleh air yang meningkatkan massa tanah. Intensitas hujan menentukan besar kecilnya erosi, sedangkan longsor ditentukan oleh kondisi jenuh tanah oleh air hujan dan keruntuhan gesekan bidang luncur. Curah hujan tahunan >2000 mm terjadi pada sebagian besar wilayah Indonesia. Kondisi ini berpeluang besar menimbulkan erosi, apalagi di wilayah pegunungan yang lahannya didominasi oleh berbagai jenis tanah.
2.2. Tanah
2.2.1. Kedalaman, tekstur dan struktur tanah Kedalaman atau solum, tekstur, dan struktur tanah menentukan besar kecilnya air limpasan permukaan dan laju penjenuhan tanah oleh air. Pada tanah bersolum dalam (>90 cm), struktur gembur, dan penutupan lahan rapat, sebagian besar air hujan terinfiltrasi ke dalam tanah dan hanya sebagian kecil yang menjadi air limpasan permukaan. Sebaliknya, pada tanah bersolum
dangkal, struktur padat, dan penutupan lahan kurang rapat, hanya sebagian kecil air hujan yang terinfiltrasi dan sebagian besar menjadi aliran permukaan
(Gambar 3).

Gambar 3. Hubungan antara struktur lapisan tanah dan penutupan lahan terhadap jumlah infiltrasi dan aliran permukaan relatif.
Faktor lain yang menentukan kelongsoran tanah adalah ketahanan gesekan bidang luncur. Faktor yang menentukan ketahanan gesekan adalah: a) gaya saling menahan di antara dua bidang yang bergeser, dan b) mekanisme saling mengunci di antara partikel-partikel yang bergeser. Untuk kasus pertama, partikel hanya menggeser di atas partikel yang lain dan tidak terjadi penambahan volume. Untuk kasus kedua, terjadi penambahan volume karena partikel yang bergeser mengatur kedudukannya sedemikian rupa, sehingga menyebabkan keruntuhan. Ketahanan gesekan ditentukan oleh bentuk partikel. Pada partikel berbentuk lempengan seperti liat, penambahan air mempercepat keruntuhan. Sebaliknya pada partikel berbentuk butiran seperti kuarsa dan feldspar, penambahan air memperlambat keruntuhan.
2.2.2. Bahan induk tanah
Sifat bahan induk tanah ditentukan oleh asal batuan dan komposisi mineralogi yang berpengar uh terhadap kepekaan erosi dan longsor. Di daerah pegunungan, bahan induk tanah didominasi oleh batuan kokoh dari batuan volkanik, sedimen, dan metamorfik. Tanah yang terbentuk dari batuan sedimen, terutama batu liat, batu liat berkapur atau marl dan batu kapur, relatif peka terhadap erosi dan longsor. Batuan volkanik umumnya tahan erosi dan longs or. Salah satu ciri lahan peka longsor adalah adanya rekahan tanah selebar >2 cm dan dalam >50 cm yang terjadi pada musim kemarau. Tanah tersebut mempunyai sifat mengembang pada kondisi basah dan mengkerut pada kondisi kering, yang disebabkan oleh tingginya kandungan mineral liat tipe 2:1 seperti yang dijumpai pada tanah Grumusol (Vertisols). Pada kedalaman tertentu dari tanah Podsolik atau Mediteran terdapat akumulasi liat (argilik) yang pada kondisi jenuh air dapat juga berfungsi sebagai bidang luncur pada kejadian longsor.
2.3. Elevasi
Elevasi adalah istilah lain dari ukuran ketinggian lokasi di atas permukaan laut. Lahan pegunungan berdasarkan elevasi dibedakan atas dataran medium (350-700 m dpl) dan dataran tinggi (>700 m dpl). Elevasi berhubungan erat dengan jenis komoditas yang sesuai untuk mempertahankan kelestarian lingkungan. Badan Pertanahan Nasional menetapkan lahan pada ketinggian di atas 1000 m dpl dan lereng >45% sebagai kawasan usaha terbatas, dan diutamakan sebagai kawasan hutan lindung. Sementara, Departemen Kehutanan menetapkan lahan dengan ketinggian >2000 m dpl dan/atau lereng >40% sebagai kawasan lindung.
2.4. Lereng
Lereng atau kemiringan lahan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya erosi dan longsor di lahan pegunungan. Peluang terjadinya erosi dan longsor makin besar dengan makin curamnya lereng. Makin curam lereng makin besar pula volume dan kecepatan aliran permukaan yang berpotensi menyebabkan erosi. Selain kecuraman, panjang lereng juga menentukan besarnya longsor dan erosi. Makin panjang lereng, erosi yang terjadi makin besar. Pada lereng >40% longsor sering terjadi, terutama disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi. Kondisi wilayah/lereng dikelompokkan sebagai berikut:
Datar : lereng <3%, dengan beda tinggi <2 m.
Berombak : lereng 3-8%, dengan beda tinggi 2–10 m.
Bergelombang : lereng 8-15%, dengan beda tinggi 10–50 m.
Berbukit : lereng15-30%, dengan beda tinggi 50–300 m.
Bergunung : lereng >30%, dengan beda tinggi >300 m.
Erosi dan longsor sering terjadi di wilayah berbukit dan bergunung, terutama pada tanah berpasir (Regosol atau Psamment), Andosol (Andisols), tanah dangkal berbatu (Litosol atau Entisols), dan tanah dangkal berkapur (Renzina atau Mollisols). Di wilayah bergelombang, intensitas erosi dan longsor agak berkurang, kecuali pada tanah Podsolik (Ultisols), Mediteran (Alfisols), dan Grumusol (Vertisols) yang terbentuk dari batuan induk batu liat, napal, dan batu kapur dengan kandungan liat 2:1 (Montmorilonit) tinggi, sehingga pengelolaan lahan yang disertai oleh tindakan konservasi sangat diperlukan. Dalam sistem budidaya pada lahan berlereng >15% lebih diutamakan campuran tanaman semusim dengan tanaman tahunan atau sistem wanatani (agroforestry).
Sumber: Pedoman Umum Budidaya Pertanian di Lahan Pegunungan
Jumat, 02 Desember 2011
PREDIKSI LAJU EROSI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL WATER EROSION PREDICTION PROJECT DI SUB DAS JUNGGO HULU KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU
PREDIKSI LAJU EROSI DENGAN MENGGUNAKAN MODEL WATER EROSION PREDICTION PROJECT DI SUB DAS JUNGGO HULU KECAMATAN BUMIAJI KOTA BATU
Oleh:
Ichwan Dwi Pratomo, Drs. Didik Taryana, M.Si, Drs. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd, M.Si.
Abstrak
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, maka akan mendorong peningkatan kebutuhan hidup, baik secara kualitas maupun kuantitas. Tuntutan pemenuhan kebutuhan manusia tersebut selanjutnya menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk tempat tinggal maupun kegiatan pertanian. Pembukaan lahan baru berlangsung secara berlebihan, sehingga mempercepat proses erosi. Kerugian akibat erosi berdampak sangat luas, karena tidak hanya menyebabkan kerusakan di daerah hulu saja, tetapi juga di daerah yang dialiri aliran endapan (daerah tengah), dan di bagian hilir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sub DAS Junggo hulu yang terbagi ke dalam dua unit lahan, memiliki nilai total sedimen terangkut yang bervariasi, dimana pada unit lahan AKK 26-45% berdasarkan hasil pengukuran pertama berturut-turut sampai pada pengukuran keempat adalah sebagai berikut: (1) pengangkutan sedimen sebesar 7,461677 kg/dt, (2) pengendapan sedimen sebesar -0,69208502 kg/dt (3) pengendapan sedimen sebesar -3,08392743 kg/dt, dan (4) pengendapan sedimen sebesar -0,82869316 kg/dt. Sedangkan total sedimen terangkut di unit lahan AKK 16-25% pada pengukuran pertama berturut-turut sampai pada pengukuran keempat adalah sebagai berikut: (1) pengangkutan sedimen sebesar 10,55165627 kg/dt, (2) pengangkutan sedimen sebesar 1,86448370 kg/dt (3) pengendapan sedimen sebesar -1,13330122 kg/dt, dan (4) pengangkutan sedimen sebesar 0,71693563 kg/dt.
Kata Kunci: erosi, sedimen, Model WEPP
PENDAHULUAN
Sebagai makhluk hidup, manusia senantiasa membutuhkan alat pemenuhan kebutuhan untuk menunjang kehidupannya. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Kemudian sejalan dengan berkembanganya peradaban manusia serta pertumbahan penduduk dunia yang meningkat begitu pesat, alat pemenuhan kebutuhan manusia menjadi semakin sulit diperoleh, sehingga manusia selalu mencari cara agar semua kebutuhannya terpenuhi dengan memaksimalkan sumber daya alam yang ada.
Sejalan dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia tersebut, maka manusia akan memanfaatkan segala sumber daya alam yang ada untuk kebutuhan pemukiman maupun untuk lahan pertanian. Dengan keadaan yang seperti ini, maka dimungkinkan manusia akan merusak keseimbangan alam, khususnya keseimbangan air dan lahan yang batas kemampuannya sudah terlampaui. Pada akhirnya ketidakseimbangan lingkungan ini dapat mengakibatkan dampak negatif yang besar, seperti terjadinya banjir dan tanah longsor.
Pendugaan erosi pada suatu lahan dapat dilakukan dengan beberapa model. Salah satu metode pendugaan erosi yang saat ini populer dari kelompok pengembangan model deterministik adalah WEPP (Water Erosion Prediction Project). Model WEPP memiliki berbagai keunggulan, antara lain bahwa nisbah kehilangan tanah dapat ditaksir secara spasial sepanjang profil (lahan) dan juga dapat menaksir besarnya sedimen yang terangkut. Selain itu limpasan permukaan dan sedimen dapat diduga tiap terjadinya hujan, sehingga bisa menghasilkan analisa sementara yang mendetail beserta penyebarannya.
Sub DAS Junggo termasuk ke dalam DAS Sumber Brantas dan merupakan daerah yang memiliki fisiografi berbukit dan bergunung-gunung yang sebagian besar kemiringan lerengnya lebih dari 30% dengan luas lahan 6.419,75 Ha, yang berupa hutan seluas 716,25 Ha, semak belukar seluas 361,25 Ha, tegal dan kebun 4.647 Ha, dan sawah sebesar 1.056 Ha. Satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa penggunaan lahan tegalan dan kebun yang berasal dari alih fungsi hutan secara ilegal oleh penduduk sekitarnya seluas 3.934 Ha. Alih fungsi hutan menjadi lahan tanaman sayuran akan menyebabkan laju erosi semakin meningkat. Berdasarkan permasalahan tersebut diatas perlu diadakan penelitian untuk mengetahui besarnya laju erosi dengan judul ”Prediksi Laju Erosi dengan Menggunakan Model Water Erossion Prediction Project (WEPP) di Sub DAS Junggo Hulu Kecamatan Bumiaji Kota Batu”.

(....jurnal selengkapnya dapat di download pada link berikut ini........)
DOWNLOAD!!!
Oleh:
Ichwan Dwi Pratomo, Drs. Didik Taryana, M.Si, Drs. Dwiyono Hari Utomo, M.Pd, M.Si.
Abstrak
Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk, maka akan mendorong peningkatan kebutuhan hidup, baik secara kualitas maupun kuantitas. Tuntutan pemenuhan kebutuhan manusia tersebut selanjutnya menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan lahan untuk tempat tinggal maupun kegiatan pertanian. Pembukaan lahan baru berlangsung secara berlebihan, sehingga mempercepat proses erosi. Kerugian akibat erosi berdampak sangat luas, karena tidak hanya menyebabkan kerusakan di daerah hulu saja, tetapi juga di daerah yang dialiri aliran endapan (daerah tengah), dan di bagian hilir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sub DAS Junggo hulu yang terbagi ke dalam dua unit lahan, memiliki nilai total sedimen terangkut yang bervariasi, dimana pada unit lahan AKK 26-45% berdasarkan hasil pengukuran pertama berturut-turut sampai pada pengukuran keempat adalah sebagai berikut: (1) pengangkutan sedimen sebesar 7,461677 kg/dt, (2) pengendapan sedimen sebesar -0,69208502 kg/dt (3) pengendapan sedimen sebesar -3,08392743 kg/dt, dan (4) pengendapan sedimen sebesar -0,82869316 kg/dt. Sedangkan total sedimen terangkut di unit lahan AKK 16-25% pada pengukuran pertama berturut-turut sampai pada pengukuran keempat adalah sebagai berikut: (1) pengangkutan sedimen sebesar 10,55165627 kg/dt, (2) pengangkutan sedimen sebesar 1,86448370 kg/dt (3) pengendapan sedimen sebesar -1,13330122 kg/dt, dan (4) pengangkutan sedimen sebesar 0,71693563 kg/dt.
Kata Kunci: erosi, sedimen, Model WEPP
PENDAHULUAN
Sebagai makhluk hidup, manusia senantiasa membutuhkan alat pemenuhan kebutuhan untuk menunjang kehidupannya. Kebutuhan tersebut meliputi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Kemudian sejalan dengan berkembanganya peradaban manusia serta pertumbahan penduduk dunia yang meningkat begitu pesat, alat pemenuhan kebutuhan manusia menjadi semakin sulit diperoleh, sehingga manusia selalu mencari cara agar semua kebutuhannya terpenuhi dengan memaksimalkan sumber daya alam yang ada.
Sejalan dengan upaya pemenuhan kebutuhan hidup manusia tersebut, maka manusia akan memanfaatkan segala sumber daya alam yang ada untuk kebutuhan pemukiman maupun untuk lahan pertanian. Dengan keadaan yang seperti ini, maka dimungkinkan manusia akan merusak keseimbangan alam, khususnya keseimbangan air dan lahan yang batas kemampuannya sudah terlampaui. Pada akhirnya ketidakseimbangan lingkungan ini dapat mengakibatkan dampak negatif yang besar, seperti terjadinya banjir dan tanah longsor.
Pendugaan erosi pada suatu lahan dapat dilakukan dengan beberapa model. Salah satu metode pendugaan erosi yang saat ini populer dari kelompok pengembangan model deterministik adalah WEPP (Water Erosion Prediction Project). Model WEPP memiliki berbagai keunggulan, antara lain bahwa nisbah kehilangan tanah dapat ditaksir secara spasial sepanjang profil (lahan) dan juga dapat menaksir besarnya sedimen yang terangkut. Selain itu limpasan permukaan dan sedimen dapat diduga tiap terjadinya hujan, sehingga bisa menghasilkan analisa sementara yang mendetail beserta penyebarannya.
Sub DAS Junggo termasuk ke dalam DAS Sumber Brantas dan merupakan daerah yang memiliki fisiografi berbukit dan bergunung-gunung yang sebagian besar kemiringan lerengnya lebih dari 30% dengan luas lahan 6.419,75 Ha, yang berupa hutan seluas 716,25 Ha, semak belukar seluas 361,25 Ha, tegal dan kebun 4.647 Ha, dan sawah sebesar 1.056 Ha. Satu hal yang perlu mendapat perhatian adalah bahwa penggunaan lahan tegalan dan kebun yang berasal dari alih fungsi hutan secara ilegal oleh penduduk sekitarnya seluas 3.934 Ha. Alih fungsi hutan menjadi lahan tanaman sayuran akan menyebabkan laju erosi semakin meningkat. Berdasarkan permasalahan tersebut diatas perlu diadakan penelitian untuk mengetahui besarnya laju erosi dengan judul ”Prediksi Laju Erosi dengan Menggunakan Model Water Erossion Prediction Project (WEPP) di Sub DAS Junggo Hulu Kecamatan Bumiaji Kota Batu”.

(....jurnal selengkapnya dapat di download pada link berikut ini........)
DOWNLOAD!!!
Kamis, 28 Juli 2011
GeoWEPP
GeoWEPP (Water Erosion Prediction Project) adalah suatu model penyesuaian proses, berdasarkan pada ilmu erosi dan hidrologi modern, dirancang untuk menggantikan USLE (Universal Soil Loss Equation) untuk pendugaan secara berkala erosi tanah dengan mengatur konservasi tanah dan air serta perencanaan dan penilaian lingkungan (Morgan, 1995 dalam Yupi 2008).
Menurut Laflen et al., 1991; Lane dan Nearing, 1989 dalam Troeh et al., 2004, GeoWEPP merupakan model buatan Amerika pertama yang dikembangkan untuk memprediksi erosi pada skala luas yang tidak didasari oleh teknologi USLE. WEPP merupakan model physical based yang didasari oleh proses dan simulasi harian. Sedangkan pengertian WEPP (Water Erosion Prediction Project) menurut Morgan dan Nearing adalah suatu model penyesuian proses, berdasarkan pada ilmu erosi dan hidrologi modern, dirancang untuk menggantikan USLE untuk pendugaan secara berkala erosi tanah dengan mengukur konservasi tanah dan air serta perencanaan dan penilaian lingkungan.
Hingga saat ini aplikasi GeoWEPP telah berkembang dengan pesat dan semakin baik. Release terbaru aplikasi GeoWEPP yang dikeluarkan kementrian pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculutre) pada tahun 2010 merupakan yang terbaik menurut penulis. Di dalam aplikasi GeoWEPP tersebut semua elemen yang berpengaruh terhadap erosi diperhitungkan secara detail, mulai dari bentuk lereng, data iklim harian, bentuk pengelolaan tanaman dan lain sebagainya. Berikut ini adalah screenshot dari aplikasi GeoWEPP yang digunakan oleh penulis.

Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa GeoWEPP tidak sama dengan WEPP pada pendugaan laju erosi sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya. Meskipun keduanya sama-sama bertujuan memprediksi besarnya laju erosi, namun terdapat perbedaan yang cukup mendasar. Perbedaan tersebut adalah bahwa GeoWEPP menghasilkan simulasi prediksi laju erosi harian dengan menitik beratkan pada data-data sekunder dan pengoperasiannya sangat bergantung pada perangkat komputer, sedangkan WEPP menghasilkan analisis prediksi laju erosi sementara/harian yang input datanya diperoleh secara langsung dari lapangan dan perhitungannya dilakukan secara manual (tidak tergantung pada perangkat elektronik). Berdasarkan pengalaman penelitian yang pernah dilakukan penulis pada saat penyusunan skripsi, penulis berpendapat bahwa WEPP lebih merupakan model prediksi laju erosi secara empiris yang hasilnya mendekati erosi faktual yang sebenarnya terjadi di lapangan, sedangkan GeoWEPP lebih merupakan bentuk simulasi erosi terprediksi dengan bantuan perangkat dan ilmu pengetahuan teknologi informasi yang berkembang pada saat ini, tentunya dengan keakuratan yang sedikit berbeda.
Bagi rekan-rekan yang ingin mendonwload aplikasi GeoWEPP tersebut dapat diperoleh dari situs resminya di alamat berikut http://www.ars.usda.gov atau pada media peyimpanan 4shared di alamat berikut http://www.4shared.com.
Terima kasih atas perhatian pembaca, mohon maaf bila ada kesalahan..........
There is no ivory with no crack :))
Menurut Laflen et al., 1991; Lane dan Nearing, 1989 dalam Troeh et al., 2004, GeoWEPP merupakan model buatan Amerika pertama yang dikembangkan untuk memprediksi erosi pada skala luas yang tidak didasari oleh teknologi USLE. WEPP merupakan model physical based yang didasari oleh proses dan simulasi harian. Sedangkan pengertian WEPP (Water Erosion Prediction Project) menurut Morgan dan Nearing adalah suatu model penyesuian proses, berdasarkan pada ilmu erosi dan hidrologi modern, dirancang untuk menggantikan USLE untuk pendugaan secara berkala erosi tanah dengan mengukur konservasi tanah dan air serta perencanaan dan penilaian lingkungan.
Hingga saat ini aplikasi GeoWEPP telah berkembang dengan pesat dan semakin baik. Release terbaru aplikasi GeoWEPP yang dikeluarkan kementrian pertanian Amerika Serikat (United States Department of Agriculutre) pada tahun 2010 merupakan yang terbaik menurut penulis. Di dalam aplikasi GeoWEPP tersebut semua elemen yang berpengaruh terhadap erosi diperhitungkan secara detail, mulai dari bentuk lereng, data iklim harian, bentuk pengelolaan tanaman dan lain sebagainya. Berikut ini adalah screenshot dari aplikasi GeoWEPP yang digunakan oleh penulis.

Satu hal yang perlu diketahui adalah bahwa GeoWEPP tidak sama dengan WEPP pada pendugaan laju erosi sebagaimana telah dijelaskan pada artikel sebelumnya. Meskipun keduanya sama-sama bertujuan memprediksi besarnya laju erosi, namun terdapat perbedaan yang cukup mendasar. Perbedaan tersebut adalah bahwa GeoWEPP menghasilkan simulasi prediksi laju erosi harian dengan menitik beratkan pada data-data sekunder dan pengoperasiannya sangat bergantung pada perangkat komputer, sedangkan WEPP menghasilkan analisis prediksi laju erosi sementara/harian yang input datanya diperoleh secara langsung dari lapangan dan perhitungannya dilakukan secara manual (tidak tergantung pada perangkat elektronik). Berdasarkan pengalaman penelitian yang pernah dilakukan penulis pada saat penyusunan skripsi, penulis berpendapat bahwa WEPP lebih merupakan model prediksi laju erosi secara empiris yang hasilnya mendekati erosi faktual yang sebenarnya terjadi di lapangan, sedangkan GeoWEPP lebih merupakan bentuk simulasi erosi terprediksi dengan bantuan perangkat dan ilmu pengetahuan teknologi informasi yang berkembang pada saat ini, tentunya dengan keakuratan yang sedikit berbeda.
Bagi rekan-rekan yang ingin mendonwload aplikasi GeoWEPP tersebut dapat diperoleh dari situs resminya di alamat berikut http://www.ars.usda.gov atau pada media peyimpanan 4shared di alamat berikut http://www.4shared.com.
Terima kasih atas perhatian pembaca, mohon maaf bila ada kesalahan..........
There is no ivory with no crack :))
Label:
Download PC,
G-Fisik,
G-Teknik,
G-Terapan
Sabtu, 29 Januari 2011
Jika Gunung Ini Meletus, 2/3 Amerika Hancur

Taman Nasional Yellowstone di negara bagian Wyoming, Montana, dan Idaho, Amerika Serikat berada tepat di bawah puncak salah satu gunung api terbesar di dunia, Yellowstone. Sebuah supervulkano atau gunung api super.
Para ahli mengkhawatirkan, gunung yang masih aktif ini bakal meletus. Apalagi, kaldera Yellowstone menunjukkan tanda-tanda peningkatan aktivitas sejak tahun 2004 lalu.
Apa yang terjadi jika Yellowstone meletus? Jawabannya, tragedi. Kekuatan erupsinya diperkirakan ribuan kali lebih kuat dari letusan gunung St Helena pada tahun 1980.
Yellowstone akan memuntahkan lava ke langit, sementara abunya yang panas akan mematikan tanaman dan mengubur wilayah sekitarnya hingga radius 1.000 mil atau lebih dari 1.600 kilometer.
Tak hanya itu, dua per tiga wilayah Amerika Serikat bisa jadi tak bisa dihuni karena udara beracun yang berhembus dari kaldera. Ribuan penerbangan terpaksa dibatalkan, jutaan orang menjadi pengungsi.
Ini adalah mimpi buruk yang diprediksi para ilmuwan, jika Yellowstone kembali meletus untuk kali pertamanya dalam 600.000 tahun. Berita buruknya, ini mungkin terjadi di masa depan.
Penelitian menunjukkan, kaldera Yellowstone telah meletus tiga kali dalam kurun waktu 2,1 juta tahun. Kekhawatiran para ahli bukannya tanpa dasar. Peningkatan terekam sejak tujuh tahun lalu. Juga, dalam tiga tahun terakhir, lantai gunung naik tiga inchi per tahun. Ini tingkat peningkatan tercepat sejak pencatatan yang dimulai tahun 1923.
Namun, kurangnya data tak memungkinkan para ilmuwan memprediksi kapan gunung super itu bakal meletus. Ahli vulkanologi dari University of Utah, Bob Smith mengatakan, pengangkatan itu luar biasa karena meliputi wilayah yang cukup luas.
Awalnya, tambah dia, para ilmuwan khawatir peningkatan itu bisa mengarah ke letusan. Untungnya, "kami melihat magma berada di kedalaman sepuluh kilometer, kami tidak begitu khawatir," kata dia, seperti dimuat Daily Mail, Selasa 25 Januari 2011. Lain halnya jika magma berada di kedalaman dua atau tiga kilometer, para ahli bakal panik.

Sementara, Robert B. Smith, profesor geofisika di University of Utah, mengatakan, ruang magma gunung super itu terisi batu yang mencair.
"Tapi kita tidak tahu berapa lama proses ini berlangsung sebelum akhirnya terjadi letusan, atau sebaliknya aliran batu cair berhenti dan kaldera kembali rata."
Para ilmuwan yang memantau Yellowstone percaya, ruang penyimpanan magma atau reservoir yang membengkak di kedalaman enam mil di bawah tanah mungkin menyebabkan pengangkatan itu. Para ilmuwan juga mengamati gumpalan seperti kue panekuk yang terbentuk dari batuan cair seukuran kota Los Angeles di lokasi itu. Karena kondisinya yang ekstrem, sulit bagi ilmuwan untuk menentukan apa sebenarnya yang sedang terjadi di bawah Yellowstone.
Label:
G-Fisik,
G-Regional,
G-Sosial,
G-Teknik,
G-Terapan
Senin, 27 Desember 2010
Prediksi Hasil Sedimen
Salah satu indikator tingkat kerusakan sumber daya air dapat diketahui dari laju erosi dan sedimentasi. Laju erosi di berbagai DAS saat ini relatif tinggi. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya indeks erosi melebihi 1, yang berarti ditinjau dari segi eros DAS tersebut dalam kondisi jelek. Sedangkan sedimentasi diukur berdasarkan nilai TSS (Total Suspended Solids) dan TDS (Total Dissolved Solids). Pada beberapa sungai di Indonesia nilai TSS dan TDS melampaui 100 mg/liter. Kedua hal tersebut menunjukkan adanya tingkat erosi di daerah hulu DAS akibat berkurangnya areal hutan (Goeritno, 2003).
Hasil sedimen tergantung pada besarnya erosi total di DAS/sub Das dan tergantung pada transpor partikel-partikel tanah yang tererosi tersebut keluar dari daerah tangkapan air DAS/Sub DAS. Produksi sedimen umumnya mengacu pada besarnya laju sedimen yang melewati satu titik pengamatan tertentu dalam sistem DAS. Tidak semua tanah yang tererosi di permkaan daerah tangkapan air akan sampai ke titik pengamatan. Sebagian tanah tererosi tersebut akan terdeposisi di cekungan-cekungan permuukaan tanah, di kaki-kaki lereng, dan bentuk-bentuk penampung sedimen lainnnya. Oleh karenannya, besarnya hasil sedimen bervariasi mengikuti karakteristik fisik DAS/Sub DAS (Asdak, 2004).
Prediksi hasil sedimen yang paling umum digunakan adalah mencari hubungan antara konsentrasi sedimen layang dengan debit terukur. Konsentrasi sedimen diperoleh dari pengambilan sampel air baik secara teratur maupun sesaat pada tempat dimana debit sungai dilakukan pengukuran. Dengan terkumpulnya serangkaian pasangan data, data debit, dan konsentrasi sedimen layang yang bersesuaian di plot pada kertas logartima, dan regresi kuadrat terkecil diterapkan untuk mendapatkan garis lurus yang paling tepat melalui titik-titik pencar. Garis yang diperoleh disebut dengan lengkung sedimen (sediment rating curve) yang memiliki bentuk umum sebagai berikut (Suripin, 2002):
C = a.Qwb
Besarnya debit sedimen harian dirumuskan sebagai berikut:
Qs = 0,0864.C.Qw
Dimana:
Qs = debit sedimen layang (ton/hari)
a.b = konstanta
C = konsentrasi sedimen layang (mg/liter)
Qw = debit aliran
Hasil sedimen tergantung pada besarnya erosi total di DAS/sub Das dan tergantung pada transpor partikel-partikel tanah yang tererosi tersebut keluar dari daerah tangkapan air DAS/Sub DAS. Produksi sedimen umumnya mengacu pada besarnya laju sedimen yang melewati satu titik pengamatan tertentu dalam sistem DAS. Tidak semua tanah yang tererosi di permkaan daerah tangkapan air akan sampai ke titik pengamatan. Sebagian tanah tererosi tersebut akan terdeposisi di cekungan-cekungan permuukaan tanah, di kaki-kaki lereng, dan bentuk-bentuk penampung sedimen lainnnya. Oleh karenannya, besarnya hasil sedimen bervariasi mengikuti karakteristik fisik DAS/Sub DAS (Asdak, 2004).
Prediksi hasil sedimen yang paling umum digunakan adalah mencari hubungan antara konsentrasi sedimen layang dengan debit terukur. Konsentrasi sedimen diperoleh dari pengambilan sampel air baik secara teratur maupun sesaat pada tempat dimana debit sungai dilakukan pengukuran. Dengan terkumpulnya serangkaian pasangan data, data debit, dan konsentrasi sedimen layang yang bersesuaian di plot pada kertas logartima, dan regresi kuadrat terkecil diterapkan untuk mendapatkan garis lurus yang paling tepat melalui titik-titik pencar. Garis yang diperoleh disebut dengan lengkung sedimen (sediment rating curve) yang memiliki bentuk umum sebagai berikut (Suripin, 2002):
C = a.Qwb
Besarnya debit sedimen harian dirumuskan sebagai berikut:
Qs = 0,0864.C.Qw
Dimana:
Qs = debit sedimen layang (ton/hari)
a.b = konstanta
C = konsentrasi sedimen layang (mg/liter)
Qw = debit aliran
SDR (Sediment Delivery Ratio)
Proses erosi pada tanah selanjutnya diikuti oleh proses pengangkutan dan pengendapan. Pengangkutan terjadi selama aliran permukaan masih mempunyai kemampuan mengnagkut. Sumber endapan adalah lahan pertanian, tempat penimbunan tanah, tempat pembangunan, lahan hutan terbuka, lahan kritis, tempat penambangan, saluran dan sungai.
Tanah dan bagian-bagian yang terangkut dari suatu tempat yang tererosi secara umum disebut sedimen. Sebagian saja dari sedimen yang akan sampai dan masuk ke dalam sungai dan sebagian yang lain terbawa ke luar daerah tampung aliran sungai. Nisbah jumlah sedimen yang betul-betul terbawa oleh sungai dari suatu daerah terhadap jumlah tanah yang tererosi dari daerah tersebut disebut Nisbah Pelepasan Sedimen (NPS) atau Sediment Delivery Ratio (SDR). Besaran ini tergantung pada luas daerah aliran, karakteristik daerah aliran yang tercermin pada relief, panjang aliran dan rasio kekasaran lahan.
Tanah dan bagian-bagian yang terangkut dari suatu tempat yang tererosi secara umum disebut sedimen. Sebagian saja dari sedimen yang akan sampai dan masuk ke dalam sungai dan sebagian yang lain terbawa ke luar daerah tampung aliran sungai. Nisbah jumlah sedimen yang betul-betul terbawa oleh sungai dari suatu daerah terhadap jumlah tanah yang tererosi dari daerah tersebut disebut Nisbah Pelepasan Sedimen (NPS) atau Sediment Delivery Ratio (SDR). Besaran ini tergantung pada luas daerah aliran, karakteristik daerah aliran yang tercermin pada relief, panjang aliran dan rasio kekasaran lahan.
Rabu, 18 Agustus 2010
Pengertian Geografi
Istilah geografi untuk pertama kalinya diperkenalkan oleh Erastothenes pada abad ke 1. Menurut Erastothenes, geografi berasal dari kata geographica yang berarti penulisan atau penggambaran mengenai bumi. Berdasarkan pendapat tersebut, maka para ahli ilmu geografi (geograf) sependapat bahwa Erastothenes dianggap sebagai peletak dasar pengetahuan geografi.
Pada awal abad ke-2, muncul tokoh baru yaitu Claudius Ptolomaeus mengatakan bahwa ilmu geografi adalah suatu penyajian melalui peta dari sebagian dan seluruh permukaan bumi. Jadi Claudius Ptolomaeus mementingkan peta untuk memberikan informasi tentang permukaan bumi secara umum. Kumpulan dari peta Claudius Ptolomaeus dibukukan, diberi nama 'Atlas Ptolomaeus'.
Menjelang akhir abad ke-18, perkembangan ilmu geografi semakin pesat, dengan berkembangnya aliran fisis determinis dengan tokohnya yaitu seorang geograf terkenal dari USA yaitu Ellsworth Hunthington. Di Perancis faham posibilis terkenal dengan tokoh geografnya yaitu Paul Vidal de la Blache, sumbangannya yang terkenal adalah "Gen re de vie".
Perbedaan kedua faham tersebut, kalau fisis determinis memandang manusia sebagai figur yang pasif sehingga hidupnya dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Sedangkan posibilisme memandang manusia sebagai makhluk yang aktif, yang dapat membudidayakan alam untuk menunjang hidupnya.
Perlu Anda ketahui, Ilmu Geografi lebih dari sekedar kartografi, studi tentang peta. Ilmu ini tidak hanya menjawab apa dan dimana di atas muka bumi, tapi juga mengapa di situ dan tidak di tempat lainnya, yang kadang diartikan dengan "lokasi pada ruang." Hal ini dipelajari dalam Geografi, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia. Juga mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi.
Beberapa cabang ilmu geografi antara lain :
Geografi fisik
Cabang ini memusatkan pada geografi sebagai ilmu bumi, menggunakan biologi untuk memahami pola flora dan fauna global, dan matematika dan fisika untuk memahami pergerakan bumi dan hubungannya dengan anggota tata surya yang lain. Termasuk juga di dalamnya ekologi muka bumi dan geografi lingkungan.
Geografi manusia
Cabang geografi non-fisik juga disebut antropogeografi yang fokus sebagai ilmu sosial, aspek non-fisik yang menyebabkan fenomena dunia. Mempelajari bagaimana manusia beradaptasi dengan wilayahnya dan manusia lainnya, dan pada transformasi makroskopis bagaimana manusia berperan di dunia. Bisa dibagi menjadi: geografi ekonomi, geografi politik, geografi sosial, geografi feminisme dan geografi militer.
Geografi manusia-lingkungan
Selama masa determinisme lingkungan, ilmu geografi bukan merupakan ilmu tentang hubungan keruangan, tetapi tentang bagaimana manusia dan lingkungannya berinteraksi. walaupun paham determinisme lingkungan sudah tidak berkembang, masih ada tradisi kuat di antara geografer untuk mengkaji hubungan antar manusia dengan alam. Terdapat dua bidang pada geografi manusia-lingkungan: ekologi budaya dan politik dan penelitian risiko-bencana.
Ekologi budaya dan politik
Ekologi budaya muncul sebagai hasil kerja Carl Sauer pada geografi dan pemikiran dalam antropologi. Ekologi budaya mempelajari bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Ilmu keberlanjutan (sustainability) kemudian tumbuh dari tradisi ini.
Penelitian risiko-bencana
Penelitian pada bencana dimulai oleh Gilbert F. Withe, yang mencoba memahami mengapa orang tinggal dataran banjir yang mudah terkena bencana.
Geografi sejarah
Cabang ilmu geografi ini mencari penjelasan bagaimana budaya dari berbagai tempat di bumi berkembang dan menjadi seperti sekarang. Studi tentang muka bumi merupakan satu dari banyak kunci atas bidang ini - banyak disimpulkan tentang pengaruh masyarakat dahulu pada lingkungan dan sekitarnya.
Pada awal abad ke-2, muncul tokoh baru yaitu Claudius Ptolomaeus mengatakan bahwa ilmu geografi adalah suatu penyajian melalui peta dari sebagian dan seluruh permukaan bumi. Jadi Claudius Ptolomaeus mementingkan peta untuk memberikan informasi tentang permukaan bumi secara umum. Kumpulan dari peta Claudius Ptolomaeus dibukukan, diberi nama 'Atlas Ptolomaeus'.
Menjelang akhir abad ke-18, perkembangan ilmu geografi semakin pesat, dengan berkembangnya aliran fisis determinis dengan tokohnya yaitu seorang geograf terkenal dari USA yaitu Ellsworth Hunthington. Di Perancis faham posibilis terkenal dengan tokoh geografnya yaitu Paul Vidal de la Blache, sumbangannya yang terkenal adalah "Gen re de vie".
Perbedaan kedua faham tersebut, kalau fisis determinis memandang manusia sebagai figur yang pasif sehingga hidupnya dipengaruhi oleh alam sekitarnya. Sedangkan posibilisme memandang manusia sebagai makhluk yang aktif, yang dapat membudidayakan alam untuk menunjang hidupnya.
Perlu Anda ketahui, Ilmu Geografi lebih dari sekedar kartografi, studi tentang peta. Ilmu ini tidak hanya menjawab apa dan dimana di atas muka bumi, tapi juga mengapa di situ dan tidak di tempat lainnya, yang kadang diartikan dengan "lokasi pada ruang." Hal ini dipelajari dalam Geografi, baik yang disebabkan oleh alam atau manusia. Juga mempelajari akibat yang disebabkan dari perbedaan yang terjadi.
Beberapa cabang ilmu geografi antara lain :
Geografi fisik
Cabang ini memusatkan pada geografi sebagai ilmu bumi, menggunakan biologi untuk memahami pola flora dan fauna global, dan matematika dan fisika untuk memahami pergerakan bumi dan hubungannya dengan anggota tata surya yang lain. Termasuk juga di dalamnya ekologi muka bumi dan geografi lingkungan.
Geografi manusia
Cabang geografi non-fisik juga disebut antropogeografi yang fokus sebagai ilmu sosial, aspek non-fisik yang menyebabkan fenomena dunia. Mempelajari bagaimana manusia beradaptasi dengan wilayahnya dan manusia lainnya, dan pada transformasi makroskopis bagaimana manusia berperan di dunia. Bisa dibagi menjadi: geografi ekonomi, geografi politik, geografi sosial, geografi feminisme dan geografi militer.
Geografi manusia-lingkungan
Selama masa determinisme lingkungan, ilmu geografi bukan merupakan ilmu tentang hubungan keruangan, tetapi tentang bagaimana manusia dan lingkungannya berinteraksi. walaupun paham determinisme lingkungan sudah tidak berkembang, masih ada tradisi kuat di antara geografer untuk mengkaji hubungan antar manusia dengan alam. Terdapat dua bidang pada geografi manusia-lingkungan: ekologi budaya dan politik dan penelitian risiko-bencana.
Ekologi budaya dan politik
Ekologi budaya muncul sebagai hasil kerja Carl Sauer pada geografi dan pemikiran dalam antropologi. Ekologi budaya mempelajari bagaimana manusia beradaptasi dengan lingkungan alamnya. Ilmu keberlanjutan (sustainability) kemudian tumbuh dari tradisi ini.
Penelitian risiko-bencana
Penelitian pada bencana dimulai oleh Gilbert F. Withe, yang mencoba memahami mengapa orang tinggal dataran banjir yang mudah terkena bencana.
Geografi sejarah
Cabang ilmu geografi ini mencari penjelasan bagaimana budaya dari berbagai tempat di bumi berkembang dan menjadi seperti sekarang. Studi tentang muka bumi merupakan satu dari banyak kunci atas bidang ini - banyak disimpulkan tentang pengaruh masyarakat dahulu pada lingkungan dan sekitarnya.
Label:
G-Fisik,
G-Regional,
G-Sosial,
G-Teknik,
G-Terapan
Kamis, 10 Juni 2010
Stasiun Luar Angkasa

Apakah yang terbayang olehmu ketika mendengar kata "stasiun"? Mungkin ada yang menjawab bis, kereta api dan lain-lain. Tapi stasiun yang satu ini berbeda lho. Stasiunnya berada di luar angkasa. Kok bisa ya? Di mana letaknya dan bagaimana cara sampai kesana ya ?
Stasiun Luar Angkasa Internasional (bahasa Inggris: International Space Station, ISS) adalah sebuah gabungan rencana stasiun luar angkasa, khususnya Mir 2 Rusia, Stasiun Luar Angkasa Freedom Amerika Serikat dan Fasilitas orbital Columbus Eropa, mewakilkan kehadiran manusia tetap di luar angkasa: telah ditempati oleh paling tidak dua orang sejak 2 November 2000. Setiap kali pergantian awak, keempat awak lama dan baru ada di sana dan juga paling tidak satu pengunjung lainnya.
ISS merupakan projek gabungan dari 16 negara: AS, Rusia, Jepang, Kanada, Brasil dan 11 negara dari Uni Eropa. Dan agensi luar angkasa mereka adalah NASA Amerika, Russian Federal Space Agency, Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Canadian Space Agency (CSA/ASC), Brazilian Space Agency (Agência Espacial Brasileira) (AEB) dan European Space Agency (ESA).
Stasiun luar angkasa ini terletak di orbit sekitar Bumi dengan ketinggian sekitar 360 km, sebuah tipe orbit yang biasanya disebut orbit Bumi rendah. (Ketinggian persisnya bervariasi sejalan dengan waktu sekitar beberapa kilometer dikarenakan seretan atmosfer dan "reboost". Stasiun ini, rata-rata, kehilangan ketinggian 100 meter perhari.) Dia mengorbit Bumi dengan periode 92 menit; pada 1 Desember 2003 dia telah menyelesaikan 33.500 orbit sejak peluncurannya.
Dia utamanya dilayani oleh Pesawat ulang-alik, dan Soyuz dan Pesawat luar angkasa Progress. Pada 2005 dia masih dalam pembuatan dan berkapasitas 3 awak. Sejauh ini, seluruh awak tetap datang dari program luar angkasa Rusia atau AS. Tetapi ISS telah dikunjungi oleh banyak astronot, beberapa dari mereka bukan dari dua negara di atas (dan juga oleh 2 turis luar angkasa).
Nama "Stasiun Luar Angkasa Internasional" (disingkat "MKS" dalam bahasa Rusia) menandakan sebuah penyelesaian netral mengakhiri perselisihan pendapat tentang namanya. Awalnya ingin dinamakan "Stasiun Luar Angkasa Alpha" namun ditolak oleh Rusia, karena akan dikira stasiun itu adalah sesuatu yang baru, namun Uni Soviet telah mengoperasikan delapan stasiun orbital jauh sebelum ISS diluncurkan (lihat Stasiun Luar Angkasa). Usulan Rusia kepada namanya adalah "Atlant" ditolak oleh AS karena khawatir kemiripan nama dengan Atlantis, nama benua legenda yang tenggelam ke lautan. Penggunaan Atlantis juga akan menyebabkan kebingungan dengan Pesawat ulang alik Atlantis.
Sejarah
Awalnya direncanakan sebagai sebuah "Stasiun Angkasa Freedom" NASA dan dipromosikan oleh Presiden Reagan, dan kemudian diketahui terlalu mahal. Setelah berakhirnya Perang Dingin, dia diadakan kembali sebagai proyek gabungan NASA dan Rosaviakosmos Russia. Pada 1 Desember 1987, NASA mengumumkan empat nama perusahaan AS yang akan diberikan kontrak untuk menolong membuat bagian buatan-AS dari Stasiun Angkasa: Boeing Aerospace, Astro-Space Division General Electric, McDonnell Douglas, dan Rocketdyne Division Rockwell.
Seksi pertama ditaruh di orbit pada 1998. Dua bagian lainnya ditambahkan sebelum awak pertama dikirim. Awak pertama tiba pada 2 November, 2000 dan terdiri dari astronot AS William Shepherd dan dua kosmonot Russia, Yuri Gidzenko dan Sergei Krikalev. Mereka memutuskan untuk memanggil stasiung angkasa tersebut "Alpha" tetapi penggunaan nama tersebut dibatasi hanya misi mereka.
ISS ternyata jauh lebih mahal dari perkiraan awal NASA dan jadwalnya sering terlambat. Pada 2003 dia masih belum bisa menempatkan tujuh awak seperti yang diperkirakan, dan oleh karena itu membatasi jumlah ilmiah yang dapat dilakukan dan membuat partner Eropa dalam proyek tersebut marah. Pada Juli 2004 NASA setuju untuk menyelesaikan stasiun ke tahap di mana dia akan dapat ditempati oleh 4 awak dan akan meluncurkan seksi tambahan seperti modul eksperimen Jepang. NASA akan melanjutkan menangani konstruksi dan Rusia akan terus meluncurkan dan mengganti awak stasiun.
Menurut konfigurasi pada 2003, stasiun ini memiliki massa 187,016 kg dan memiliki tempat hidup 425 m³. Ukurannya adalah panjang 73m, lebar 52m, dan tinggi 27,5 m. Operasi telah melibatkan 16 Space Shuttle Amerika dan 22 Russia. Penerbangan Rusia, 8 diantaranya berawak dan 14 tidak berawak. Konstruksi membutuhkan 51 jalan angkasa, 25 di antaranya menggunakan-shuttle dan 26 menggunakan-ISS. Jumlah waktu jalan angkasa di stasiun telah mencapai 318 jam, 37 menit.
Sumber : id.wikipedia.org
Senin, 15 Maret 2010
PEMANFAATAN PANTAI KARST KABUPATEN GUNUNGKIDUL
PEMANFAATAN PANTAI KARST KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Dra. Astrid Damayanti, M.Si , Ranum Ayuningtyas, S.Si, Anindita Dyah K, S.Si
e-mail : astridd_maya@yahoo.com, ranum.tiga@gmail.com, misao_sikepang@yahoo.com
Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia
ABSTRAK
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki panjang pantai 95.181 km (Anonim, 2006) menempati posisi ke-4 setelah Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia. Pantai di Indonesia menawarkan beragam keindahan alamnya yang bernilai jual tinggi untuk kegiatan pariwisata, olahraga kebaharian, dan sangat potensial bagi pengembangan ekonomi nasional baik karena potensi ruang dan kekayaan alamnya maupun nilai estetikanya. Walaupun memiliki potensi yang besar, kegiatan ekonomi penduduk Indonesia di wilayah pantai masih berorientasi ke daratan (Damayanti, 2001).
Pulau Jawa yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi menyebabkan tingginya kepekaan pantai terhadap pencemaran dan gangguan lingkungan lainnya akibat pembangunan perkotaan, permukiman, perikanan dan pelabuhan serta pengrusakan lain yang mungkin ditimbulkan oleh pemanasan global. Kondisi tersebut juga berpotensi terjadi pada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di selatan Pulau Jawa yang pantainya menghadap ke Samudera Hindia. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kondisi pantai yang berbeda jika dibandingkan kondisi pantai di utara Jawa. Walaupun demikian, pantai di selatan Yogyakarta memiliki potensi yang sama dengan pantai di utara Jawa namun harus dibedakan cara pembangunan dan pemanfaatannya karena pantai di selatan Yogyakarta kondisi memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal kondisi lokasi (menghadap ke Samudera Hindia), geologi dan bathimetri pantai. Oleh karena itu informasi akan karakteristik lingkungan pantai sangat diperlukan agar pemanfaatan kekayaan alam menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan sehingga perubahan tataguna ruang tidak melebihi daya dukungnya
Kabupaten Gunungkidul, adalah salah satu kabupaten yang memiliki pantai yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Pantai di Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah yang memiliki karakteristik yang sangat khas dan berbeda dengan daerah lainnya, Gunungkidul merupakan daerah karst dan di bagian utaranya merupakan daerah alluvial yang keduanya memiliki karakteristik masing-masing. Wilayah karst yang terkenal tandus memiliki pantai yang juga memiliki sifat karst menyimpan banyak potensi untuk berbagai kegiatan ekonomi.
Pantai karst di Kabupaten Gunungkidul tepatnya Pantai Objek Wisata Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Ngandong, dan Sundak memiliki persamaan dalam hal kondisi geologi, genesa, dan proses pembentukan morfologi pantai, namun demikian untuk setiap pantainya memiliki karakteristik lingkungan pantai yang berbeda-beda. Perbedaan karakteristik lingkungan dibuktikan dengan terdapatnya perbedaan bentuk pantai dan diameter butir sedimen, perbedaan ini juga harus diketahui kaitannya dengan kondisi gelombang, arus laut, suhu, salinitas, dan pH laut pada masing-masing pantainya. Dengan mengetahui kaitan antara kondisi fisik dan kimia pantai, maka kelak juga diketahui potensi masing-masing pantai. Dengan demikian diharapkan daerah tersebut dapat membangun dan mengembangkan kemampuan ekonomi disesuaikan dengan kondisi lingkungannya, berkelanjutan dengan memperhatikan kondisi dan menjaga keseimbangan lingkungan hidup.
1.2 Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Pantai yang menjadi daerah penelitian masing-masing memiliki persamaan dalam hal kondisi geologi, genesa, dan proses pembentukan morfologi pantai, namun memiliki perbedaan karakteristik lingkungan secara fisik dan kimiawi. Adapun pertanyaan penelitian yaitu :
1. Bagaimanakah karakteristik lingkungan pantai karst di daerah penelitian ?
2. Bagaimana pemanfaatan pantai karst di daerah penelitian saat ini dan dimasa yang akan datang ?
1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui dan memahami keadaan atau kondisi morfologi lingkungan dan proses yang terjadi pada pantai karst yang menjadi daerah penelitian. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan masyarakat sekitar pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, agar pemanfaatan dan pengembangan potensi kawasan pantai di daerah karst tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungannya.
Sedangkan sasaran penelitian ini adalah :
1. Mengetahui karakteristik lingkungan pantai karst di daerah penelitian
2. Mengetahui pemanfaatan pantai karst di daerah penelitian
1.4 Batasan dan Definisi Oprasional
1. Pantai adalah bagian dari muka bumi yang merupakan garis khayal tempat bertemunya daratan dan perairan, dari muka air laut rata-rata terendah sampai muka air laut rata-rata tertinggi (Sandy, 1996).
2. Karst adalah adalah bentukan muka bumi yang sangat unik yang merupakan hasil dari erosi bawah tanah yang memiliki batuan induk seperti limestone dan marbel yang terlarutkan oleh air.
3. Pantai karst adalah bagian dari muka bumi mulai dari muka air laut rata-rata terendah sampai muka air laut rata-rata tertinggi. Pada bagian tersebut terdapat akumulasi dari sedimen lepas seperti kerikil, pasir, yang memiliki karakteristik bentukan dari hasil pelarutan kapur oleh agen air yang memiliki bahan batuan induk kebanyakan seperti limestone, marbel dan dolomite.
4. Karakteristik lingkungan pantai adalah gambaran kondisi lingkungan pantai yang khas mencakup kondisi fisik dan kimianya berupa : lereng gisik, energi gelombang, diameter butir sedimen, salinitas air laut, suhu air laut, dan pH air laut.
5. Lereng Gisik/pantai adalah besar sudut yang terbentuk antara permukaan pantai dengan sumbu garis datar dalam satuan derajat.
6. Energi gelombang adalah daya hasil dari gangguan yang merambat pada media air laut yang berpindah dari satu tempat kepada tempat lain tanpa mengakibatkan partikel medium berpindah secara permanen; yaitu tidak ada perpindahan secara masal dalam satuan joule.
7. Diameter butir sedimen adalah ukuran segmen garis yang melalui titik pusat dan menghubungkan dua titik pada butir sedimen dalam satuan milimeter.
8. Salinitas air laut adalah kadar garam yang terkandung dalam air laut dalam satuan permil (‰)
9. Suhu air laut adalah indikasi jumlah energi (panas) yang terdapat dalam satu sistem atau massa dalam satuan derajat celcius (°C)
10. pH air laut adalah derajat keasaman air laut
1.5 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Daerah penelitian meliputi pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Ngandong dan Sundak di Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan menekankan pada pendekatan kualitatif sebagai penunjang dari hasil analisis spasial.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. lereng pantai, dengan parameter besar sudut lereng gisik/pantai dalam satuan derajat (°) kemudian dikonvert ke dalam satuan persen (%);
2. energi gelombang, dengan parameter :
a. besar energi gelombang dalam satuan joule;
b. tipe gelombangnya;
3. butir sedimen, dengan parameter :
a. diameter butir sedimennya dalam satuan millimeter (mm);
b. warna butir sedimen untuk mengetahui asal sedimennya.
4. Salinitas air laut, dengan parameter banyaknya garam yang terlarut dalam 1 iter air laut
5. Suhu air laut, dengan parameter jumlah energi (panas) yang terdapat pada luasan area tertentu dalam satuan derajat celcius (°C)
6. Derajat keasaman air laut, dengan parameter kandungan elektrolit H+ yang terdapat pada air laut pada luasan area tertentu
Setelah mendapatkan data sebagai parameter dari variabel-variabel, data yang didapatkan kemudian dikelaskan dan dapat dibuat matriksnya. Pengkelasan datanya seperti berikut :
Tabel 1. Kelas Lereng Gisik/pantai
Lereng Gisik
Presentase Lereng (%) Kategori
0 - 2 Datar
2 - 15 Datar Bergelombang
15 - 25 Bergelombang
25 - 40 Terjal
> 40 Curam
Sumber : Pethick, 1984
Tabel 2. Kelas Energi Gelombang
Energi Gelombang
Joule Kategori
≥ 1871 Kuat
< 1871 Lemah
Sumber : Pethick, 1984
Tabel 3. Kelas Diameter Butir Sedimen
Diameter Butir Sedimen
Phi Kategori
-1 – 0 Sangat Kasar
0 - +1 Kasar
+1 - + 2 Medium
+2 - +3 Halus
+3 - +4 Sangat Halus
Sumber : Wenthworth dalam Pethick, 1984
Tabel 4. Kelas Salinitas Air Laut
Salinitas
‰ Kategori
< 28 ‰ Rendah
28 - 34 ‰ Sedang
> 34 ‰ Tinggi
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan
Tabel 5. Kelas Suhu Air Laut
Suhu
°C Kategori
> 35 °C Tinggi
26 - 35 °C Sedang
< 26 °C Rendah
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan
Tabel 6. Kelas Keasaman Air Laut
Derajat Keasaman
pH Kategori
8,5 - 9 Basa tinggi
7,5 - 8,5 Basa rendah
7 Netral
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan
1.6 Analisis Data
Penelitian mengkaji data-data yang sudah diolah secara spasial yang kemudian dianalis lebih lanjut untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian dengan cara analisis deskriptif secara spasial untuk mengetahui karakteristik lingkungan masing-masing pantai dengan mendeskripsikan bagaimana kondisi lereng gisik/pantai, butir sedimen, energi gelombang, salinitas air laut, suhu air laut dan pH air laut pada masing masing pantai dan kaitan dengan pemafaatannya.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil survey lapang, pengolahan data dan hasil analisis spasial didapatkan informasi bahwa karakteristik lingkungan pantai karst pada wilayah penelitian dari barat ke timur memiliki karakteristik lingkungan pantai yang berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pemanfaatan pantai oleh warga yang tinggal di sekitar pantai. Berikut akan dibahas secara rinci karakteristik lingkungan dan pemanfaatan masing-masing pantai :
2.1 Karakteristik Lingkungan Pantai Baron dan Pemanfaatannya
Pantai Baron adalah pantai yang letaknya paling barat pada daerah penelitian. Pantai Baron memiliki kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 4,86° atau 8,5% yang termasuk jenis lereng datar bergelombang (lihat Peta 4). Pantai Baron memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada pantai Baron adalah 61 m, lebar sedimen Pantai Baron adalah lebar sedimen yang paling besar pada daerah penelitian. Hal ini didukung dengan kondisi Pantai Baron yang berlereng landai sehingga membuat jangkauan pasang surut litoral pantai sangat jauh. Berdasarkan hasil observasi dan perhitungan, jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Baron sekitar 61 meter.
Jangkauan pasang surut yang cukup panjang memberikan banyak energi tambahan gelombang laut pada Pantai Baron untuk mengikis pantainya. Energi gelombang pada Pantai Baron adalah 2193 joule (termasuk kedalam kelas energi gelombang kuat, lihat Peta 5), energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai. Gelombang tersebut tidak lepas dari kontribusi angin yang berhembus pada Pantai Baron yang kecepatannya sebesar 44,2 meter tiap detik. Pantai Baron yang yang bentuk pantainya menjorok ke darat dan memiliki muara sungai membuat pantainya memiliki fluktuasi yang cukup tinggi terhadap perubahan bentuk aliran sungainya. Muara sungai memberikan pengaruh yang cukup kuat pada karakteristik sedimen pada pantai dan aliran sungai menuju samudera. Pengaruh ombak dan tidak terdapatnya halangan pada pantai (barrier) membuat Pantai Baron sangat mudah tererosi namun dengan tenaga yang jauh lebih kecil karena lereng gisik pantai yang landai.
Diameter butir sedimen pantai Baron sebesar 0,515 mm, ukuran butir sedimen yang cukup halus untuk pantai karst. Butir sedimen Pantai Baron termasuk ke dalam jenis sedimen pasir medium (lihat Peta 3) dengan Φ = 0.957 (skala Wenthworth) yang merupakan hasil bentukan dari 2 (dua) hal, yaitu sedimentasi materi yang diendapkan sungai bawah tanah yang bermuara ke pantai dan hasil pengikisan laut. Namun jika dibandingkan dengan kondisi butir sedimen pada pantai lain, butir sedimen pada Pantai Baron memiliki ciri khas, yaitu lebih halus dan berwarna lebih gelap (hitam). Warna butir sedimen Pantai Baron yang gelap menunjukkan bahwa butir sedimen tersebut berasal dari sungai yang bermuara di pantainya.
Pantai Baron memiliki kisaran salinitas antara 28 – 31 ‰. Bagian selatan memiliki nilai salinitas yang rendah. Hal ini disebabkan karena di pantai Baron terdapat muara sungai bawah tanah. Pada muara sungai ini terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dengan air laut sehingga salinitas airnnya pun menjadi lebih kecil dibandingkan dengan salinitas air di pantai-pantai lainnya di wilayah penelitian.
Suhu air laut di pantai Baron berkisar antara 26 - 30˚ C. Suhu udara di bagian utara dimana terdapat muara sungai bawah tanah lebih rendah dibanding bagian selatan.
Derajat keasaman air laut di pantai Baron merupakan yang terendah diantara pantai-pantai di Gunungkidul yaitu sebesar 7,5. Hal ini disebabkan oleh adanya muara sungai bawah tanah di pantai Baron yang menyebabkan terjadinya percampuran antara air tawar dengan air laut. Keasaman air laut di bagian selatan pantai Baron atau di dekat muara sungai bawah tanah mendekati 7. Sedangkan di bagian utaranya yaitu wilayah yang jauh dari muara sungai besarnya PH berkisar antara 7,5 dan 8.
Pantai Baron yang memiliki jangkauan pasang surut yang cukup panjang serta kondisi lereng pantai yang landai menjadikan pantai ini mudah untuk dilewati perahu nelayan penduduk sekitar, oleh karena itu kegiatan perikanan laut tangkap menjadi salah satu pemanfaatan pantai oleh warga sekitar yang mendatangkan kesejahteraan penduduk sekitarnya. Selain itu pula, terdapatnya fenomena muara sungai di pantai yang memiliki debit air yang deras dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai sumber air bersih dan pembangkit tenaga listrik. Pemanfaatan pantai Baron lainnya adalah untuk pariwisata, karena kondisi alam pantai Baron yang indah dengan butir sedimen yang halus. Dengan adanya pemanfaatan pantai sebagai pariwisata, penduduk juga memiliki kesempatan lebih untuk menambah pendapatan dengan menjadi penjual souvenir pariwisata pantai serta fasilitas penunjang pariwisata lainnya seperti restoran atau rumah makan, penginapan atau resort dan lainnya.
2.2 Karakteristik Lingkungan Pantai Kukup dan Pemanfaatannya
Pantai Kukup memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 6,74° atau 11,8% yang termasuk ke dalam kelas lereng datar bergelombang. Pantai Kukup memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Kukup adalah 18,5 meter, dan jangkauan pasang surut litoral pada pantainya 18,4 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron, hal ini disebabkan oleh lereng Pantai Kukup yang curam.
Energi gelombang pada Pantai Kukup adalah 3560 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone, akibat gelombang, arus laut dan kecepatan anginnya sebesar 69 meter perdetik.
Pantai Kukup memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm dengan warna sedimen yang cerah, butir sedimen Pantai Kukup termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Warna butir sedimen yang cerah diakibatkan karena tidak adanya muara sungai pada pantai Kukup, hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen dari Pantai Kukup berasal dari kikisan dasar laut. Namun berdasarkan hasil pengolahan data di laboratorium terdapat butir sedimen yang berwarna hitam yang jumlahnya sangat sedikit (minoritas). Hal ini disebabkan sampel sedimen tersebut diambil dekat dengan karang pantai. Hal ini juga menunjukkan bahwa butir sedimen yang dekat dengan cliff berasal dari hasil kikisan tebing pantai tersebut.
Berdasarkan pengambilan sampel air laut di sekitar pantai Kukup, maka didapatkan salinitas air laut sekitar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Kukup berkisar antara 32 – 35 ˚ C. Suhu air perairan yang terlindung oleh pulau-pulau karang lebih rendah dibanding dengan suhu air di perairan yang terbuka. Derajat keasaman air laut di perairan pantai Kukup adalah sebesar 9.
Pantai Kukup adalah salah satu pantai tujuan wisata di Kabupaten Gunungkidul yang sangat menarik, pada pantai ini terdapat pulau karang dan memiliki karang yang menempel tepat pada pinggir pantainya. Pemanfaatan pantai sebagai kawasan tujuan pariwisata juga dapat dimanfaatkan penduduk dengan menyediakan fasilitas penunjang pariwisata seperti penginapan, restoran atau rumah makan, tempat belanja souvenir pantai, serta show room ikan hias, karena di pantai Kukup banyak nelayan ikan yang sengaja menangkan biota laut yang terjebak di karang-karang ketika pantai surut, biasanya biota ini memiliki kondisi fisik yang cantik dengan warna-warna yang bervariasi seperti ikan, bintang laut, dan bulu babi.
Selain pemanfaatan pantai sebagai tujuan pariwisata, dan ikan hias laut, pantai Kukup juga dapat dimafaatkan sebagai sumber budidaya rumput laut. Pantai Kukup yang memiliki karang yang menempel dengan pantai menjadi habitat yang baik bagi rumput laut didukung pula dengan kondisi kimia air laut pada pantai ini yang cocok untuk budidaya rumput laut. Namun pemanfaatan rumput laut saat ini tidak maksimal, dan pemanenannya masih menggunakan alat yang dapat merusak substratnya yaitu karang. Oleh karena itu hendaknya pemafaatan pantai sebagai budidaya rumput laut dapat diusahakan agar lebih maksimal lagi dengan menerapkan metode pengembagan budidaya rumput laut dengan alat pemanen yang tidak merusak karang sebagi substrat rumput lautnya.
2.3 Karakteristik Lingkungan Pantai Sepanjang dan Pemanfaatannya
Sesuai dengan namanya, Pantai Sepanjang adalah pantai yang bentuknya memanjang dari barat ke timur, dan tidak memiliki pulau karang yang menghalangi (tidak memiliki barrier). Pantai Sepanjang memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 21,28° atau 11,8% termasuk ke dalam kelas lereng curam. Pantai Sepanjang memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Sepanjang adalah 10,6 m, dengan jangkauan pasang surut litoral padanya hanya 9,82 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan pantai yang lainnya, hal ini disebabkan oleh lereng pantai Sepanjang yang curam.
Dengan kondisi jangkauan pasang surut yang kecil, pantai Sepanjang tidak mendapatkan kontribusi yang besar dalam menambah energi pada pantainya untuk proses pengikisan. Energi gelombang pada Pantai Sepanjang adalah 4036 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai yang dipengaruhi juga oleh kecepatan angin yang berhembus dengan kecepatan 43.9 meter tiap detik.
Pantai Sepanjang memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm, butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya yang merupakan hasil dari pengikisan dasar laut yang diendapkan pada pantai.
Besar salinitas air laut di perairan pantai Sepanjang berkisar antara 33 - 34 ‰. Semakin menjauhi garis pantai, salinitas air laut semakin tinggi. Suhu air laut perairan pantai Sepanjang berkisar antara 33 - 35 ˚ C. Derajat keasaman air laut perairan pantai Sepanjang berkisar antara 8 – 9.
Kondisi fisik pantai Sepanjang dengan lereng yang curam, jangkauan pasang surut yang pendek, energi gelombang yang kuat membuat pantai ini tidak dapat dimanfaatkan untuk bidang perikanan tangkap. Namun kondisi kimia air lautnya cocok untuk budidaya rumput laut, tetapi pemanfaatan rumput laut juga kurang dapat dimaksimalkan karena para petani rumput lautnya enggan datang ke pantai ini karena akses jalan menuju pantainya yang sulit. Dimasa yang akan datang hendaknya diadakan pembangunan jalan sebagai akses untuk menuju ke pantai sehingga dapat meningkatkan potensi pemanfaatan pantai sebagai kawasan pariwisata, budidaya rumput dan cagar alam pantai karst.
2.4 Karakteristik Lingkungan Pantai Drini dan Pemanfaatannya
Pantai Drini adalah pantai yang memiliki topografi berombak (undulating) dengan kemiringan lereng gisik sebesar 10° atau 17,63% termasuk ke dalam kelas lereng bergelombang. Jenis batuannya adalah batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat yang membentuk jenis tanah Mediteran.
Energi gelombang pada Pantai Drini adalah 908 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah, hal ini juga didukung dengan kecepatan angin yang berhembus yaitu 55 meter tiap detik. Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks hempasan gelombang (K), maka diketahui bahwa gelombang laut pada Pantai Drini memiliki nilai 0,003 termasuk tipe plunging karena nilai indeksnya di antara 0,003 – 0,007 (lihat Peta 5).
Pantai Drini memiliki diameter butir sedimen sebesar 0,725 mm. Butir sedimen pantai ini termasuk ke dalam jenis sedimen pasir kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = 0.464 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya, hal ini menunjukan bahwa butir sedimen pada Pantai Drini berasal dari hasil kikisan cliff dan dasar laut. Kecuali pada bagian tengah pantai terdapat pasir yang diameternya sangat halus dan berwarna hitam, sama seperti pasir yang terdapat pada Pantai Baron. Pasir tersebut terdapat pada bagian pantai Drini yang diperkirakan sebelumnya adalah sebuah muara sungai bawah tanah, yang saat ini muara sungainya sudah tidak lagi mengendapkan materi yang dikandungnya, karena debit airnya sangat kecil.
Sama seperti sebagian besar pantai di Gunungkidul, besar salinitas air laut di pantai Drini berkisar antara 33 - 34 ‰. Suhu air laut di pantai ini berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Suhu air laut di bagian timur perairan pantai Drini lebih besar jika dibandingkan dengan suhu air laut pada bagian baratnya. Pada bagian barat perairan pantai Drini suhu air berkisar antara 33 – 34 ˚ C sedangkan pada bagian timur perairan suhu air laut berkisar antara 36 – 38 ˚ C. Derajat keasaman air laut di pantai Drini berkisar antara 8,5 – 9.
Pantai Drini dimanfaatkan sebagai pantai perikanan tangkap, walaupun kondisi fisik pantai Drini yang berlereng curam, namun bagian barat pantainya tidak memiliki karang yang menempel pada pantai, sehingga memudahkan nelayan untuk menangkap ikan menggunakan perahu. Oleh karena pantai Drini dapat menghasilkan komoditas perikanan, di pantai Drini terdapat pasar lelang ikan juga rumah makan. Bagian timur pantai yang terdapat karang yang menempel di pinggir pantai, sehingga pada bagian tersebut tidak dijadikan tempat menaruh perahu tetapi menjadi kawasan yang terlindung dari ombak yang didukung dengan kondisi kimia air laut yang cukup kondusif sehingga banyak ditumbuhi oleh rumput laut. Pemanfaatan budidaya rumput laut dapat dikembangkan dengan penanaman yang terawat serta metode pemanenan yang tetap menjaga kelestarian karang. Pemanfaatan pantai Drini juga dapat dikembangkan lagi ke bidang pertanian untuk budidaya tanaman drini yang merupakan tanaman khas dari pantai ini yang memiliki khasiat obat terhadap racun ular.
2.5 Karakteristik Lingkungan Pantai Krakal dan Pemanfaatannya
Pantai Krakal adalah pantai bentuk teluk yang membentuk sudut yang besar, sehingga memiliki pemandangan yang indah jika dilihat dari salah satu bagian ujung pantainya. Pantai Krakal memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 10,25° atau 18,08% termasuk ke dalam kondisi lereng pantai yang bergelombang. Pantai Krakal memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat, dengan jenis batuan dasar berupa gamping, maka tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada pantai Krakal adalah 13.9 m, jangkauan pasang surut litoral pada pantai Krakal sekitar 13,4 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron, hal ini disebabkan oleh lereng pantai Krakal yang curam.
Energi gelombang pada pantai Krakal adalah 166 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya dari garis pantai. Kecepatan angin di pantai Krakal adalah 73.4 meter per detik.
Pantai Krakal memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm, butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen pada pantai Krakal berasal dari hasil kikisan dasar laut yang diendapkan di pantai.
Air laut di perairan pantai Krakal memiliki salinitas sebesar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Krakal berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Semakin menjauhi garis pantai, suhu air laut semakin kecil. Besar derajat keasaman perairan pantai Krakal berkisar antara 8 – 8,5. nilai derajat keasaman di sepanjang pantai Krakal tidak memiliki variasi yang besar.
Pantai Krakal merupakan pantai yang memiliki bentuk menjorok ke darat seperti teluk yang besar, dengan karang yang menempel pada pinggir pantainya. Kondisi ini membuat pantai Krakal memiliki energy gelombang yang kecil sehingga energy yang sampai pada garis pantainya juga kecil, hal tersebut membuat pantai krakal mudah untuk dijadikan habitat hidup rumput laut. Hal ini juga didukung dengan terdapatnya karang yang menjadi substrat hidupnya rumput laut. Pemanfaatan rumput laut pada pantai Krakal dibilang sudah lebih maju dibandingkan dengan pantai yang lain, karena sudah dikelola dengan baik oleh Universitas Gadjah Mada untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein.
Namun pantai Krakal belum memiliki akses listrik yang membuat pantai indah ini belum dapat mengembangkan pemanfaatannya ke bidang pariwisata. Pemanfaatan lain pantai Krakal adalah bidang pertanian ikan tangkap tanpa kapal dan tambang pasir serta cangkang kerang untuk dijual ke pengrajin souvenir pariwisata pantai yang biasanya terdapat di pantai Baron.
2.6 Karakteristik Lingkungan Pantai Ngandong dan Pemanfaatannya
Pantai Ngandong adalah pantai kecil yang terletak di antara pantai Krakal dan Sundak. Pantai Ngandong memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 13° atau 23,08% termasuk ke dalam kelas lereng pantai bergelombang (lihat gambar 9). Pantai Ngandong memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Ngandong adalah 12,33 meter, dengan jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Ngandong sekitar 12 meter. Hal ini disebabkan oleh lereng Pantai Ngandong yang curam. Jangkauan pasang surut yang pendek tidak memberikan kontibusi banyak untuk tambahan energi gelombang pada pantainya.
Energi gelombang pada Pantai Ngandong adalah 2193 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai. Akibat dari kekerasan batuan yang tidak homogen, membuat Pantai Ngandong memiliki bentuk pantai yang tidak teratur. Hal ini juga diperkuat dengan tidak terdapatnya penghalang (barrier) di muka pantai yang membuat daratan pada pantai mudah tererosi oleh ombak.
Pantai Ngandong memiliki diameter butir sedimen sebesar 0,725 mm, butir sedimen pantai ini termasuk ke dalam jenis sedimen pasir kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = 0.464 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen pada Pantai Ngandong berasal dari hasil kikisan dasar laut yang kemudian diendapkan di pantai.
Pantai Ngandong memiliki salinitas air laut sebesar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Ngandong rata-rata sebesar 33 ˚ C. Nilai derajat keasaman perairan pantai Ngandong sebagian besar bernilai 8.
Pemanfaatan pantai Ngandong sangat terbatas, yaitu hanya dibidang perikanan tangkap saja, karena hamper setengah daerah pantai Ngandong merupakan pantai pribadi (private beach) yang kurang dapat diakses oleh masyarakat umum. Pantai Ngandong tidak memiliki banyak karang yang menempel pada garis pantainya sehingga memudahkan nelayan untuk menjalankan perahunya. Kondisi inilah yang membuat pantai Ngandong cukup produktif dalam memanfaatakan potensi pantai dibidang perikanan sampai memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
2.7 Karakteristik Lingkungan Pantai Sundak dan Pemanfaatannya
Pantai Sundak adalah pantai yang terletak paling timur pada daerah penelitian. Pantai Sundak memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 19.87° atau 36,02% termasuk ke dalam kelas lereng terjal (lihat gambar 10a dan 10b). Pantai Sundak memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Sundak adalah 12,7 meter, dan jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Sundak sekitar 12,685 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron padahal lereng Pantai Sundak cukup landai. Jangkauan pasang surut yang pendek khusus untuk Pantai Sundak dikarenakan oleh Pantai Sundak memiliki karang yang menempel tepat di pinggir pantainya, sehingga bagian sedimen yang terdapat di pantai lebih sedikit dibandingkan dengan panjang sedimen yang terdapat di karangnya. Jangkauan pasang surut Pantai Sundak tidak memberikan kontribusi yang besar pada penambahan energi gelombang di Pantai Sundak.
Energi gelombang pada Pantai Sundak adalah 293,22 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai yang menghancurkan daratan (abrasi pantai atau erosi laut) yang diperkuat dengan tidak adanya halangan (barrier) pada pantainya. Pantai Sundak memiliki kekerasan batuan yang cukup homogen. Hal ini terbukti dari bentuk Pantai Sundak yang memanjang teratur.
Pantai Sundak memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm. Butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Butir sedimen Pantai Sundak berasal dari hasil kikisan dasar laut yang kemudian diendapkan di pantai.
Pantai Sundak memiliki salinitas air laut antara 32 – 33 ‰. Suhu perairan berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Di perairan yang terlindungi suhu air laut lebih rendah dibanding dengan di perairan yang tidak terlindungi. Derajat keasaman perairan pantai Sundak berkisar antara 7,5 – 8,5. Pada bagian barat pantai Sundak dimana terdapat arch nilai derajat keasaman lebih rendah dibanding di bagian lainnya.
Pantai Sundak yang terdiri atas 2 bagian, yaitu pantai Sundak bagian barat yang dimanfatkan pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul sebagai kawasan pariwisata, dan pantai Sundak bagian timur yang merupakan pantai milik pribadi (private beach) yang sudah dimanfaatkan sebagai resort yang tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Pantai Sundak memiliki karang yang menempel pada pinggir pantainya sehingga pemanfaatan pantai untuk perikanan tidak dapat dilakukan, melainkan pemanfaatan budidaya rumput laut yang cukup besar dan tambang pasir serta cangkang kerang yang memang banyak terdapat pada pantai pantai Sundak (bagian barat) menjadikan pantai Sundak sebagai salah satu pemasok bahan mentah souvenir pariwisata pantai.
BAB III
KESIMPULAN
Karakteristik lingkungan pantai karst pada daerah penelitian dari barat ke timur memiliki karakteristik pantai yang berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pemanfaatan pantai oleh warga yang tinggal di sekitar pantai.
Pantai Karst di Kabupaten Gunungkidul dimanfaatakan untuk bidang perikanan tangkap, budidaya rumput laut, dan dijadikan cagar.
Peta – peta :
DAFTAR PUSTAKA
Bird, E. C. F. 1984. “An Introduction to Coastal Geomorphology” . Third edition.
Damayanti, Astrid. 2001. “Karakteristik beberapa Pantai Potensial di Daerah Istimewa Yogyakarta”, Jurnal Geografi, 02(7), hal 8-17, Departemen Geografi UI, Depok.
Kusnadi, Rachmat. 2001. “Geografi”, Grafindo Media Pratama, Bandung.
Longuet-higgins, M. 1970. “Longshore Currents Generated by Obluquely Incident Sea Waves” . J. Geopys Res
Pethick, John. 1984. “An Introduction to Coastal Geomorphology”, Edward Arnold, Mariland.
Purnama, Setyawan. 1992. “Petunjuk Praktikum Oseanografi”, Laboratorium Geomorfologi Dasar, Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Sandy, I. M. 1996. “Pantai dan Wilayah Pesisir. Dalam seminar sehari penerapan teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan pesisir ”, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta.
Sullivan, Dr. Donald. 2001. Coastal Geological Materials . National Park Service, Additional image courtesy of, University of Denver. http://www.teachersdomain.org/resources/ess05/sci/ess/earthsys/coastenv/index.html (25 Okt. 2007)
Dra. Astrid Damayanti, M.Si , Ranum Ayuningtyas, S.Si, Anindita Dyah K, S.Si
e-mail : astridd_maya@yahoo.com, ranum.tiga@gmail.com, misao_sikepang@yahoo.com
Departemen Geografi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Indonesia
ABSTRAK
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dan memiliki panjang pantai 95.181 km (Anonim, 2006) menempati posisi ke-4 setelah Kanada, Amerika Serikat, dan Rusia. Pantai di Indonesia menawarkan beragam keindahan alamnya yang bernilai jual tinggi untuk kegiatan pariwisata, olahraga kebaharian, dan sangat potensial bagi pengembangan ekonomi nasional baik karena potensi ruang dan kekayaan alamnya maupun nilai estetikanya. Walaupun memiliki potensi yang besar, kegiatan ekonomi penduduk Indonesia di wilayah pantai masih berorientasi ke daratan (Damayanti, 2001).
Pulau Jawa yang memiliki kepadatan penduduk tertinggi menyebabkan tingginya kepekaan pantai terhadap pencemaran dan gangguan lingkungan lainnya akibat pembangunan perkotaan, permukiman, perikanan dan pelabuhan serta pengrusakan lain yang mungkin ditimbulkan oleh pemanasan global. Kondisi tersebut juga berpotensi terjadi pada Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang terletak di selatan Pulau Jawa yang pantainya menghadap ke Samudera Hindia. Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki kondisi pantai yang berbeda jika dibandingkan kondisi pantai di utara Jawa. Walaupun demikian, pantai di selatan Yogyakarta memiliki potensi yang sama dengan pantai di utara Jawa namun harus dibedakan cara pembangunan dan pemanfaatannya karena pantai di selatan Yogyakarta kondisi memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal kondisi lokasi (menghadap ke Samudera Hindia), geologi dan bathimetri pantai. Oleh karena itu informasi akan karakteristik lingkungan pantai sangat diperlukan agar pemanfaatan kekayaan alam menerapkan konsep pembangunan berkelanjutan sehingga perubahan tataguna ruang tidak melebihi daya dukungnya
Kabupaten Gunungkidul, adalah salah satu kabupaten yang memiliki pantai yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Pantai di Kabupaten Gunungkidul merupakan daerah yang memiliki karakteristik yang sangat khas dan berbeda dengan daerah lainnya, Gunungkidul merupakan daerah karst dan di bagian utaranya merupakan daerah alluvial yang keduanya memiliki karakteristik masing-masing. Wilayah karst yang terkenal tandus memiliki pantai yang juga memiliki sifat karst menyimpan banyak potensi untuk berbagai kegiatan ekonomi.
Pantai karst di Kabupaten Gunungkidul tepatnya Pantai Objek Wisata Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Ngandong, dan Sundak memiliki persamaan dalam hal kondisi geologi, genesa, dan proses pembentukan morfologi pantai, namun demikian untuk setiap pantainya memiliki karakteristik lingkungan pantai yang berbeda-beda. Perbedaan karakteristik lingkungan dibuktikan dengan terdapatnya perbedaan bentuk pantai dan diameter butir sedimen, perbedaan ini juga harus diketahui kaitannya dengan kondisi gelombang, arus laut, suhu, salinitas, dan pH laut pada masing-masing pantainya. Dengan mengetahui kaitan antara kondisi fisik dan kimia pantai, maka kelak juga diketahui potensi masing-masing pantai. Dengan demikian diharapkan daerah tersebut dapat membangun dan mengembangkan kemampuan ekonomi disesuaikan dengan kondisi lingkungannya, berkelanjutan dengan memperhatikan kondisi dan menjaga keseimbangan lingkungan hidup.
1.2 Perumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian
Pantai yang menjadi daerah penelitian masing-masing memiliki persamaan dalam hal kondisi geologi, genesa, dan proses pembentukan morfologi pantai, namun memiliki perbedaan karakteristik lingkungan secara fisik dan kimiawi. Adapun pertanyaan penelitian yaitu :
1. Bagaimanakah karakteristik lingkungan pantai karst di daerah penelitian ?
2. Bagaimana pemanfaatan pantai karst di daerah penelitian saat ini dan dimasa yang akan datang ?
1.3 Tujuan Penelitian
Mengetahui dan memahami keadaan atau kondisi morfologi lingkungan dan proses yang terjadi pada pantai karst yang menjadi daerah penelitian. Hal ini berkaitan dengan pengetahuan masyarakat sekitar pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya, agar pemanfaatan dan pengembangan potensi kawasan pantai di daerah karst tetap mempertimbangkan kelestarian lingkungannya.
Sedangkan sasaran penelitian ini adalah :
1. Mengetahui karakteristik lingkungan pantai karst di daerah penelitian
2. Mengetahui pemanfaatan pantai karst di daerah penelitian
1.4 Batasan dan Definisi Oprasional
1. Pantai adalah bagian dari muka bumi yang merupakan garis khayal tempat bertemunya daratan dan perairan, dari muka air laut rata-rata terendah sampai muka air laut rata-rata tertinggi (Sandy, 1996).
2. Karst adalah adalah bentukan muka bumi yang sangat unik yang merupakan hasil dari erosi bawah tanah yang memiliki batuan induk seperti limestone dan marbel yang terlarutkan oleh air.
3. Pantai karst adalah bagian dari muka bumi mulai dari muka air laut rata-rata terendah sampai muka air laut rata-rata tertinggi. Pada bagian tersebut terdapat akumulasi dari sedimen lepas seperti kerikil, pasir, yang memiliki karakteristik bentukan dari hasil pelarutan kapur oleh agen air yang memiliki bahan batuan induk kebanyakan seperti limestone, marbel dan dolomite.
4. Karakteristik lingkungan pantai adalah gambaran kondisi lingkungan pantai yang khas mencakup kondisi fisik dan kimianya berupa : lereng gisik, energi gelombang, diameter butir sedimen, salinitas air laut, suhu air laut, dan pH air laut.
5. Lereng Gisik/pantai adalah besar sudut yang terbentuk antara permukaan pantai dengan sumbu garis datar dalam satuan derajat.
6. Energi gelombang adalah daya hasil dari gangguan yang merambat pada media air laut yang berpindah dari satu tempat kepada tempat lain tanpa mengakibatkan partikel medium berpindah secara permanen; yaitu tidak ada perpindahan secara masal dalam satuan joule.
7. Diameter butir sedimen adalah ukuran segmen garis yang melalui titik pusat dan menghubungkan dua titik pada butir sedimen dalam satuan milimeter.
8. Salinitas air laut adalah kadar garam yang terkandung dalam air laut dalam satuan permil (‰)
9. Suhu air laut adalah indikasi jumlah energi (panas) yang terdapat dalam satu sistem atau massa dalam satuan derajat celcius (°C)
10. pH air laut adalah derajat keasaman air laut
1.5 Metode dan Teknik Pengumpulan Data
Daerah penelitian meliputi pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Ngandong dan Sundak di Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis deskriptif dengan menekankan pada pendekatan kualitatif sebagai penunjang dari hasil analisis spasial.
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
1. lereng pantai, dengan parameter besar sudut lereng gisik/pantai dalam satuan derajat (°) kemudian dikonvert ke dalam satuan persen (%);
2. energi gelombang, dengan parameter :
a. besar energi gelombang dalam satuan joule;
b. tipe gelombangnya;
3. butir sedimen, dengan parameter :
a. diameter butir sedimennya dalam satuan millimeter (mm);
b. warna butir sedimen untuk mengetahui asal sedimennya.
4. Salinitas air laut, dengan parameter banyaknya garam yang terlarut dalam 1 iter air laut
5. Suhu air laut, dengan parameter jumlah energi (panas) yang terdapat pada luasan area tertentu dalam satuan derajat celcius (°C)
6. Derajat keasaman air laut, dengan parameter kandungan elektrolit H+ yang terdapat pada air laut pada luasan area tertentu
Setelah mendapatkan data sebagai parameter dari variabel-variabel, data yang didapatkan kemudian dikelaskan dan dapat dibuat matriksnya. Pengkelasan datanya seperti berikut :
Tabel 1. Kelas Lereng Gisik/pantai
Lereng Gisik
Presentase Lereng (%) Kategori
0 - 2 Datar
2 - 15 Datar Bergelombang
15 - 25 Bergelombang
25 - 40 Terjal
> 40 Curam
Sumber : Pethick, 1984
Tabel 2. Kelas Energi Gelombang
Energi Gelombang
Joule Kategori
≥ 1871 Kuat
< 1871 Lemah
Sumber : Pethick, 1984
Tabel 3. Kelas Diameter Butir Sedimen
Diameter Butir Sedimen
Phi Kategori
-1 – 0 Sangat Kasar
0 - +1 Kasar
+1 - + 2 Medium
+2 - +3 Halus
+3 - +4 Sangat Halus
Sumber : Wenthworth dalam Pethick, 1984
Tabel 4. Kelas Salinitas Air Laut
Salinitas
‰ Kategori
< 28 ‰ Rendah
28 - 34 ‰ Sedang
> 34 ‰ Tinggi
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan
Tabel 5. Kelas Suhu Air Laut
Suhu
°C Kategori
> 35 °C Tinggi
26 - 35 °C Sedang
< 26 °C Rendah
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan
Tabel 6. Kelas Keasaman Air Laut
Derajat Keasaman
pH Kategori
8,5 - 9 Basa tinggi
7,5 - 8,5 Basa rendah
7 Netral
Sumber: Direktorat Jendral Perikanan Budidaya Dinas Perikanan dan Kelautan
1.6 Analisis Data
Penelitian mengkaji data-data yang sudah diolah secara spasial yang kemudian dianalis lebih lanjut untuk dapat menjawab pertanyaan penelitian dengan cara analisis deskriptif secara spasial untuk mengetahui karakteristik lingkungan masing-masing pantai dengan mendeskripsikan bagaimana kondisi lereng gisik/pantai, butir sedimen, energi gelombang, salinitas air laut, suhu air laut dan pH air laut pada masing masing pantai dan kaitan dengan pemafaatannya.
BAB II
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil survey lapang, pengolahan data dan hasil analisis spasial didapatkan informasi bahwa karakteristik lingkungan pantai karst pada wilayah penelitian dari barat ke timur memiliki karakteristik lingkungan pantai yang berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pemanfaatan pantai oleh warga yang tinggal di sekitar pantai. Berikut akan dibahas secara rinci karakteristik lingkungan dan pemanfaatan masing-masing pantai :
2.1 Karakteristik Lingkungan Pantai Baron dan Pemanfaatannya
Pantai Baron adalah pantai yang letaknya paling barat pada daerah penelitian. Pantai Baron memiliki kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 4,86° atau 8,5% yang termasuk jenis lereng datar bergelombang (lihat Peta 4). Pantai Baron memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada pantai Baron adalah 61 m, lebar sedimen Pantai Baron adalah lebar sedimen yang paling besar pada daerah penelitian. Hal ini didukung dengan kondisi Pantai Baron yang berlereng landai sehingga membuat jangkauan pasang surut litoral pantai sangat jauh. Berdasarkan hasil observasi dan perhitungan, jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Baron sekitar 61 meter.
Jangkauan pasang surut yang cukup panjang memberikan banyak energi tambahan gelombang laut pada Pantai Baron untuk mengikis pantainya. Energi gelombang pada Pantai Baron adalah 2193 joule (termasuk kedalam kelas energi gelombang kuat, lihat Peta 5), energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai. Gelombang tersebut tidak lepas dari kontribusi angin yang berhembus pada Pantai Baron yang kecepatannya sebesar 44,2 meter tiap detik. Pantai Baron yang yang bentuk pantainya menjorok ke darat dan memiliki muara sungai membuat pantainya memiliki fluktuasi yang cukup tinggi terhadap perubahan bentuk aliran sungainya. Muara sungai memberikan pengaruh yang cukup kuat pada karakteristik sedimen pada pantai dan aliran sungai menuju samudera. Pengaruh ombak dan tidak terdapatnya halangan pada pantai (barrier) membuat Pantai Baron sangat mudah tererosi namun dengan tenaga yang jauh lebih kecil karena lereng gisik pantai yang landai.
Diameter butir sedimen pantai Baron sebesar 0,515 mm, ukuran butir sedimen yang cukup halus untuk pantai karst. Butir sedimen Pantai Baron termasuk ke dalam jenis sedimen pasir medium (lihat Peta 3) dengan Φ = 0.957 (skala Wenthworth) yang merupakan hasil bentukan dari 2 (dua) hal, yaitu sedimentasi materi yang diendapkan sungai bawah tanah yang bermuara ke pantai dan hasil pengikisan laut. Namun jika dibandingkan dengan kondisi butir sedimen pada pantai lain, butir sedimen pada Pantai Baron memiliki ciri khas, yaitu lebih halus dan berwarna lebih gelap (hitam). Warna butir sedimen Pantai Baron yang gelap menunjukkan bahwa butir sedimen tersebut berasal dari sungai yang bermuara di pantainya.
Pantai Baron memiliki kisaran salinitas antara 28 – 31 ‰. Bagian selatan memiliki nilai salinitas yang rendah. Hal ini disebabkan karena di pantai Baron terdapat muara sungai bawah tanah. Pada muara sungai ini terjadi pertemuan antara air tawar dari sungai dengan air laut sehingga salinitas airnnya pun menjadi lebih kecil dibandingkan dengan salinitas air di pantai-pantai lainnya di wilayah penelitian.
Suhu air laut di pantai Baron berkisar antara 26 - 30˚ C. Suhu udara di bagian utara dimana terdapat muara sungai bawah tanah lebih rendah dibanding bagian selatan.
Derajat keasaman air laut di pantai Baron merupakan yang terendah diantara pantai-pantai di Gunungkidul yaitu sebesar 7,5. Hal ini disebabkan oleh adanya muara sungai bawah tanah di pantai Baron yang menyebabkan terjadinya percampuran antara air tawar dengan air laut. Keasaman air laut di bagian selatan pantai Baron atau di dekat muara sungai bawah tanah mendekati 7. Sedangkan di bagian utaranya yaitu wilayah yang jauh dari muara sungai besarnya PH berkisar antara 7,5 dan 8.
Pantai Baron yang memiliki jangkauan pasang surut yang cukup panjang serta kondisi lereng pantai yang landai menjadikan pantai ini mudah untuk dilewati perahu nelayan penduduk sekitar, oleh karena itu kegiatan perikanan laut tangkap menjadi salah satu pemanfaatan pantai oleh warga sekitar yang mendatangkan kesejahteraan penduduk sekitarnya. Selain itu pula, terdapatnya fenomena muara sungai di pantai yang memiliki debit air yang deras dapat dimanfaatkan oleh penduduk sekitar sebagai sumber air bersih dan pembangkit tenaga listrik. Pemanfaatan pantai Baron lainnya adalah untuk pariwisata, karena kondisi alam pantai Baron yang indah dengan butir sedimen yang halus. Dengan adanya pemanfaatan pantai sebagai pariwisata, penduduk juga memiliki kesempatan lebih untuk menambah pendapatan dengan menjadi penjual souvenir pariwisata pantai serta fasilitas penunjang pariwisata lainnya seperti restoran atau rumah makan, penginapan atau resort dan lainnya.
2.2 Karakteristik Lingkungan Pantai Kukup dan Pemanfaatannya
Pantai Kukup memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 6,74° atau 11,8% yang termasuk ke dalam kelas lereng datar bergelombang. Pantai Kukup memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Kukup adalah 18,5 meter, dan jangkauan pasang surut litoral pada pantainya 18,4 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron, hal ini disebabkan oleh lereng Pantai Kukup yang curam.
Energi gelombang pada Pantai Kukup adalah 3560 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone, akibat gelombang, arus laut dan kecepatan anginnya sebesar 69 meter perdetik.
Pantai Kukup memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm dengan warna sedimen yang cerah, butir sedimen Pantai Kukup termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Warna butir sedimen yang cerah diakibatkan karena tidak adanya muara sungai pada pantai Kukup, hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen dari Pantai Kukup berasal dari kikisan dasar laut. Namun berdasarkan hasil pengolahan data di laboratorium terdapat butir sedimen yang berwarna hitam yang jumlahnya sangat sedikit (minoritas). Hal ini disebabkan sampel sedimen tersebut diambil dekat dengan karang pantai. Hal ini juga menunjukkan bahwa butir sedimen yang dekat dengan cliff berasal dari hasil kikisan tebing pantai tersebut.
Berdasarkan pengambilan sampel air laut di sekitar pantai Kukup, maka didapatkan salinitas air laut sekitar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Kukup berkisar antara 32 – 35 ˚ C. Suhu air perairan yang terlindung oleh pulau-pulau karang lebih rendah dibanding dengan suhu air di perairan yang terbuka. Derajat keasaman air laut di perairan pantai Kukup adalah sebesar 9.
Pantai Kukup adalah salah satu pantai tujuan wisata di Kabupaten Gunungkidul yang sangat menarik, pada pantai ini terdapat pulau karang dan memiliki karang yang menempel tepat pada pinggir pantainya. Pemanfaatan pantai sebagai kawasan tujuan pariwisata juga dapat dimanfaatkan penduduk dengan menyediakan fasilitas penunjang pariwisata seperti penginapan, restoran atau rumah makan, tempat belanja souvenir pantai, serta show room ikan hias, karena di pantai Kukup banyak nelayan ikan yang sengaja menangkan biota laut yang terjebak di karang-karang ketika pantai surut, biasanya biota ini memiliki kondisi fisik yang cantik dengan warna-warna yang bervariasi seperti ikan, bintang laut, dan bulu babi.
Selain pemanfaatan pantai sebagai tujuan pariwisata, dan ikan hias laut, pantai Kukup juga dapat dimafaatkan sebagai sumber budidaya rumput laut. Pantai Kukup yang memiliki karang yang menempel dengan pantai menjadi habitat yang baik bagi rumput laut didukung pula dengan kondisi kimia air laut pada pantai ini yang cocok untuk budidaya rumput laut. Namun pemanfaatan rumput laut saat ini tidak maksimal, dan pemanenannya masih menggunakan alat yang dapat merusak substratnya yaitu karang. Oleh karena itu hendaknya pemafaatan pantai sebagai budidaya rumput laut dapat diusahakan agar lebih maksimal lagi dengan menerapkan metode pengembagan budidaya rumput laut dengan alat pemanen yang tidak merusak karang sebagi substrat rumput lautnya.
2.3 Karakteristik Lingkungan Pantai Sepanjang dan Pemanfaatannya
Sesuai dengan namanya, Pantai Sepanjang adalah pantai yang bentuknya memanjang dari barat ke timur, dan tidak memiliki pulau karang yang menghalangi (tidak memiliki barrier). Pantai Sepanjang memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 21,28° atau 11,8% termasuk ke dalam kelas lereng curam. Pantai Sepanjang memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Sepanjang adalah 10,6 m, dengan jangkauan pasang surut litoral padanya hanya 9,82 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan pantai yang lainnya, hal ini disebabkan oleh lereng pantai Sepanjang yang curam.
Dengan kondisi jangkauan pasang surut yang kecil, pantai Sepanjang tidak mendapatkan kontribusi yang besar dalam menambah energi pada pantainya untuk proses pengikisan. Energi gelombang pada Pantai Sepanjang adalah 4036 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai yang dipengaruhi juga oleh kecepatan angin yang berhembus dengan kecepatan 43.9 meter tiap detik.
Pantai Sepanjang memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm, butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya yang merupakan hasil dari pengikisan dasar laut yang diendapkan pada pantai.
Besar salinitas air laut di perairan pantai Sepanjang berkisar antara 33 - 34 ‰. Semakin menjauhi garis pantai, salinitas air laut semakin tinggi. Suhu air laut perairan pantai Sepanjang berkisar antara 33 - 35 ˚ C. Derajat keasaman air laut perairan pantai Sepanjang berkisar antara 8 – 9.
Kondisi fisik pantai Sepanjang dengan lereng yang curam, jangkauan pasang surut yang pendek, energi gelombang yang kuat membuat pantai ini tidak dapat dimanfaatkan untuk bidang perikanan tangkap. Namun kondisi kimia air lautnya cocok untuk budidaya rumput laut, tetapi pemanfaatan rumput laut juga kurang dapat dimaksimalkan karena para petani rumput lautnya enggan datang ke pantai ini karena akses jalan menuju pantainya yang sulit. Dimasa yang akan datang hendaknya diadakan pembangunan jalan sebagai akses untuk menuju ke pantai sehingga dapat meningkatkan potensi pemanfaatan pantai sebagai kawasan pariwisata, budidaya rumput dan cagar alam pantai karst.
2.4 Karakteristik Lingkungan Pantai Drini dan Pemanfaatannya
Pantai Drini adalah pantai yang memiliki topografi berombak (undulating) dengan kemiringan lereng gisik sebesar 10° atau 17,63% termasuk ke dalam kelas lereng bergelombang. Jenis batuannya adalah batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat yang membentuk jenis tanah Mediteran.
Energi gelombang pada Pantai Drini adalah 908 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah, hal ini juga didukung dengan kecepatan angin yang berhembus yaitu 55 meter tiap detik. Berdasarkan hasil perhitungan nilai indeks hempasan gelombang (K), maka diketahui bahwa gelombang laut pada Pantai Drini memiliki nilai 0,003 termasuk tipe plunging karena nilai indeksnya di antara 0,003 – 0,007 (lihat Peta 5).
Pantai Drini memiliki diameter butir sedimen sebesar 0,725 mm. Butir sedimen pantai ini termasuk ke dalam jenis sedimen pasir kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = 0.464 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya, hal ini menunjukan bahwa butir sedimen pada Pantai Drini berasal dari hasil kikisan cliff dan dasar laut. Kecuali pada bagian tengah pantai terdapat pasir yang diameternya sangat halus dan berwarna hitam, sama seperti pasir yang terdapat pada Pantai Baron. Pasir tersebut terdapat pada bagian pantai Drini yang diperkirakan sebelumnya adalah sebuah muara sungai bawah tanah, yang saat ini muara sungainya sudah tidak lagi mengendapkan materi yang dikandungnya, karena debit airnya sangat kecil.
Sama seperti sebagian besar pantai di Gunungkidul, besar salinitas air laut di pantai Drini berkisar antara 33 - 34 ‰. Suhu air laut di pantai ini berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Suhu air laut di bagian timur perairan pantai Drini lebih besar jika dibandingkan dengan suhu air laut pada bagian baratnya. Pada bagian barat perairan pantai Drini suhu air berkisar antara 33 – 34 ˚ C sedangkan pada bagian timur perairan suhu air laut berkisar antara 36 – 38 ˚ C. Derajat keasaman air laut di pantai Drini berkisar antara 8,5 – 9.
Pantai Drini dimanfaatkan sebagai pantai perikanan tangkap, walaupun kondisi fisik pantai Drini yang berlereng curam, namun bagian barat pantainya tidak memiliki karang yang menempel pada pantai, sehingga memudahkan nelayan untuk menangkap ikan menggunakan perahu. Oleh karena pantai Drini dapat menghasilkan komoditas perikanan, di pantai Drini terdapat pasar lelang ikan juga rumah makan. Bagian timur pantai yang terdapat karang yang menempel di pinggir pantai, sehingga pada bagian tersebut tidak dijadikan tempat menaruh perahu tetapi menjadi kawasan yang terlindung dari ombak yang didukung dengan kondisi kimia air laut yang cukup kondusif sehingga banyak ditumbuhi oleh rumput laut. Pemanfaatan budidaya rumput laut dapat dikembangkan dengan penanaman yang terawat serta metode pemanenan yang tetap menjaga kelestarian karang. Pemanfaatan pantai Drini juga dapat dikembangkan lagi ke bidang pertanian untuk budidaya tanaman drini yang merupakan tanaman khas dari pantai ini yang memiliki khasiat obat terhadap racun ular.
2.5 Karakteristik Lingkungan Pantai Krakal dan Pemanfaatannya
Pantai Krakal adalah pantai bentuk teluk yang membentuk sudut yang besar, sehingga memiliki pemandangan yang indah jika dilihat dari salah satu bagian ujung pantainya. Pantai Krakal memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 10,25° atau 18,08% termasuk ke dalam kondisi lereng pantai yang bergelombang. Pantai Krakal memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat, dengan jenis batuan dasar berupa gamping, maka tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada pantai Krakal adalah 13.9 m, jangkauan pasang surut litoral pada pantai Krakal sekitar 13,4 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron, hal ini disebabkan oleh lereng pantai Krakal yang curam.
Energi gelombang pada pantai Krakal adalah 166 joule, termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya dari garis pantai. Kecepatan angin di pantai Krakal adalah 73.4 meter per detik.
Pantai Krakal memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm, butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen pada pantai Krakal berasal dari hasil kikisan dasar laut yang diendapkan di pantai.
Air laut di perairan pantai Krakal memiliki salinitas sebesar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Krakal berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Semakin menjauhi garis pantai, suhu air laut semakin kecil. Besar derajat keasaman perairan pantai Krakal berkisar antara 8 – 8,5. nilai derajat keasaman di sepanjang pantai Krakal tidak memiliki variasi yang besar.
Pantai Krakal merupakan pantai yang memiliki bentuk menjorok ke darat seperti teluk yang besar, dengan karang yang menempel pada pinggir pantainya. Kondisi ini membuat pantai Krakal memiliki energy gelombang yang kecil sehingga energy yang sampai pada garis pantainya juga kecil, hal tersebut membuat pantai krakal mudah untuk dijadikan habitat hidup rumput laut. Hal ini juga didukung dengan terdapatnya karang yang menjadi substrat hidupnya rumput laut. Pemanfaatan rumput laut pada pantai Krakal dibilang sudah lebih maju dibandingkan dengan pantai yang lain, karena sudah dikelola dengan baik oleh Universitas Gadjah Mada untuk dimanfaatkan sebagai sumber protein.
Namun pantai Krakal belum memiliki akses listrik yang membuat pantai indah ini belum dapat mengembangkan pemanfaatannya ke bidang pariwisata. Pemanfaatan lain pantai Krakal adalah bidang pertanian ikan tangkap tanpa kapal dan tambang pasir serta cangkang kerang untuk dijual ke pengrajin souvenir pariwisata pantai yang biasanya terdapat di pantai Baron.
2.6 Karakteristik Lingkungan Pantai Ngandong dan Pemanfaatannya
Pantai Ngandong adalah pantai kecil yang terletak di antara pantai Krakal dan Sundak. Pantai Ngandong memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 13° atau 23,08% termasuk ke dalam kelas lereng pantai bergelombang (lihat gambar 9). Pantai Ngandong memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Ngandong adalah 12,33 meter, dengan jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Ngandong sekitar 12 meter. Hal ini disebabkan oleh lereng Pantai Ngandong yang curam. Jangkauan pasang surut yang pendek tidak memberikan kontibusi banyak untuk tambahan energi gelombang pada pantainya.
Energi gelombang pada Pantai Ngandong adalah 2193 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang kuat. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai pada breaker zone yang tidak terlalu jauh jaraknya terhadap garis pantai. Akibat dari kekerasan batuan yang tidak homogen, membuat Pantai Ngandong memiliki bentuk pantai yang tidak teratur. Hal ini juga diperkuat dengan tidak terdapatnya penghalang (barrier) di muka pantai yang membuat daratan pada pantai mudah tererosi oleh ombak.
Pantai Ngandong memiliki diameter butir sedimen sebesar 0,725 mm, butir sedimen pantai ini termasuk ke dalam jenis sedimen pasir kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = 0.464 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Hal ini menunjukkan bahwa butir sedimen pada Pantai Ngandong berasal dari hasil kikisan dasar laut yang kemudian diendapkan di pantai.
Pantai Ngandong memiliki salinitas air laut sebesar 33 ‰. Suhu air laut di perairan pantai Ngandong rata-rata sebesar 33 ˚ C. Nilai derajat keasaman perairan pantai Ngandong sebagian besar bernilai 8.
Pemanfaatan pantai Ngandong sangat terbatas, yaitu hanya dibidang perikanan tangkap saja, karena hamper setengah daerah pantai Ngandong merupakan pantai pribadi (private beach) yang kurang dapat diakses oleh masyarakat umum. Pantai Ngandong tidak memiliki banyak karang yang menempel pada garis pantainya sehingga memudahkan nelayan untuk menjalankan perahunya. Kondisi inilah yang membuat pantai Ngandong cukup produktif dalam memanfaatakan potensi pantai dibidang perikanan sampai memiliki Tempat Pelelangan Ikan (TPI).
2.7 Karakteristik Lingkungan Pantai Sundak dan Pemanfaatannya
Pantai Sundak adalah pantai yang terletak paling timur pada daerah penelitian. Pantai Sundak memiliki topografi yang tergolong berombak (undulating) dengan kemiringan lereng pantai atau gisik sebesar 19.87° atau 36,02% termasuk ke dalam kelas lereng terjal (lihat gambar 10a dan 10b). Pantai Sundak memiliki jenis batuan gamping dengan tingkat pelapukan fisik sedang hingga kuat. Dengan jenis batuan dasar berupa gamping, tanah yang terbentuk di pantai ini termasuk jenis Mediteran.
Lebar sedimen pada Pantai Sundak adalah 12,7 meter, dan jangkauan pasang surut litoral pada Pantai Sundak sekitar 12,685 meter. Jangkauan pasang surut litoral sangat pendek jika dibandingkan dengan Pantai Baron padahal lereng Pantai Sundak cukup landai. Jangkauan pasang surut yang pendek khusus untuk Pantai Sundak dikarenakan oleh Pantai Sundak memiliki karang yang menempel tepat di pinggir pantainya, sehingga bagian sedimen yang terdapat di pantai lebih sedikit dibandingkan dengan panjang sedimen yang terdapat di karangnya. Jangkauan pasang surut Pantai Sundak tidak memberikan kontribusi yang besar pada penambahan energi gelombang di Pantai Sundak.
Energi gelombang pada Pantai Sundak adalah 293,22 joule termasuk ke dalam kelas energi gelombang lemah. Energi gelombang tersebut berasal dari hempasan gelombang laut yang pecah di pantai yang menghancurkan daratan (abrasi pantai atau erosi laut) yang diperkuat dengan tidak adanya halangan (barrier) pada pantainya. Pantai Sundak memiliki kekerasan batuan yang cukup homogen. Hal ini terbukti dari bentuk Pantai Sundak yang memanjang teratur.
Pantai Sundak memiliki diameter butir sedimen sebesar 1,225 mm. Butir sedimen pantai ini termasuk kedalam jenis sedimen pasir sangat kasar (lihat Peta 3) yaitu Φ = -0.293 (skala Wenthworth). Butir sedimennya berwarna cerah merata hampir pada semua bagian pantainya. Butir sedimen Pantai Sundak berasal dari hasil kikisan dasar laut yang kemudian diendapkan di pantai.
Pantai Sundak memiliki salinitas air laut antara 32 – 33 ‰. Suhu perairan berkisar antara 33 – 36 ˚ C. Di perairan yang terlindungi suhu air laut lebih rendah dibanding dengan di perairan yang tidak terlindungi. Derajat keasaman perairan pantai Sundak berkisar antara 7,5 – 8,5. Pada bagian barat pantai Sundak dimana terdapat arch nilai derajat keasaman lebih rendah dibanding di bagian lainnya.
Pantai Sundak yang terdiri atas 2 bagian, yaitu pantai Sundak bagian barat yang dimanfatkan pemerintah Daerah Kabupaten Gunungkidul sebagai kawasan pariwisata, dan pantai Sundak bagian timur yang merupakan pantai milik pribadi (private beach) yang sudah dimanfaatkan sebagai resort yang tidak dapat dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Pantai Sundak memiliki karang yang menempel pada pinggir pantainya sehingga pemanfaatan pantai untuk perikanan tidak dapat dilakukan, melainkan pemanfaatan budidaya rumput laut yang cukup besar dan tambang pasir serta cangkang kerang yang memang banyak terdapat pada pantai pantai Sundak (bagian barat) menjadikan pantai Sundak sebagai salah satu pemasok bahan mentah souvenir pariwisata pantai.
BAB III
KESIMPULAN
Karakteristik lingkungan pantai karst pada daerah penelitian dari barat ke timur memiliki karakteristik pantai yang berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pemanfaatan pantai oleh warga yang tinggal di sekitar pantai.
Pantai Karst di Kabupaten Gunungkidul dimanfaatakan untuk bidang perikanan tangkap, budidaya rumput laut, dan dijadikan cagar.
Peta – peta :
DAFTAR PUSTAKA
Bird, E. C. F. 1984. “An Introduction to Coastal Geomorphology” . Third edition.
Damayanti, Astrid. 2001. “Karakteristik beberapa Pantai Potensial di Daerah Istimewa Yogyakarta”, Jurnal Geografi, 02(7), hal 8-17, Departemen Geografi UI, Depok.
Kusnadi, Rachmat. 2001. “Geografi”, Grafindo Media Pratama, Bandung.
Longuet-higgins, M. 1970. “Longshore Currents Generated by Obluquely Incident Sea Waves” . J. Geopys Res
Pethick, John. 1984. “An Introduction to Coastal Geomorphology”, Edward Arnold, Mariland.
Purnama, Setyawan. 1992. “Petunjuk Praktikum Oseanografi”, Laboratorium Geomorfologi Dasar, Fakultas Geografi Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.
Sandy, I. M. 1996. “Pantai dan Wilayah Pesisir. Dalam seminar sehari penerapan teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dalam perencanaan dan pengelolaan sumber daya kelautan dan pesisir ”, Jurusan Geografi FMIPA Universitas Indonesia, Jakarta.
Sullivan, Dr. Donald. 2001. Coastal Geological Materials . National Park Service, Additional image courtesy of, University of Denver. http://www.teachersdomain.org/resources/ess05/sci/ess/earthsys/coastenv/index.html (25 Okt. 2007)
Sabtu, 13 Maret 2010
Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Geografi Indonesia XI
Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Geografi Indonesia XI
Padang, 22 – 23 Nopember 2008
PERAN PEMERINTAH DAERAH SUMATERA BARAT
DALAM PENGURANGAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
Dr. Bambang Istijono, ME
Anggota Ikatan Geografi Indonesia Cabang Sumatera Barat
Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Barat
Pengajar Fakultas Teknik – UNAND
I. PENDAHULUAN
Provinsi Sumatera Barat mempunyai luas daerah sekitar 42.297,30 Km2 setara dengan 2,17% luas wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, berbatasan dengan empat provinsi dan satu lautan, yaitu Provinsi Sumatera Utara di sebelah utara, Riau di sebelah timur, Jambi dan Bengkulu di sebelah selatan dan Samudera Hindia di sebelah barat.
Provinsi Sumatera Barat dapat pula dikategorikan sebagai provinsi kepulauan karena memiliki perairan laut seluas 186.580 km2 dengan perairan teritorial seluas 57.880 km2 dan panjang garis pantai 2.420 km. Dalam perairan laut terdapat 377 pulau, dimana sebagian besar berada di Kabupaten Kepulauan Mentawai berjumlah 323 pulau. (Lihat Peta)
Peta Kawasan Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat
Sebagai provinsi yang memiliki cukup banyak pulau kecil dan garis pantai yang relatif panjang, maka sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim akibat dari adanya pemanasan global. Pemanasan global yang merubah sistem iklim dapat dibuktikan dari meningkatnya suhu udara dan laut rata-rata, meluasnya pencairan salju dan es di kutub bumi dan meningkatnya ketinggian permukaan laut rata-rata (IPCC-4, 2007).
Dampak pemanasan global dan perubahan iklim yang dapat dilihat di wilayah Sumatera Barat seperti:
1. Sangat jelas adanya peningkatan permukaan air laut selain akibat adanya abrasi (Pantai Padang, Muara Putus, Ranah Sasak), ini merubah tatanan sosial ekonomi yang mengakibatkan ekonomi tinggi seperti relokasi penduduk, hilangnya lahan (pertanian, tabek) dan sarana prasarana infrastruktur;
2. Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2007), bahwa Indonesia telah kehilangan dua empat pulau kecil, dua diantaranya berada Sumatera Barat, dan ini akan merubah muatan dari pelajaran geografi;
3. Berdasarkan kajian-kajian yang ada, pemanasan global mengakibatkan pengaruh buruk/negatif bagi semua penghidupan seperti:
Perubahan pola musim panas dan hujan, yang akibatkan fluktuasi ketersediaan air (kekurangan dan banjir):
Mengganggu sektor pertanian dengan menurunnya produksi petani karena berubahnya musim tanam petani, kesuburan lahan;
Menurunnya hasil tangkapan nelayan dan terganggunya budidaya ikan baik perairan umum dan laut;
Kesehatan manusia baik langsung (kanker kulit, katarak dan kekebalan tubuh) maupun tidak langsung (berkembangnya nyamuk = malaria dan deman berdarah).
Upaya penanganan dampak dari perubahan iklim dibagi dalam dua bentuk pendekatan, yaitu:
1. Kegiatan mitigasi, yang bertujuan untuk memperlambat terjadinya perubahan iklim lebih lanjut dengan cara mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer atau kegiatan yang menyerap gas rumah kaca;
2. Kegiatan adaptasi, kegiatan yang dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi perubahan iklim yang terjadi.
Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan salah satu isu lingkungan hidup yang sedang naik daun karena bukan isu lokal tetapi merupakan isu dunia yang dampaknya dirasakan seluruh penduduk bumi di berbagai belahan dunia. Dan menjadi momen yang sangat penting karena Indonesia dapat menyelenggarakan konvensi perserikatan bangsa-bangsa mengenai perubahan iklim yang diadakan di Bali pada tanggal 3-14 Desember 2007 serta menjadi pertemuan lanjutan bagi pihak Meeting of The Parties dari Protokol Kyoto.
Sebagai tindak lanjut hari lingkungan hidup tahun 2007 yang mengambil tema mengenai perubahan iklim dan mengamanatkan untuk menyusunan rencana aksi nasional perubahan iklim (RAN-PI), dimana pada bulan November 2007 dokumen RAN-PI tersebut telah disetujui dan harus dijadikan panduan bagi instansi terkait baik pusat maupun daerah dalam melaksanakan pembangunan.
II. DASAR KEBIJAKAN PUSAT
Indonesia mempunyai komitmen untuk menjaga iklim global dengan penandatanganan konvensi perubahan iklim dan ratifikasi protokol Kyoto serta ditindaklanjuti dengan tersusunnya RAN-PI yang merupakan bagian integral dari tujuan strategi pembangunan dalam rangka antisipasi perubahan iklim.
RAN-PI mempunyai kerangka waktu dalam pelaksanaan, yaitu:
1. Aksi Segera (2007-2009);
2. Aksi Jangka Pendek (2009-2012);
3. Aksi Jangka Menengah (2012-2025);
4. Aksi Jangka Panjang (2025-2050).
Selain dokumen RAN-PI terdapat pula peraturan perundangan per sektor yang mendukung pelaksanaan kegiatan integral pembangunan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yaitu :
1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, yang mengamanatkan tentang pengelolaan hutan yang banyak memuat kegiatan mitigasi dalam pengurangan/penyerapan gas rumah kaca;
3. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, yang mengamanatkan tentang pengelolaan kebencanaan karena kejadian ekstrim/bencana adalah salah satu dampak dari perubahan iklim;
4. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, yang mengamanatkan tentang pengelolaan pembangunan secara spasial terutama dalam pembangunan ruang terbuka hijau;
5. Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang mengamanatkan tentang pengelolaan pesisir yang memuat kegiatan mitigasi dalam bencana dan perubahan iklim;
6. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 Tentang Energi, yang mengamanatkan tentang pengelolaan energi khususnya dalan rangka konservasi energi.
III. DASAR KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH
Dalam pembangunan melalui proses dan tahapan yang cukup panjang mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan, dimana setiap kegiatan pembangunan harus berpedoman pada kebijakan atau peraturan perundangan yang berlaku baik dari pusat maupun dari daerah.
Kebijakan atau peraturan perundangan yang mendukung kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta terintengralisasi dengan pembangunan daerah Provinsi Sumatera Barat:
1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sumatera barat, dengan dasar hukum PERDA Nomor 04 Tahun 2007, yang memuat program pembangunan daerah lima tahunan dengan tujuh agenda, salah satu agenda yang mendukung pengurangan dampak perubahan iklim adalah agenda membangun ekonomi yang tangguh dan berkeadilan, sub agenda pengelolaan sumberdaya alam, lingkungan hidup, bencana alam dan pembangunan berkelanjutan;
2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Sumatera Barat belum memiliki dasar hukum, yang memuat kebijakan pembangunan jangka panjang duapuluh tahunan dan dibagi dalam empat tahapan pembangunan dengan lima arahan kebijakan pembangunan, satu arahan yang mendukung pengurangan dampak perubahan iklim adalah mewujudkan kualitas lingkungan hidup yang baik dengan pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan;
3. Dokumen Hirarki Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu Sumatera Barat belum memiliki dasar hukum, yang terdiri dari empat perencanaan yaitu rencana strategis, rencana zonasi, rencana pengelolaan dan rencana aksi dari pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu dan memuat kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim pada sektor kelautan;
4. Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Sumatera Barat, belum memiliki dasar hukum, lebih fokus memuat kegiatan mitigasi perubahan iklim karena lebih banyak mengulas kegiatan fase pra bencana;
5. Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), merupakan kajian baru dan masuk tahapan sosialisasi untuk meningkatkan manfaat pembangunan dan lebih terjamin keberlanjutannya, melalui proses sistematis dan komprehensif untuk mengevaluasi dampak lingkungan, pertimbangan sosial ekonomi, prospek keberlanjutan dari usulan kebijakan, rencana atau program pembangunan.
IV. PROGRAM, KEGIATAN PEMBANGUNAN TELAH DAN AKAN DILAKUKAN
Program dan kegiatan pembangunan yang telah dan akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat rangka mengurangi dampak perubahan iklim yang terus berjalan:
1. Menuju Indonesia Hijau,
Program menuju Indonesia hijau terus menerus digerakkan dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan tutupan vegetasi baik yang berada pada kawasan lindung maupun lahan kosong (lahan kritis, perkarangan, halaman kantor, sekolah). Untuk itu pada tanggal 4 Februari 2008 dikeluarkan Instruksi Gubernur Sumatera Barat Nomor 1 Tahun 2008 tentang peningkatan tutupan lahan, yang menjadi dasar hukum kepada Bupati/Walikota dalam mengembangkan lokasi tutupan vegetasi.
2. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL),
Program GN-RHL dimulai pada tahun 2003 dengan sumberdana berasal dari APBN, yang langsung dilaksanakan oleh Kab./Kota dan sampai saat ini terus berlangsung yang dikoordinasikan oleh UPT Dep. Kehutanan yaitu BP-DAS Agam Kuantan.
3. Gerakan Indonesia Menanam,
Upaya pengurangan laju deforestasi dan degradasi lahan telah lama dilakukan melalui kegiatan Inpres Penghijauan dan Reboisasi dan RN-RHL. Untuk mendapat hasil yang optimal/maksimal diperlukan pemberdayaan masyarakat dan pelaksanaan yang berkesinambungan, maka Presiden RI mencanangkan aksi penanaman serentak Indonesia, yang ditindaklanjuti dengan lomba pelaksana aksi penanaman serentak Indonesia dan kontes pohon pada hari menanam nasional (28 November) dan bulan menanam nasional (Desember).
4. Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM),
Dalam rangka menumbuh kembangkan minat dan keperdulian tunas bangsa terhadap lingkungan/hutan/tanaman, dilaksanakan kegiatan KMDM melalui dana APBD Provinsi mulai tahun 2006 untuk 15 sekolah per tahun, dengan fokus pada tatacara (teori dan praktek) membuat bibit, menanam, merawat dan memanen.
5. Program ADIWIYATA (Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan),
Pada tanggal 3 Juni 2005 telah ditandatangani kesepakatan bersama (MoU) antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional, untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai wawasan lingkungan hidup kepada komunitas sekolah (guru, murid dan staf sekolah) dan masyarakat. Tindak lanjut dari MoU dengan dicanangkannya Program Adiwiyata mulai tahun 2006, untuk mewujudkan kelembagaan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah melalui seleksi sekolah yang memenuhi persyaratan.
6. Penetapan Kawasan Konservasi (Hutan, Perairan dan Laut),
Dalam pemanfaatan sumberdaya alam (hutan dan perikanan dan laut) yang berkelanjutan dibutuhkan penetapan kawasan konservasi oleh pemerintah sesuai dengan kewenangannya, seperti:
Hutan, bila dilihat secara kewilayahan Sumatera Barat dapat dikatakan sebagai Provinsi Konservasi karena 64% wilayahnya merupakan kawasan lindung.
Perairan Umum, mengacu pada Undang-undang Nomor 31 Tahun 2005, terdapat kawasan konservasi perairan (danau, sungai, ikan larangan).
Pesisir dan Laut, mengacu pada Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007, terdapat kawasan konsevasi laut daerah
7. Carbon Credit,
Pemerintah daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) telah berupaya untuk mendapatkan dana dari pengurangan gas rumah kaca melalui The Carbon Trading, melalui Voluntary Carbon Market (Non Kyoto Protokol) pemerintah telah menjajaki/berkerjasama dengan Carbon Strategis Global yang merupakan sebuah company dari Australia untuk mendapatkan dana kompensasi.
DAFTAR PUSTAKA
Bappeda (2003), Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Barat, Padang;
Bappeda (2005), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Barat, Padang;
Bappeda (2005), Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Barat, Padang;
Bappeda (2005), Rencana Aksi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Barat, Padang;
Bappeda (2007), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Barat, Padang;
KLH (2008), Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim, Kementerian Negara Lingkungan, Jakarta
Departemen Kehutanan (2008), Panduan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Blan Menanam Nasional, Departemen Kehutanan, Jakarta;
KLH (2008), Panduan ADIWIYATA (Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan), Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta;
Mutia Naim (2008), Dampak Perubahan Iklim Terhadap Lingkungan, Jakarta
Padang, 22 – 23 Nopember 2008
PERAN PEMERINTAH DAERAH SUMATERA BARAT
DALAM PENGURANGAN DAMPAK PERUBAHAN IKLIM
Dr. Bambang Istijono, ME
Anggota Ikatan Geografi Indonesia Cabang Sumatera Barat
Kepala Bappeda Provinsi Sumatera Barat
Pengajar Fakultas Teknik – UNAND
I. PENDAHULUAN
Provinsi Sumatera Barat mempunyai luas daerah sekitar 42.297,30 Km2 setara dengan 2,17% luas wilayah negara kesatuan Republik Indonesia, berbatasan dengan empat provinsi dan satu lautan, yaitu Provinsi Sumatera Utara di sebelah utara, Riau di sebelah timur, Jambi dan Bengkulu di sebelah selatan dan Samudera Hindia di sebelah barat.
Provinsi Sumatera Barat dapat pula dikategorikan sebagai provinsi kepulauan karena memiliki perairan laut seluas 186.580 km2 dengan perairan teritorial seluas 57.880 km2 dan panjang garis pantai 2.420 km. Dalam perairan laut terdapat 377 pulau, dimana sebagian besar berada di Kabupaten Kepulauan Mentawai berjumlah 323 pulau. (Lihat Peta)
Peta Kawasan Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat
Sebagai provinsi yang memiliki cukup banyak pulau kecil dan garis pantai yang relatif panjang, maka sangat rentan terhadap dampak perubahan iklim akibat dari adanya pemanasan global. Pemanasan global yang merubah sistem iklim dapat dibuktikan dari meningkatnya suhu udara dan laut rata-rata, meluasnya pencairan salju dan es di kutub bumi dan meningkatnya ketinggian permukaan laut rata-rata (IPCC-4, 2007).
Dampak pemanasan global dan perubahan iklim yang dapat dilihat di wilayah Sumatera Barat seperti:
1. Sangat jelas adanya peningkatan permukaan air laut selain akibat adanya abrasi (Pantai Padang, Muara Putus, Ranah Sasak), ini merubah tatanan sosial ekonomi yang mengakibatkan ekonomi tinggi seperti relokasi penduduk, hilangnya lahan (pertanian, tabek) dan sarana prasarana infrastruktur;
2. Menurut Departemen Kelautan dan Perikanan (2007), bahwa Indonesia telah kehilangan dua empat pulau kecil, dua diantaranya berada Sumatera Barat, dan ini akan merubah muatan dari pelajaran geografi;
3. Berdasarkan kajian-kajian yang ada, pemanasan global mengakibatkan pengaruh buruk/negatif bagi semua penghidupan seperti:
Perubahan pola musim panas dan hujan, yang akibatkan fluktuasi ketersediaan air (kekurangan dan banjir):
Mengganggu sektor pertanian dengan menurunnya produksi petani karena berubahnya musim tanam petani, kesuburan lahan;
Menurunnya hasil tangkapan nelayan dan terganggunya budidaya ikan baik perairan umum dan laut;
Kesehatan manusia baik langsung (kanker kulit, katarak dan kekebalan tubuh) maupun tidak langsung (berkembangnya nyamuk = malaria dan deman berdarah).
Upaya penanganan dampak dari perubahan iklim dibagi dalam dua bentuk pendekatan, yaitu:
1. Kegiatan mitigasi, yang bertujuan untuk memperlambat terjadinya perubahan iklim lebih lanjut dengan cara mengurangi emisi gas rumah kaca ke atmosfer atau kegiatan yang menyerap gas rumah kaca;
2. Kegiatan adaptasi, kegiatan yang dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi perubahan iklim yang terjadi.
Pemanasan global dan perubahan iklim merupakan salah satu isu lingkungan hidup yang sedang naik daun karena bukan isu lokal tetapi merupakan isu dunia yang dampaknya dirasakan seluruh penduduk bumi di berbagai belahan dunia. Dan menjadi momen yang sangat penting karena Indonesia dapat menyelenggarakan konvensi perserikatan bangsa-bangsa mengenai perubahan iklim yang diadakan di Bali pada tanggal 3-14 Desember 2007 serta menjadi pertemuan lanjutan bagi pihak Meeting of The Parties dari Protokol Kyoto.
Sebagai tindak lanjut hari lingkungan hidup tahun 2007 yang mengambil tema mengenai perubahan iklim dan mengamanatkan untuk menyusunan rencana aksi nasional perubahan iklim (RAN-PI), dimana pada bulan November 2007 dokumen RAN-PI tersebut telah disetujui dan harus dijadikan panduan bagi instansi terkait baik pusat maupun daerah dalam melaksanakan pembangunan.
II. DASAR KEBIJAKAN PUSAT
Indonesia mempunyai komitmen untuk menjaga iklim global dengan penandatanganan konvensi perubahan iklim dan ratifikasi protokol Kyoto serta ditindaklanjuti dengan tersusunnya RAN-PI yang merupakan bagian integral dari tujuan strategi pembangunan dalam rangka antisipasi perubahan iklim.
RAN-PI mempunyai kerangka waktu dalam pelaksanaan, yaitu:
1. Aksi Segera (2007-2009);
2. Aksi Jangka Pendek (2009-2012);
3. Aksi Jangka Menengah (2012-2025);
4. Aksi Jangka Panjang (2025-2050).
Selain dokumen RAN-PI terdapat pula peraturan perundangan per sektor yang mendukung pelaksanaan kegiatan integral pembangunan dalam mitigasi dan adaptasi perubahan iklim yaitu :
1. Undang-undang Nomor 23 Tahun 1997 Tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
2. Undang-undang Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan, yang mengamanatkan tentang pengelolaan hutan yang banyak memuat kegiatan mitigasi dalam pengurangan/penyerapan gas rumah kaca;
3. Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, yang mengamanatkan tentang pengelolaan kebencanaan karena kejadian ekstrim/bencana adalah salah satu dampak dari perubahan iklim;
4. Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, yang mengamanatkan tentang pengelolaan pembangunan secara spasial terutama dalam pembangunan ruang terbuka hijau;
5. Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, yang mengamanatkan tentang pengelolaan pesisir yang memuat kegiatan mitigasi dalam bencana dan perubahan iklim;
6. Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 Tentang Energi, yang mengamanatkan tentang pengelolaan energi khususnya dalan rangka konservasi energi.
III. DASAR KEBIJAKAN PEMERINTAH DAERAH
Dalam pembangunan melalui proses dan tahapan yang cukup panjang mulai dari perencanaan sampai pelaksanaan, dimana setiap kegiatan pembangunan harus berpedoman pada kebijakan atau peraturan perundangan yang berlaku baik dari pusat maupun dari daerah.
Kebijakan atau peraturan perundangan yang mendukung kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim serta terintengralisasi dengan pembangunan daerah Provinsi Sumatera Barat:
1. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Sumatera barat, dengan dasar hukum PERDA Nomor 04 Tahun 2007, yang memuat program pembangunan daerah lima tahunan dengan tujuh agenda, salah satu agenda yang mendukung pengurangan dampak perubahan iklim adalah agenda membangun ekonomi yang tangguh dan berkeadilan, sub agenda pengelolaan sumberdaya alam, lingkungan hidup, bencana alam dan pembangunan berkelanjutan;
2. Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Sumatera Barat belum memiliki dasar hukum, yang memuat kebijakan pembangunan jangka panjang duapuluh tahunan dan dibagi dalam empat tahapan pembangunan dengan lima arahan kebijakan pembangunan, satu arahan yang mendukung pengurangan dampak perubahan iklim adalah mewujudkan kualitas lingkungan hidup yang baik dengan pengelolaan sumberdaya alam berkelanjutan;
3. Dokumen Hirarki Pengelolaan Wilayah Pesisir Terpadu Sumatera Barat belum memiliki dasar hukum, yang terdiri dari empat perencanaan yaitu rencana strategis, rencana zonasi, rencana pengelolaan dan rencana aksi dari pengelolaan wilayah pesisir secara terpadu dan memuat kegiatan mitigasi dan adaptasi perubahan iklim pada sektor kelautan;
4. Rencana Penanggulangan Bencana (RPB) Sumatera Barat, belum memiliki dasar hukum, lebih fokus memuat kegiatan mitigasi perubahan iklim karena lebih banyak mengulas kegiatan fase pra bencana;
5. Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), merupakan kajian baru dan masuk tahapan sosialisasi untuk meningkatkan manfaat pembangunan dan lebih terjamin keberlanjutannya, melalui proses sistematis dan komprehensif untuk mengevaluasi dampak lingkungan, pertimbangan sosial ekonomi, prospek keberlanjutan dari usulan kebijakan, rencana atau program pembangunan.
IV. PROGRAM, KEGIATAN PEMBANGUNAN TELAH DAN AKAN DILAKUKAN
Program dan kegiatan pembangunan yang telah dan akan dilaksanakan oleh pemerintah daerah Provinsi Sumatera Barat rangka mengurangi dampak perubahan iklim yang terus berjalan:
1. Menuju Indonesia Hijau,
Program menuju Indonesia hijau terus menerus digerakkan dalam upaya mempertahankan dan meningkatkan tutupan vegetasi baik yang berada pada kawasan lindung maupun lahan kosong (lahan kritis, perkarangan, halaman kantor, sekolah). Untuk itu pada tanggal 4 Februari 2008 dikeluarkan Instruksi Gubernur Sumatera Barat Nomor 1 Tahun 2008 tentang peningkatan tutupan lahan, yang menjadi dasar hukum kepada Bupati/Walikota dalam mengembangkan lokasi tutupan vegetasi.
2. Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (GN-RHL),
Program GN-RHL dimulai pada tahun 2003 dengan sumberdana berasal dari APBN, yang langsung dilaksanakan oleh Kab./Kota dan sampai saat ini terus berlangsung yang dikoordinasikan oleh UPT Dep. Kehutanan yaitu BP-DAS Agam Kuantan.
3. Gerakan Indonesia Menanam,
Upaya pengurangan laju deforestasi dan degradasi lahan telah lama dilakukan melalui kegiatan Inpres Penghijauan dan Reboisasi dan RN-RHL. Untuk mendapat hasil yang optimal/maksimal diperlukan pemberdayaan masyarakat dan pelaksanaan yang berkesinambungan, maka Presiden RI mencanangkan aksi penanaman serentak Indonesia, yang ditindaklanjuti dengan lomba pelaksana aksi penanaman serentak Indonesia dan kontes pohon pada hari menanam nasional (28 November) dan bulan menanam nasional (Desember).
4. Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM),
Dalam rangka menumbuh kembangkan minat dan keperdulian tunas bangsa terhadap lingkungan/hutan/tanaman, dilaksanakan kegiatan KMDM melalui dana APBD Provinsi mulai tahun 2006 untuk 15 sekolah per tahun, dengan fokus pada tatacara (teori dan praktek) membuat bibit, menanam, merawat dan memanen.
5. Program ADIWIYATA (Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan),
Pada tanggal 3 Juni 2005 telah ditandatangani kesepakatan bersama (MoU) antara Menteri Negara Lingkungan Hidup dengan Menteri Pendidikan Nasional, untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman mengenai wawasan lingkungan hidup kepada komunitas sekolah (guru, murid dan staf sekolah) dan masyarakat. Tindak lanjut dari MoU dengan dicanangkannya Program Adiwiyata mulai tahun 2006, untuk mewujudkan kelembagaan sekolah yang peduli dan berbudaya lingkungan bagi sekolah dasar dan menengah melalui seleksi sekolah yang memenuhi persyaratan.
6. Penetapan Kawasan Konservasi (Hutan, Perairan dan Laut),
Dalam pemanfaatan sumberdaya alam (hutan dan perikanan dan laut) yang berkelanjutan dibutuhkan penetapan kawasan konservasi oleh pemerintah sesuai dengan kewenangannya, seperti:
Hutan, bila dilihat secara kewilayahan Sumatera Barat dapat dikatakan sebagai Provinsi Konservasi karena 64% wilayahnya merupakan kawasan lindung.
Perairan Umum, mengacu pada Undang-undang Nomor 31 Tahun 2005, terdapat kawasan konservasi perairan (danau, sungai, ikan larangan).
Pesisir dan Laut, mengacu pada Undang-undang Nomor 27 Tahun 2007, terdapat kawasan konsevasi laut daerah
7. Carbon Credit,
Pemerintah daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) telah berupaya untuk mendapatkan dana dari pengurangan gas rumah kaca melalui The Carbon Trading, melalui Voluntary Carbon Market (Non Kyoto Protokol) pemerintah telah menjajaki/berkerjasama dengan Carbon Strategis Global yang merupakan sebuah company dari Australia untuk mendapatkan dana kompensasi.
DAFTAR PUSTAKA
Bappeda (2003), Rencana Strategis Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Barat, Padang;
Bappeda (2005), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Barat, Padang;
Bappeda (2005), Rencana Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Barat, Padang;
Bappeda (2005), Rencana Aksi Wilayah Pesisir dan Laut Provinsi Sumatera Barat, Sumatera Barat, Padang;
Bappeda (2007), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Provinsi Sumatera Barat, Padang;
KLH (2008), Rencana Aksi Nasional Dalam Menghadapi Perubahan Iklim, Kementerian Negara Lingkungan, Jakarta
Departemen Kehutanan (2008), Panduan Hari Menanam Pohon Indonesia dan Blan Menanam Nasional, Departemen Kehutanan, Jakarta;
KLH (2008), Panduan ADIWIYATA (Sekolah Peduli dan Berbudaya Lingkungan), Kementerian Negara Lingkungan Hidup, Jakarta;
Mutia Naim (2008), Dampak Perubahan Iklim Terhadap Lingkungan, Jakarta
Jumat, 12 Maret 2010
Resume - Penginderaan Jauh
I. PENDAHULUAN
Pengindraan jauh merupakan ilmu dan seni dalam ekstraksi informasi mengenai suatu objek, wilayah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh tanpa melalui kontak langsung dengan objek, wilayah, atau fenomena yang dikaji. Pengindraan jauh dan Sistem informasi Geografi (SIG) merupakan perpaduan atau pengintregasian sikap dalam teknologi survey pemetaan yang paling baik, setidaknya pada dekade saat ini. Citra satelit yang telah tercetak mempunyai kelebihan diantaranya adalah kemudahan analisis regional secara cepat dan kemudahan pemindahan hasil interpretasi ke peta dasar. Sistem pengolahan citra satelit dapat memberikan masukan pada SIG berupa peta tematik hasil ekstraksi informasi dari citra digital satelit, dan fasilitas analisis spasial dari SIG mampu mempertajam kemampuan analisis pengolahan citra, terutama dalam hal pemanfaatan data bantu untuk meningkatkan akurasi hasil klasifikasi multispektral.
Pemanfaatan teknologi SIG telah dimulai pada awal tahun 1960-an, antara lain oleh Tomlinson (Marble dan Peuquet, 1983), selanjutnya pada decade 1970-an beberapa Negara di Amerika Serikat tellah memulai untuk penerapan SIG dalam pengelolaan sumberdaya lahan dan perencanaan wilayah. Dangermond (1982) mengawali pengembangan paket perangkat lunak (software) SIG yang popular yakni ARC/INFO, dan selanjutnya juga banyak berkembang paket – paket yang lainnya dan sebagian besar dioperasikan untuk PC.
II. SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
2.1 Pendahuluan
Data spasial (aspek keruangan) banyak digunakan oleh sistem yang digunakan sebagai alat bantu yang digunakan dalam sistem perancangan, atau disebut CAD (computer aided design), dan sistem kartografi yang berbasis computer, yang disebut CAC (computer accosted cartography). Kemampuan CAD adalah dalam pembuatan grafik, sketsa, diagram, dijitasi peta dan gambar rancangan, pemberian anotasi, pembentukan gambar perspektif, pemodelan gambar 2 dan 3 dimensi dan beberapa analisis spasial.
Jenis data spasial yang sering digunakan dalam PJ adalah raser. Setiap sistem pengolahan citra digital tersebut di atas juga mempunyai kemampuan analisis spasial sebagaimana CAD. Jenis data atribut atau non spasial digunakan oleh sistem maanjemen basis data, yang disebut DBMS (database management system). Kelemahan DBMS hanya dapat menjawab pertanyaan atribut atau non spasial.
Perkembangan teknologi di bidang komputer grafis, basis data, teknologi informasi, dan teknologi satelit penginderaan jauh, maka kebutuhan analisis, penyimpanan, dan penyajian data yang berstruktur kompleks dengan jumlah besar makin mendesak. Salah satu system yang menawarkan solusi untuk masalah ini adalah Sistem Informasi Geografi (SIG).
2.2 Pengertian dan Pemahaman SIG
Mendasarkan pengertian bahwa kegiatan penginderaan jauh sangat erat kaitannya dengan survei – pemetaan, dan secara khusus pengolahan citra digital pengideraan jauh juga merupakan system pengolah informasi spasial berbasis computer, maka pemahaman dan pengertian SIG perlu pembahasan secara khusus, khususnya yang ada relevansinya dengan pengolahan citra digital.
Jadi bila diambil kesimpulan dari beberapa pengertian yang ada, bias diambil kesamaan fungsi dasar pengolahan citra digital dan SIG, keduanya berusaha untuk memberikan informasi spasial baru melalui beberapa prosedur yang pada umumnya berbasis komputer.
2.3 Konsep Dasar SIG
Semenjak periode 1970-an telah dikembangkan sistem yang secara khusus menangani masalah informasi yang berreferensi geografis dalam berbagai cara dan bentuk, dengan permasalahan yang meliputi: a). pengorganisasian data dan informasi, b). menempatkan informasi pada lokasi tertentu, c). melakukan komputasi, memberikan ilustrasi hubungan satu sama lainnya, beserta analisis spasial lainnya.
Data geografi pada mulanya hanya disajikan di atas peta dengan menggunakan symbol, garis dan warna. Selain itu berbagai data juga dapat ditumpang susunkan berdasar system koordinat yang sama.akibatnya sebuah peta menjadi media yang efektif baik sebagai alat presentasi maupun sebagai penyimpan data geografi.
2.4 Definisi SIG
Definisi SIG senantiasa berkembang, selain itu SIG juga merupakan suatu bidang kajian ilmu dan teknologi yang relative baru, digunakan oleh berbagai disiplin ilmu, dan berkembang dengan cepat. Berikut diajukan 5 definisi SIG yang merupakan sebagian kecil dari definisi SIG yang telah beredar di berbagai pustaka.
a) SIG adalah sistem computer yang digunakan untuk memasukkan (capturing), menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisis,dan menampilkan data – data yang berhubungan dengan posisi – posisi di permukaan bumi (RICE, 2000)
b) SIG adalah system yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data manusia (brainware), organisasi dan lembaga yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisa dan menyebarkan informasi – informasi mengenai daerah – daerah di muka bumi (CHRISMAN, 1997)
c) SIG adalah system computer yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, mengintegrasikan, dan menganalisa informasi – informasi yang berhubungan dengan muka bumi (DEMERS, 1997)
d) SIG adalah teknologi informasi yang dapat menganalisa, menyimpan, dan menampilkan baik data spasial maupun non spasial. SIG mengkombinasikan kekuatan perangkat lunak basis data relasional dan paket perangkat lunak. (GUO, 2000).
e) SIG adalah kombinasi perangkat lunak dan perangkat keras yang memungkinkan untuk mengelola, menganalisa, memetakan informasi spasial berikut atributnya dengan akurasi kartografi. (BASIC, 2000).
2.5 Sub Sistem SIG
SIG dapat diuraikan menjadi beberap subsistem sebagai berikut :
a) Data Input: sistem ini berfungsi untuk mengumpulkan serta mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber. Subsistem ini juga bertanggung jawab dalam mengkonversi atau atau mentransformasikan format data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
b) Data Output: subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data, baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy, seperti tabel, grafik, peta, dan sebagainya.
c) Data Management: subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, di update, dan di edit.
d) Data Manipulation dan Analisis: subsistem ini menentukan informasi yang daapt dihasilkan oleh SIG, selain itu, subsistem ini juga melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk informasi yang diharapkan.
2.6 Komponen SIG
Menurut GISTUT tahun 1994 sistem SIG meliputi beberapa komponen sebagai berikut:
a) Perangkat Keras
SIG tersedia untuk berbagai platform perangkat keras, mulai dari PC, desktop, workstations, hingga multiuser host, yang dapat digunakan oleh benyak orang secara bersamaan dalam jaringan computer yang luas, berkemampuan tinggi, memiliki ruang penyimpanan (harddisk) yang besar dan mempunyai kapasitas memori (RAM) yang besar. Perangkat keras yang digunakan untuk SIG adalah Komputer (PC), mouse, digitizer, printer, plotter, dan scanner.
b) Perangkat Lunak
Setiap subsitem diimplementasikan dengan menggunakan perangkat lunak yang terdiri dari beberapa modul, sehingga tidak mengherankan jika ada perangkat SIG yang terdiri dari ratusan modul program (.exe) yang masing-masing dapat dieksekusi sendiri.
c) Data dan Informasi Geografis
SIG dapat mengumpulkan dan menyimapan data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara mengimportnya dari perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara mendijitasi data spasialnya dari peta dan memasukkan data atributnya dari tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard.
d) Manajemen
Suatu proyek SIG akan berhasil jika di manage dengan baik dan dilaksanakan oleh orang-orang yaag memiliki keahlian yang tepat pada semua tingkat.
Perangkat Keras (hardware)
Perangkat keras SIG memiliki pengertian perangkat fisik yang digunakan oleh system komputer. Perangkat keras ini pada umumnya meliputi:
a. CPU ( unit pemrosesan utama)
Perangkat ini merupakan bagian dari sistem komputer yang bertindak sebagai tempat untuk pemrosesan semua instruksi dan program. Selain itu juga mengendalikan seluruh operasi yang ada di dalam lingkungan sistem komputer yang bersangkutan.
b. RAM
Perangkat ini digunakan oleh CPU untuk menyimpan sementara semua data dan program yang dimasukkan melalui input device baik untuk jangka waktu yang panjang maupun pendek.
c. STORAGE
perangkat ini merupakan tempat penyimpanan data secara permanen atau semi permanen.
d. INPUT DEVICE
Merupakan peralatan yang digunakan untuk memasukkan data ke dalam SIG. Yang termasuk ke dalam perangkat ini adalah keyboard, mouse, digitizer, scanner, kamera digital, dan sebagainya.
e. OUTPUT DEVICE
Merupakan peralatan yang digunakan untuk mempresentasikan data dan informasi SIG. Yang termasuk ke dalam perangkat ini adalah layar monitor, printer, plotter, dan sebagainya.
f. Pheriperal lainnya
Yang termasuk dalam perangkat ini adalah kabel jaringan, modem, ISP, router, card jaringan atau etehrnet, CPU khusus untuk clients dan server dan sebagainya.
Perangkat Lunak (software)
Dalam sistem komputer modern, perangkat lunak yang digunakan tidak dapat berdiri sendiri, namun terdiri dari beberapa layer. Model layer ini terdiri dari system operasi, program pendukung system khusus, dan perangkat lunak aplikasi (Antenucci, 1991).
Perangkat lunak SIG tersedia dalam bentuk paket perangkat lunak yang masing-masing terdiri dari multi program yang terintegrasi untuk mendukung kemampuan khusus dan pemetaan, manajemen, dan analisis data geografis. Perangkat lunak yang dikembangkan untuk SIG secara konseptual meliputi 2 bagian, yakni paket inti yang digunakan untuk pemetaan dasar dan manajemen data, dan paket aplikasi yang terintegrasi dengan paket inti untuk menjalankan pemetaan khusus dan aplikasi analisis geografi.
Pemilihan perangkat lunak SIG sangat bergantung pada beberap factor, termasuk tujuan aplikasi, biaya pembelian dan pemeliharaan, kesiapan dan kemampuan personil, pengguna dan agen perangkat lunak yang bersangkutan. Ilustrasi mengenai kebutuhan perangkat lunak SIG. WGIAC (Wyoming geographic information advisory council), telah membuat standard umum sebagai berikut (WGIAC, 2000) :
a. System Operasi : berbasis UNIX (X Windows) atau Windows (Win98, Win03, WinNT)
b. Model Data Spasial : raster dan vector, namun dengan prioritas tinggi pada model data spasial vector
c. Basisdata : bila menggunakan basisdata relasional, harus sesuai dengan standard SQL (FIPS 127-2) sebagaimana dideskripsikan didalam system manajemen, basisdata untuk standard aplikasi multiuser. Bila tidak menggunakan basisdata relasional, maka basis data tersebut harus mampu melakukan eksport atau import ked an dari basisdata relasional (SQL)
Pengindraan jauh merupakan ilmu dan seni dalam ekstraksi informasi mengenai suatu objek, wilayah, atau fenomena melalui analisis data yang diperoleh tanpa melalui kontak langsung dengan objek, wilayah, atau fenomena yang dikaji. Pengindraan jauh dan Sistem informasi Geografi (SIG) merupakan perpaduan atau pengintregasian sikap dalam teknologi survey pemetaan yang paling baik, setidaknya pada dekade saat ini. Citra satelit yang telah tercetak mempunyai kelebihan diantaranya adalah kemudahan analisis regional secara cepat dan kemudahan pemindahan hasil interpretasi ke peta dasar. Sistem pengolahan citra satelit dapat memberikan masukan pada SIG berupa peta tematik hasil ekstraksi informasi dari citra digital satelit, dan fasilitas analisis spasial dari SIG mampu mempertajam kemampuan analisis pengolahan citra, terutama dalam hal pemanfaatan data bantu untuk meningkatkan akurasi hasil klasifikasi multispektral.
Pemanfaatan teknologi SIG telah dimulai pada awal tahun 1960-an, antara lain oleh Tomlinson (Marble dan Peuquet, 1983), selanjutnya pada decade 1970-an beberapa Negara di Amerika Serikat tellah memulai untuk penerapan SIG dalam pengelolaan sumberdaya lahan dan perencanaan wilayah. Dangermond (1982) mengawali pengembangan paket perangkat lunak (software) SIG yang popular yakni ARC/INFO, dan selanjutnya juga banyak berkembang paket – paket yang lainnya dan sebagian besar dioperasikan untuk PC.
II. SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
2.1 Pendahuluan
Data spasial (aspek keruangan) banyak digunakan oleh sistem yang digunakan sebagai alat bantu yang digunakan dalam sistem perancangan, atau disebut CAD (computer aided design), dan sistem kartografi yang berbasis computer, yang disebut CAC (computer accosted cartography). Kemampuan CAD adalah dalam pembuatan grafik, sketsa, diagram, dijitasi peta dan gambar rancangan, pemberian anotasi, pembentukan gambar perspektif, pemodelan gambar 2 dan 3 dimensi dan beberapa analisis spasial.
Jenis data spasial yang sering digunakan dalam PJ adalah raser. Setiap sistem pengolahan citra digital tersebut di atas juga mempunyai kemampuan analisis spasial sebagaimana CAD. Jenis data atribut atau non spasial digunakan oleh sistem maanjemen basis data, yang disebut DBMS (database management system). Kelemahan DBMS hanya dapat menjawab pertanyaan atribut atau non spasial.
Perkembangan teknologi di bidang komputer grafis, basis data, teknologi informasi, dan teknologi satelit penginderaan jauh, maka kebutuhan analisis, penyimpanan, dan penyajian data yang berstruktur kompleks dengan jumlah besar makin mendesak. Salah satu system yang menawarkan solusi untuk masalah ini adalah Sistem Informasi Geografi (SIG).
2.2 Pengertian dan Pemahaman SIG
Mendasarkan pengertian bahwa kegiatan penginderaan jauh sangat erat kaitannya dengan survei – pemetaan, dan secara khusus pengolahan citra digital pengideraan jauh juga merupakan system pengolah informasi spasial berbasis computer, maka pemahaman dan pengertian SIG perlu pembahasan secara khusus, khususnya yang ada relevansinya dengan pengolahan citra digital.
Jadi bila diambil kesimpulan dari beberapa pengertian yang ada, bias diambil kesamaan fungsi dasar pengolahan citra digital dan SIG, keduanya berusaha untuk memberikan informasi spasial baru melalui beberapa prosedur yang pada umumnya berbasis komputer.
2.3 Konsep Dasar SIG
Semenjak periode 1970-an telah dikembangkan sistem yang secara khusus menangani masalah informasi yang berreferensi geografis dalam berbagai cara dan bentuk, dengan permasalahan yang meliputi: a). pengorganisasian data dan informasi, b). menempatkan informasi pada lokasi tertentu, c). melakukan komputasi, memberikan ilustrasi hubungan satu sama lainnya, beserta analisis spasial lainnya.
Data geografi pada mulanya hanya disajikan di atas peta dengan menggunakan symbol, garis dan warna. Selain itu berbagai data juga dapat ditumpang susunkan berdasar system koordinat yang sama.akibatnya sebuah peta menjadi media yang efektif baik sebagai alat presentasi maupun sebagai penyimpan data geografi.
2.4 Definisi SIG
Definisi SIG senantiasa berkembang, selain itu SIG juga merupakan suatu bidang kajian ilmu dan teknologi yang relative baru, digunakan oleh berbagai disiplin ilmu, dan berkembang dengan cepat. Berikut diajukan 5 definisi SIG yang merupakan sebagian kecil dari definisi SIG yang telah beredar di berbagai pustaka.
a) SIG adalah sistem computer yang digunakan untuk memasukkan (capturing), menyimpan, memeriksa, mengintegrasikan, memanipulasi, menganalisis,dan menampilkan data – data yang berhubungan dengan posisi – posisi di permukaan bumi (RICE, 2000)
b) SIG adalah system yang terdiri dari perangkat keras, perangkat lunak, data manusia (brainware), organisasi dan lembaga yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, menganalisa dan menyebarkan informasi – informasi mengenai daerah – daerah di muka bumi (CHRISMAN, 1997)
c) SIG adalah system computer yang digunakan untuk mengumpulkan, memeriksa, mengintegrasikan, dan menganalisa informasi – informasi yang berhubungan dengan muka bumi (DEMERS, 1997)
d) SIG adalah teknologi informasi yang dapat menganalisa, menyimpan, dan menampilkan baik data spasial maupun non spasial. SIG mengkombinasikan kekuatan perangkat lunak basis data relasional dan paket perangkat lunak. (GUO, 2000).
e) SIG adalah kombinasi perangkat lunak dan perangkat keras yang memungkinkan untuk mengelola, menganalisa, memetakan informasi spasial berikut atributnya dengan akurasi kartografi. (BASIC, 2000).
2.5 Sub Sistem SIG
SIG dapat diuraikan menjadi beberap subsistem sebagai berikut :
a) Data Input: sistem ini berfungsi untuk mengumpulkan serta mempersiapkan data spasial dan atribut dari berbagai sumber. Subsistem ini juga bertanggung jawab dalam mengkonversi atau atau mentransformasikan format data aslinya ke dalam format yang dapat digunakan oleh SIG.
b) Data Output: subsistem ini menampilkan atau menghasilkan keluaran seluruh atau sebagian basis data, baik dalam bentuk softcopy maupun hardcopy, seperti tabel, grafik, peta, dan sebagainya.
c) Data Management: subsistem ini mengorganisasikan baik data spasial maupun atribut ke dalam sebuah basis data sedemikian rupa sehingga mudah dipanggil, di update, dan di edit.
d) Data Manipulation dan Analisis: subsistem ini menentukan informasi yang daapt dihasilkan oleh SIG, selain itu, subsistem ini juga melakukan manipulasi dan pemodelan data untuk informasi yang diharapkan.
2.6 Komponen SIG
Menurut GISTUT tahun 1994 sistem SIG meliputi beberapa komponen sebagai berikut:
a) Perangkat Keras
SIG tersedia untuk berbagai platform perangkat keras, mulai dari PC, desktop, workstations, hingga multiuser host, yang dapat digunakan oleh benyak orang secara bersamaan dalam jaringan computer yang luas, berkemampuan tinggi, memiliki ruang penyimpanan (harddisk) yang besar dan mempunyai kapasitas memori (RAM) yang besar. Perangkat keras yang digunakan untuk SIG adalah Komputer (PC), mouse, digitizer, printer, plotter, dan scanner.
b) Perangkat Lunak
Setiap subsitem diimplementasikan dengan menggunakan perangkat lunak yang terdiri dari beberapa modul, sehingga tidak mengherankan jika ada perangkat SIG yang terdiri dari ratusan modul program (.exe) yang masing-masing dapat dieksekusi sendiri.
c) Data dan Informasi Geografis
SIG dapat mengumpulkan dan menyimapan data dan informasi yang diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara mengimportnya dari perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara mendijitasi data spasialnya dari peta dan memasukkan data atributnya dari tabel dan laporan dengan menggunakan keyboard.
d) Manajemen
Suatu proyek SIG akan berhasil jika di manage dengan baik dan dilaksanakan oleh orang-orang yaag memiliki keahlian yang tepat pada semua tingkat.
Perangkat Keras (hardware)
Perangkat keras SIG memiliki pengertian perangkat fisik yang digunakan oleh system komputer. Perangkat keras ini pada umumnya meliputi:
a. CPU ( unit pemrosesan utama)
Perangkat ini merupakan bagian dari sistem komputer yang bertindak sebagai tempat untuk pemrosesan semua instruksi dan program. Selain itu juga mengendalikan seluruh operasi yang ada di dalam lingkungan sistem komputer yang bersangkutan.
b. RAM
Perangkat ini digunakan oleh CPU untuk menyimpan sementara semua data dan program yang dimasukkan melalui input device baik untuk jangka waktu yang panjang maupun pendek.
c. STORAGE
perangkat ini merupakan tempat penyimpanan data secara permanen atau semi permanen.
d. INPUT DEVICE
Merupakan peralatan yang digunakan untuk memasukkan data ke dalam SIG. Yang termasuk ke dalam perangkat ini adalah keyboard, mouse, digitizer, scanner, kamera digital, dan sebagainya.
e. OUTPUT DEVICE
Merupakan peralatan yang digunakan untuk mempresentasikan data dan informasi SIG. Yang termasuk ke dalam perangkat ini adalah layar monitor, printer, plotter, dan sebagainya.
f. Pheriperal lainnya
Yang termasuk dalam perangkat ini adalah kabel jaringan, modem, ISP, router, card jaringan atau etehrnet, CPU khusus untuk clients dan server dan sebagainya.
Perangkat Lunak (software)
Dalam sistem komputer modern, perangkat lunak yang digunakan tidak dapat berdiri sendiri, namun terdiri dari beberapa layer. Model layer ini terdiri dari system operasi, program pendukung system khusus, dan perangkat lunak aplikasi (Antenucci, 1991).
Perangkat lunak SIG tersedia dalam bentuk paket perangkat lunak yang masing-masing terdiri dari multi program yang terintegrasi untuk mendukung kemampuan khusus dan pemetaan, manajemen, dan analisis data geografis. Perangkat lunak yang dikembangkan untuk SIG secara konseptual meliputi 2 bagian, yakni paket inti yang digunakan untuk pemetaan dasar dan manajemen data, dan paket aplikasi yang terintegrasi dengan paket inti untuk menjalankan pemetaan khusus dan aplikasi analisis geografi.
Pemilihan perangkat lunak SIG sangat bergantung pada beberap factor, termasuk tujuan aplikasi, biaya pembelian dan pemeliharaan, kesiapan dan kemampuan personil, pengguna dan agen perangkat lunak yang bersangkutan. Ilustrasi mengenai kebutuhan perangkat lunak SIG. WGIAC (Wyoming geographic information advisory council), telah membuat standard umum sebagai berikut (WGIAC, 2000) :
a. System Operasi : berbasis UNIX (X Windows) atau Windows (Win98, Win03, WinNT)
b. Model Data Spasial : raster dan vector, namun dengan prioritas tinggi pada model data spasial vector
c. Basisdata : bila menggunakan basisdata relasional, harus sesuai dengan standard SQL (FIPS 127-2) sebagaimana dideskripsikan didalam system manajemen, basisdata untuk standard aplikasi multiuser. Bila tidak menggunakan basisdata relasional, maka basis data tersebut harus mampu melakukan eksport atau import ked an dari basisdata relasional (SQL)
Langganan:
Postingan (Atom)

