PERANAN GURU GEOGRAFI
MENCIPTAKAN SEKOLAH BERWAWASAN LINGKUNGAN
DALAM UPAYA MEMINIMALISASI
DAMPAK PEMANASAN GLOBAL

ABSTRAK
(Inti Sari)

Sekolah Berwawasan Lingkungan, yaitu sekolah yang menjadikan lingkungan sekitarnya sebagai objek dan subjek pembelajaran, serta penataan lingkungan dengan melibatkan partisipasi warga sekolah.
Dengan dijadikannya lingkungan sekolah sebagai basik pembelajaran maka guru dapat menanamkan sikap cinta terhadap lingkungan, yang akan menumbuh kembangkan budaya; mengelola, memelihara, dan melestarikan lingkungan hidup.
Diantara guru sekolah yang sangat berperan dalam membentuk karakter peserta didik terhadap lingkungan sekolah, adalah guru mata pelajaran geografi. Guru geografi, yang dimaksud dalam tulisan ini adalah guru yang mengajarkan mata pelajaran geografi. Peranan guru geografi dimaksud antara lain: pemrakarsa, perencana dan pelaksana Sekolah Berwawasan Lingkungan (SBL).
Sebagai pemrakarsa SBL fungsi dan tugas guru geografi, terdiri atas; (a) menyampaikan ide dan gagasan kepada pimpinan sekolah, (b) memperhatikan dan mempelajari kondisi lingkungan sekolah, (c) membuat peta lokasi sekolah, (d) menetukan peruntukan lahan sekolah, (e) mengumpulkan data dan imformasi yang diperlukan untuk menyususn rencana dan program.
Dalam merencanakan SBL peranan guru geografi, antara laian; (a) membentuk tim work dengan melibatkan guru mata pelajaran yang relevan, (b) berkoordinasi dengan unsur pimpinan sekolah, (c) menyusun rencana dan program kerja sekolah berwawasan lingkungan.
Peranan guru geografi dalam melaksanakan SBL, adalah; (a) mensosialisasikan program SBL kepada warga sekolah, (b) mengatur penataan lingkungan sekolah, (c) mengkoordinir pelaksanaan program, (d) memonitor pelaksanaan program. Yang melaksanakan program dilakukan oleh warga sekolah (Sispala, Pramuka, OSIS, Siswa, jaga sekolah, tenaga administrasi sekolah dan guru.
Dengan terujudnya Sekolah Berwawasan Lingkungan, diharapkan diperoleh hasil terciptanya lingkungan sekolah yang berkualitas, yaitu suatu lingkungan sekolah yang sejuk, nyaman, indah, bersih dan sehat. Berarti dengan sekolah berwawasan lingkungan dapat meminimalisasi dampak pemanasan global dilingkungan sekolah. (Lam)

A. Latar Belakang
Panas, Bumiku makin panas karena terjadinya pemanasan global, disebabkan oleh semakin tipisnya lapisan ozon. Dampak pemanasan global ini merusak lingkungan dan mengancam kehidupan di Planet Bumi. Tumbuh-tumbuhan akan mati, populasi hewan berkurang jumlahnya, manusia akan menyesuaikan diri dengan kondisi iklim yang panas.
Sampai saat ini kita belum mampu mengatasinya pemanasan global, namun berusaha meminimalisasi dampak yang ditimbulkannya, Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh sekolah adalah menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan (SBL). Sekolah Berwawasan Lingkungan, adalah sebuah model sekolah yang menjadikan lingkungan sebagai basis dalam menciptakan dan mengembangkan lingkungan sekolah yang berkualitas dengan memberdayakan warga sekolah.
Realita yang dihadapi masih banyak dijumpai lingkungan sekolah yang gersang, dan tidak tertata dengan baik, menyebabkan udara terasa panas, pemandangan tidak indah, lingkungan tidak sehat. Kondisi ini berpangaruh terhadap iklim sekolah menjadi tidak kondusif dalam melakukan berbagai aktivitas disekolah.
Pada Sekolah Berwawasan Lingkungan, punya planning peruntukan lahan yang jelas, seperti; lokasi bangunan, penghijauan, kebun sekolah, taman kelas, green house, apotik hidup, tempat bermain, kolam ikan, tempat bermain. Banyak sekolah yang belum memiliki rencana pemamfaatan lahan berwawasan lingkungan.
Sehubungan dengan itu guru geografi sangat berperan dalam menciptakan dan mengembangkan Sekolah Berwawasan Lingkungan, sebab kajian geografi sangat relevan dengan lingkungan hidup. Karenanya guru geografi harus memprakarsai pembenahan lingkungan sekolah sebagai upaya menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan guna meminimalisasi dampak pemanasan global di sekitar sekolah khususnya.
Disamping itu dalam mengembangkan Sekolah Berwawasan Lingkungan diperlukan partisipasi seluruh warga sekolah, tanpa dukungan dari warga sekolah program Sekolah Berwawasan Lingkungan akan sulit dilaksanakan. Oleh sebab itu warga sekolah harus diberdayakan agar mereka cinta terhadap lingkungan hidup.-
B. Permasalahan
Berdasarkan latar belakang diatas, yang menjadi permasalahan pokok yang dikemukakan dalam makalah ini, sebagai berikut:
a. Warga sekolah masih banyak yang belum memahami tentang pemanasan global beserta dampak yang ditimbulkannya.
b. Banyaknya sekolah belum mengimplementasi konsep sekolah berwawasan lingkungan sebagai upaya meminimalisasi pemanasan global.
c. Peran guru geografi masih rendah dalam memprakarsai dan mengelola sekolah berwawasan lingkungan.
d. Kurang partisipasi warga sekolah dalam menciptakan dan mengembangkan
sekolah berwawasan lingkungan.
Warga sekolah kurang memahami terhadap pemanasan gobal beserta akibat yang ditimbulkannya terhadap penomina alam, lingkungan hidup, dan kehidupan yang terdapat di Planet Bumi. Oleh sebab itu guru geografi harus memberikan pengetahuan tentang pemanasan global terhadap warga sekolah.
Kurang pahamnya warga sekolah terhadap pemanasan global menyebabkan terkendalanya sekolah dalam meimplementasikan konsep Sekolah Berwawssan Lingkungan Buktinya masih banyak sekolah yang kondisi lingkungannya tidak bersih, sejuk dan nyaman. Lingkungan sekolah yang demikian tidak sehat.
Dalam pengembangan Sekolah Berwawasan Lingkungan diperlukan peran serta seluruh warga sekolah, namun masih banyak diantara warga sekolah yang kurang peduli dengan lingkungan sekolah. Pada hal untuk mengembangkan Sekolah Berwawasan Lingkungan diperlukan partisipasi dari warga sekolah.
Guru geografi, sangat berperan dalam menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan, karena kajian geografi berhubungan dengan ekologi. Realitanya belum semua guru geografi berperan aktif (berpartisipasi) menerapkan pengetahuan dan pengelamannya dalam menciptakan sekolah berwawasan lingkungan.
Kepeduliaan warga sekolah yang kurang terhadap pembenahan lingkungan sekolah harus diberdayakan seoptimal mungkin, berpartisipasi dalam mengembangkan Sekolah Berwawasan Lingkungan. Hasilnya diharapkan dampak pemanasan global dapat diminimalisasikan terutama dilingkungan sekolah.
C. Pembahasan
a. Sekolah Berwawasan Lingkungan
Sekolah Berwawasan Lingkungan, tantangan dan harapan bagi sekolah dalam upaya menciptakan lingkungan sekolah yang berkualitas. Dikatakan tantangan karena tidak mudah menjadikan lingkungan sekolah kondusif dan bermutu. Harapan, dengan sekolah berwawasan lingkungan membuat sekolah menjadi hijau, sejuk, nyaman, indah, bersih, dan sehat, serta dapat meminimalisasi dampak pemanasan global. Yang menghadapi tantangan dan mewujudkan harapan adalah manusia.
Menurut Sutardja. Abdul Gani, (1982) bahwa manusia sangat berperan dalam mengubah lingkungan, perubahan yang terjadi dari apa yang dilakukannya adalah berdampak positif maupun berdampak negatif bagi lingkungan itu sendiri dan bagi kehidupan yang terdapat disekitarnya.
Pengelolaan lingkungan sekolah secara baik akan membentuk lingkungan sekolah berkualitas, yang dikenal dengan Sekolah Berwawasan Lingkungan, sebaliknya pengelolaan linglkungan sekolah secara serampangan menjadikan lingkungan sekolah tidak sehat. Kesehatan lingkungan sekolah sangat mendukung proses belajar mengajar yang dilaksanakan di sekolah, hasilnya mutu dan prestasi sekolah akan meningkat.
Karakteristik Sekolah Berwawasan Lingkungan, adalah; unit bangunan sekolah tertata rapi, peruntukan pemamfaatan lahan yang jelas, pohon pelindung yang hijau, taman sekolah yang indah, tidak dijumpai air yang tergenang, sampah tidak ada yang berserakan, udara bersih dan sejuk, suasana sekolah tenteram dan damai. Kondisi sekolah yang demikian akan mampu menekan akibat yang ditimbulkan oleh pemanasan global.
Kenyataan dilapangan menunjukkan masih banyak dijumpai sekolah yang kurang peduli terhadap lingkungan sekolah. Hal ini terlihat banyak sekolah yang pohon pelindung jarang, taman sekolah tidak terawat, drainase air limbah tidak lancar, sampah berserakan, iklim sekolah tidak kondusif. Sekolah yang demikian lingkungannya tidak sehat, dan terancam oleh pemanasan global.
Membandingkan antara kondisi Sekolah Berwawasan Lingkungan dengan sekolah yang tidak berwawasan lingkungan, jauh lebih baik Sekolah berwawasan Lingkungan, oleh sebab itu sewajarnya setiap sekolah menciptakan dan mengembangkan Sekolah Berwawasan Lingkungan agar kondisi iklim sekolah tetap kondusif.
Mengingat adanya kontribusi yang diberikan oleh Sekolah Berwawasan Lingkungan dalam meminimalisasi dampak pemanasan global, maka sewajarnya setiap sekolah dijadikan Sekolah Berwawasan Lingkungan, dengan mengupayakan hal-hal sebagai berikut:
(a) mempelopori terciptanya Sekolah Berwawasan Lingkungan,
(b) menetapkan peruntukan lahan dan pekarangan sekolah secara jelas,
(c) menanam pohon pelindung dipekarangan sekolah dan disekitar sekolah,
(d) menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah,
(e) pemberdayaan warga sekolah mengelola lingkungan sekolah.
Untuk menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan harus ada guru yang mempeloporinya, melalui mata pelajaran yang diajarkan atau melalui kegiatan ekstrakurikuler. Kepeloporan yang dilakukan akan dapat memotivasi warga sekolah untuk berpartisipasi terhadap aktivitas dilakukan sehubungan dengan pengelolaan atau pembenahan lingkungan sekolah.
Dalam membenahi pekarangan sekolah untuk menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan, terlebih dulu harus ditetapkan peruntukan lahan sekolah untuk; bangunan, penghijauan, kebun sekolah, taman kelas, taman burung, green house, apotik hidup, kolam ikan, tempat membuang sampah.
Untuk menjaga kondisi udara dalam keadaan sejuk, nyaman, segar dan bersih, harus dilakukan penghijauan dengan menanam pohon pelindung di pekarangan sekolah, dan disekitar sekolah. Pohon pelindung ini dapat membantu mengurangi dampak yang ditimbulkan dari pemanasan global di lingkungan sekolah.
Lingkungan sekolah harus selalu dijaga kebersihannya. Sampah yang dihasilkan dimusnahkan dengan cara; membakar, menimbun dalam tanah, mendaur ulang, dijadikan kompos. Air yang digunakan disekolah selalu dalam keadaan bersih, dan tidak boleh aadanya genangan air di pekarangan sekolah.
Upaya menciptakan Sekolah Berwawasan Lingkungan, sebagaimana diuraikan diatas dapat dilakukan apabila seluruh warga sekolah berpartipasi, dan peduli terhadap lingkungan sekolah, serta mau melestarikannya. Selama kelestarian dari lingkungan Sekolah Berwawasan Lingkungan, maka selama itu pulalah pengaruh negative dari pemanasan global dapat diminimalisasikan.
b. Peranan Guru Geografi
Suatu kondisi lingkungan tertentu diperlukan untuk kehidupan. Unsur-untur sistem pendukung kehidupan, energi, geofisika, biologi, lingkungan buatan, dan unsur sosial. Sistem pendukung kehidupan merupakan landasan bagi aktivitas-aktivitasmanusia (Didik Saruji : 2006).
Manusia sangat berperan dalam hal mengkondisikan lingkungan bagi kehidupan, sehingga daya dukung lingkungan memberi arti bagi makhluk hidup dan bagi lingkungan itu sendiri. Untuk mengkondisikan lingkungan perlu dilakukan pendekatan ecological dan geografis, melalui kedua pendekatan ini akan terbentuk lingkungan yang sehat.
Pendekatan yang dapat dilakukan dalam mengelola lingkungan (termasuk lingkungan sekolah) adalah pendekatan ekologi, yaitu suatu metodologi untuk mendekati, menelaah, dan menganalisis suatu gejala atau masalah geografi dengan menerapkan konsep dan prinsip ekologi (K.Wardiyatmoko: 2006)
Berdasarkan pendapat diatas maka guru mata pelajaran geografi sangat berperan dalam menciptakan dan mengembangkan sekolah berwawasan lingkungan. Peranan dimaksud antara lain adalah:
a) Pemrakarsa sekolah berwawasan lingkungan.
Ide dan gagasan sekolah berwawawasan lingkungan hendaknya lahir dari guru geografi, karena lingkungan hidup (sekolah) merupakan bahan kajian geografi. Oleh sebab itu guru geografi harus memprakarsai lahirnya Sekolah Berwawasan Lingkungan, dengan cara melakukan hal-hal berikut:
(a) Menyampaikan ide dan gagasan kepada pimpinan sekolah
(b) Memperhatikan kondisi lingkungan sekolah dan lingkungan sekitarnya.
(c) Membuat peta lokasi sekolah sesuai dengan sertifikat tanah sekolah.
(d) Meneliti kondisi sekolah lahan (luas, letak, jenis, topografi).
(e) Menentukan peruntukan lahan sekolah untuk penataan lingkungan.
(f) Mengumpulkan data dan imformasi lain yang diperlukan.
(g) Mempersiapkan bahan penyusunan rencana kerja.
Selanjutnya didiskusikan dengan guru lainnya yang relevan, seperti; guru biologi, guru kimia, guru olahraga, hasil diskusi tersebut menjadi masukan dalam menyusun rencana dan program penciptaan dan pengembangan sekolah berwawasan lingkungan.
b) Menyusun Program Sekolah Berwawasan Lingkungan.
Hasil pengamatan, penelitian, data dan imformasi yang ada dijadikan bahan penyusunan rencana dan program kerja (proposal) Sekolah Berwawasan Lingkungan oleh tim guru geografi. Proposal dimaksud sekurangnya memuat hal-hal sebagai berikut:
(a) Latar belakang permasalahan lingkungan yang dihadapi sekolah.
(b) Hasil yang akan dicapai melalui kegiatan yang dilaksanakan.
(c) Bentuk kegiatan yang akan dilakukan oleh warga sekolah.
(d) Pelaksana kegiatan dan waktu pelaksanaan kegiatan.
(e) Jadwal pelaksanaan kegiatan (times schedule)
(f) Pembiayaan yang diperlukan dalampelaksanaan program.
(g) Lampiran pendukung rencana dan program kerja.
Rencana dan program Sekolah Berwawasan Lingkungan yang telah disusun dipresentasikan kepada warga sekolah, agar mereka mengetahui dan memberikan dukungan pelaksanaan rencana dan program kerja Sekolah Berwawasan Lingkungan
c. Melaksanakan Program Sekolah Berwawasan Lingkungan
Program kerja yang telah disusun harus dilaksanakan oleh warga sekolah. Dalam hal ini peranan guru geografi, sebagaimana tertera berikut ini;
a) Menjelaskan tentang pemanasan global dan dampaknya.
b) Mensosialisasikan Sekolah Berwawasan Lingkungan.
c) Mengatur penataan lingkungan sekolah
d) Membagi lokasi lahan sesuai dengan peruntukannya.
e) Mengkoordinir pelaksanaan program SBL
f) Mengarahkan massa dalam melaksanakan program SBL.
g) Berpartisipasi aktif dalam melaksanakan program SBL.
h) Memonitor pelaksanan kegiatan dilapangan.
i) Mengevaluasi terhadap keterlaksanaan kegiatan.
j) Menindak lanjuti ketidak terlaksananya program SBL.
Peranan diatas mengindikasikan bahwa guru geografi sangat berperan dalam pelaksanaan program sekolah berwawasan lingkungan baik secara lansung maupun secara tidak lansung. Akan tetapi guru geografi tidak mungkin dapat melaksanakan program kerja yang telah disusun tanpa diberdayakan warga sekolah.
Pelaksanaan program diatas memerlukan partisipasi seluruh warga sekolah. Oleh sebab itu pimpinan sekolah harus memberdayakan warga sekolah dengan cara:
(a) Membentuk tim work sekolah berwawasan lingkungan.
(b) Membentuk kelompok Sispala (siswa pencinta alam) di sekolah.
(c) Mengintegrasikan kegiatan dalam mata pelajaran yang relevan.
(d) Memuat program sekolah berwawasan lingkungan dalam kegiatan ektrakurikuler.
(e) Mengajak warga sekolah berpartisipasi terhadap sekolah berwawasan lingkungan.
(f) Melaksanakan JUMPA BERLIAN (Jumat Peduli Bersih Lingkungan).
(g) Menugaskan siswa membawa pupuk dan guru menyumbang tanaman bunga.
(h) Seluruh warga sekolah peduli terhadap lingkungan sekolah dan secara kontinu.
Tim work yang dibentuk oleh sekolah terdiri dari guru mata pelajaran yang relevan dengan masalah lingkungan. Disamping itu guru geografi membentuk tim andalan dari kalangan siswa, yaitu Siswa Pencinta Alam (Sispala).
Dalam melaksanakan program kerja Sekolah Berwawasan Lingkungan, dilakukan melalui mata pelajaran; Geografi, Biologi, Fisika, Kimia, dan mata pelajaran lainnya. Kegiatan ekstrakurikuler kepanduan (UKS/PMR, Pramuka, Sispala) merupakan wadah pelaksanaan program Sekolah Berwawasan Lingkungan.
Partisipasi dari seluruh warga sekolah dalam melaksanakan program Sekolah Berwawasan Lingkungan dalam upaya menciptakan dan mengembangkan, serta melestarikan lingkungan sekolah yang berkualitas, guna menekan seminimal mungkin dampak pemanasan global, penting dilakukan. Partisipasi yang diberikan oleh warga sekolah dapat berupa; finansial, material dan nonmaterial, yang digunakan sepnuhnya untuk Sekolah Berwawasan Lingkungan.
Untuk lebih memotivasi dan memberdayakan warga sekolah terhadap kegiatan sekolah berwawasan lingkungan, perlu diadakan lomba 5 K (Kebersihan, Keindahan, Kesehatan, Ketertiban, Kekeluargaan, setiap bulan. Pemenang lomba diberikan hadiah dan piagam penghargaan
Keberhasilan sekolah memberdayakan warga sekolah untuk mencintai lingkungan sekolah, akan menciptakan sekolah berwawasan lingkungan dengan kondisi yang kondusif. Budaya cinta lingkungan ini diharapkan dikembangkan dilingkungan tempat tinggal dan dilingkungan masyarakat.
e. Hasil Yang Diharapkan.
Dengan diciptakan dan dilestarikannya sekolah berwawasan lingkungan oleh warga sekolah yang diprakarsai oleh guru geografi, diperoleh hasil yang sangat mendukung aktivitas di sekolah. Hasil dimaksud terdiri atas:
a) Tertatanya lokasi sekolah sesuai peruntukannya.
b) Pemamfaatan lahan sekolah secara optimal.
c) Adanya kegiatan yang produktif di sekolah.
d) Taman sekolah yang indah dan berseri.
e) Pohon pelindung yang menghijau sepanjang tahun.
f) Tempat praktik terhadap teori yang dipelajari.
g) Kebersihan lingkungan terjaga dengan baik.
h) Udara bersih, sejuk, nyaman, dan sehat.
i) Lingkungan sekolah yang berkualitas.
j) Kecilnya pengaruh pemanasan global.
Dampak positif yang diperoleh dari Sekolah Berwawasan Lingkungan perlu dikembangkan disetiap sekolah karena sangat mendukung aktivitas yang dilaksanakan dilingkungan sekolah sehingga tercipta lingkungan sekolah yang berkualitas dan dapat meminimalkan dampak dari pemanasan global.

P E N U T U P.
Demikianlah sumbangan fikiran dari penulis selaku guru geografi, berdasarkan pengalaman mengelola Lingkungan Sekolah Sehat (LSS). Semoga apa yang dipaparkan dalam makalah ini memberi mamfaat bagi guru geografi dalam nenciptakan mengembangkan Sekolah Berwawasan Lingkungan, di sekolah masing-masing. Sebagai salah satu upaya meminimalisasi dampak pemanasan global.-

Padang, 17 Oktober 2008
Pemakalah


Lahmuddin



MAKALAH

PERANAN GURU GEOGRAFI
MENCIPTAKAN SEKOLAH BERWAWASAN LINGKUNGAN
DALAM UPAYA MEMINIMALISASI
DAMPAK PEMANASAN GLOBAL




OLEH
LAHMUDDIN
(Alumni Geografi-FKPS-IKIP Padang)




Disajikan
Dalam Forum Pertemuan Ilmiah
Ikatan Geograf Indonesia




JURUSAN GEOGRAFI-FAKULTAS ILMU-ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2008