A. Latar Belakang
Dunia pendidikan selalu menarik untuk dibicarakan, apalagi yang berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut, maka berbagai upaya terus dilakukan oleh pemerintah dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan dengan mengeluarkan Peraturan Menteri yang berisi tentang kebijakan-kebijakan pelaksanaan pendidikan.
Berbagai perhatian dan upaya diarahkan pada perkembangan dan kemajuan pendidikan guna meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan secara nasional. Diantaranya penyempurnaan kurikulum, peningkatan kualitas guru, pengadaan modul, buku paket, serta pengadaan fasilitas-fasilitas belajar lain.
Aktivitas belajar menjadi kegiatan setiap orang, seorang guru yang biasanya mengajar, pada saat yang lain bisa juga aktif dalam kegiatan belajar, seorang majikan bisa mengajari pembantunya, pada saat yang lain bisa juga belajar, baik dari pembantu maupun itu sendiri atau orang lain, dan begitu seterusnya. Satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa aktivitas belajar merupakan aktivitas teleologis, artinya aktivitas yang mempunyai tujuan tertentu. Oleh karena itu menurut Hakim (2002:2) “ukuran keberhasilan belajar seseorang dapat dilihat dari sejauh mana ia mampu mencapai tujuan belajar itu”. Pencapaian tujuan belajar inilah yang di sekolah biasa disebut dengan istilah prestasi belajar siswa.
Belajar merupakan akivitas jasmani dan rohani sekaligus, artinya dalam belajar selain melibatkan unsur jasmani, seorang yang belajar tentu melibatkan unsur kejiwaannya. Karenanya para ahli psikologi pendidikan yang tergolong cognitivist. Menurut Syah (2004:96) “hubungan antara belajar, memori dan pengetahuan itu sangat erat dan tidak mungkin dipisahkan”.
Oleh karena belajar melibatkan jasmani dan rohani sekaligus, maka prestasi belajar siswa juga dipengaruhi oleh keduanya. Kondisi jasmani seseorang demikian juga kondisi kejiwaannya berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Dalam konteks lain dikemukakan oleh Slameto (2003:73) bahwa “kecakapan dan ketangkasan belajar berbeda secara individual. Hal demikian bisa menjadi penyebab adanya perbedaan prestasi belajar antara siswa dengan yang lainnya”.
.
Tugas guru saat ini bukan hanya untuk menyampaikan materi pelajaran di depan kelas, tetapi peran guru lebih diarahkan kepada fungsinya sebagai ”fasilitator belajar” yang bertugas untuk menyediakan media pembelajaran bagi siswa, sehingga siswa lebih berperan aktif dalam proses belajar. Guru memberikan peluang yang seluas-luasnya agar siswa dapat belajar lebih bermakna dengan memberi respon yang mengaktifkan semua siswa secara positif dan edukatif.
Guru memiliki peranan yang sangat penting dalam pelaksanaan KTSP, karena guru merupakan penggerak dari kurikulum itu sendiri. Suke Silverius dalam Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan (Edisi khusus, Desember 2006) menyatakan bahwa Guru berperan sebagai tokoh sentral dalam upaya menyiapkan SDM yang berkualitas sebagaimana yang diamanatkan oleh UUD ’45. Guru dan upaya pendayagunaannya merupakan salah satu faktor utama dalam pengembangan SDM. KTSP menuntut guru yang berkualitas dan profesional untuk melakukan kerjasama dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan. Salah satu faktor penentu keberhasilan pelaksanaan KTSP adalah kompetensi guru dalam menjabarkan isi dokumen yang terdapat dalam KTSP ke dalam bentuk kegiatan belajar di kelas.
Berdasarkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 18 Tahun 2007 tentang Guru, dinyatakan bahwasanya salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh Guru adalah kompetensi professional. Kompetensi profesional yang dimaksud dalam hal ini merupakan kemampuan Guru dalam penguasaan materi pelajaran secara luas dan mendalam. Yang dimaksud dengan penguasaan materi secara luas dan mendalam dalam hal ini termasuk penguasaan kemampuan akademik lainnya yang berperan sebagai pendukung profesionalisme Guru. Kemampuan akademik tersebut antara lain, memiliki kemampuan dalam menguasai ilmu, jenjang dan jenis pendidikan yang sesuai.
Mengenai kompetensi, di Indonesia telah ditetapkan sepuluh kompetensi yang harus dimiliki oleh guru sebagai instructional leader, yaitu: (1) memiliki kepribadian ideal sebagai guru; (2) penguasaan landasan pendidikan; (3)menguasai bahan pengajaran; (4)kemampuan menyusun program pengajaran; (5) kemampuan menilai hasil (6) kemampuan menilai proses belajar mengajar; (7) kemampuan menyelenggarakan program bimbingan; (8) kemampuan menyelenggarakan administrasi sekolah; (9) kemampuan bekerja sama dengan teman sejawat dan masyarakat; dan (10) kemampuan menyelenggarakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran.
Implementasi Kurikulum didefinisikan sebagai suatu proses penerapan ide, konsep dan kebijakan kurikulum dalam suatu aktivitas pembelajaran, sehingga siswa menguasai seperangkat kompetensi tertentu sebagai hasil interaksi dengan lingkungan (Mulyasa dalam Rochmatin, 2006:16).
Saat ini kurikulum IPS untuk SMP telah menyatukan seluruh ilmu-ilmu sosial dalam satu bidang studi model pembelajaran terpadu, merupakan salah satu model implementasi kurikulum yang dianjurkan untuk diaplikasikan (BNSP,2007).
Melalui pembelajaran IPS Terpadu peserta didik dapat memperoleh pengalaman langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima, menyimpan, memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang dipelajarinya. Dengan demikian peserta didik terlatih untuk menemukan sendiri berbagai konsep yang dipelajari secara hilistik, bermakna, otentik dan aktif. Unsur yang terkait dengan mata pelajaran IPS di tingkat SMP ini merupakan perpaduan pelaksanaan mata pelajaran dari geografi, sosiologi, sejarah dan ekonomi.
Akan tetapi pelaksanaannya pembelajaran IPS Terpadu masih banyak dilaksanakan secara terpisah, sehingga pencapaian Standart Kompetensi dan Kompetensi Dasar masih dilakukan sesuai dengan bidang kajian masing-masing tanpa adanya keterpaduan di dalamnya. Hal ini banyak faktor yang menyebabkannya, salah atunya adalah kurangnya kesiapan guru dalam mengajarkan IPS Terpadu. Karena seperti yang kita ketahui bahwa pembekalan atau jenis pendidikan yang dimiliki oleh guru adalah sesuai dengan bidang profesinya yang didapatkan di perguruan tinggi.
Selanjutnya bagaimana dengan kesiapan guru dalam melaksanakan pembelajaran IPS Terpadu, dilihat dari latar belakang pendidikanya. Dimana hal ini menjadi tambahan tugas guru yang cukup berat, selain dari beberapa tuntutan kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang guru. Dari uraian diatas tentunya guru IPS Terpadu harus memiliki pengetahuan dan pemahaman yang lebih luas tidak hanya pada bidang profesi yang didapatkan di perguruan tinggi. Tuntutan guru professional begitu luas, tidak hanya dalam penguasaan materi pembelajaran saja. Guru pada satu bidang studi saja belum tentu professional karena banyak faktor yang melatar belakanginya. Padahal masih banyak beberapa kasus guru yang berasal dari sarjana non-kependidikan yang mengambil program tambahan akta mengajar (IV) dan guru yang mengajar bukan dari latar belakang pendidikannya di perguruan tinggi. Hal ini yang menjadi salah satu faktor penyebab rendahnya kualitas tingkat pendidikan di Indonesia.
Dimana guru sebagai pemegang kunci dalam proses belajar mengajar sangat menetukan proses keberhasilan siswa, oleh karena itu dituntut profesionalisme guru. Guru hendaknya menciptakan kondisi pembelajaran yang efektif yaitu mampu memahami karakteristik siswa, menyiapkan materi secara baik sesuai dengan kurikulum yang berlaku, memanfaatkan media dan sumber belajar dengan baik, dan memilih metode yang tepat. Pemilihan metode yang tepat ini penting karena dengan metode tersebut mampu mendidik siswa menjadi subjek belajar yang berkembang dan terlibat langsung dalam pembelajaran. Oleh sebab itu guru sangat berpengaruh terhadap ketuntasan belajar siswa.
Oleh karena pentingnya peranan guru dalam konteks pembelajaran siswa, tentunya profesionalisne guru menjadi bagian penting dalam masyarakat pendidikan. Profesionalisme guru ini meliputi beberapa prinsip penting meliputi antara lain dikemukakan dalam UU RI Nomor 14 tentang Guru dan Dosen (2005:6) yaitu “memiliki kualifikasi akademik dan latar belakang pendidikan sesuai dengan bidang tugas, memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas”.
Dari gambaran singkat tentang belajar ini, dapat dimengerti bahwa pencapaian tujuan belajarnya, siswa dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satu diantara faktor-faktor itu adalah guru. Gurulah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah, karenanya pencapaian tujuan belajar di sekolah banyak tergantung kepada guru.
Oleh karena guru merupakan orang yang paling bertanggung jawab dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah, maka guru adalah orang yang paling sering mengadakan komunikasi dengan siswa, baik dalam suatu proses belajar mengajar maupun dalam pergaulan. Dalam interaksi inilah, keberadaan guru berpengaruh terhadap siswa sehingga pada saatnya nanti akan mempengaruhi tingkat pencapaian prestasi belajar siswa di sekolah.
Berkaitan dengan prestasi belajar IPS Terpadu,prestasi belajar siswa tentu dipengaruhi oleh banyak hal, antara lain oleh guru mata pelajaran IPS Terpadu itu sendiri. Bagaimana tingkat kualifikasi dan kompetensi guru IPS Terpadu serta apa latar belakang guru tersebut tentu mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa. Mengingat materi dari pembelajaran IPS Terpadu begitu bermacam-macam dan luas serta menterkaitkan atau menterpadukan dari materi-materi yang ada.
Pelaksanaan pembelajaran IPS Terpadu, sebagaimana diketahui bahwa kompetensi dan profesionalisme guru IPS Terpadu menjadi perhatian yang penting dalam penguasaan dan pemahaman materi. Karena hal ini akan berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa, maka kajian tentang aspek atau akibat yang ditimbulkan oleh perbedaan guru dengan latar belakangnya sangat penting. Dimana seperti yang kita ketahui bahwa pembekalan yang didapatkan oleh guru pada Universitas sesuai pada bidang studinya, belum ada jurusan untuk pendidikan IPS Terpadu, oleh sebab itu guru dalam mengajar masih perlu untuk melakukan perbaikan-perbaikan dalam proses pembelajaran. Yang nantinya perlu dilakukan perbaikan-perbaikan dalam proses pembelajaran. Hal ini tentunya menjadi tugas berat bagi guru karena guru sebagai pelaksana kurikulum.
Di kota Malang secara umum sudah melaksanakan pembelajaran IPS Terpadu, tentunya dalam hal ini guru mata pelajaran IPS Terpadu memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Karakteristik guru adalah dasar-dasar guru dalam bentuk kualifikasi dan kompetensi untuk mendukung tugas-tugasnya dalam mengajar.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang ” Karakteristik Guru IPS Terpadu Terhadap Hasil Ketuntasan Belajar Siswa Pada SMP Negeri Di Kecamatan Klojen Kota Malang”.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik guru mengajar IPS Terpadu pada SMP Negeri di Kota Malang ?
2. Bagaimana hasil ketuntasan belajar siswa dilihat dari latar belakang pendidikan guru mengajar IPS Terpadu pada SMP Negeri di Kecamatan Klojen Kota Malang?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui karakteristik guru mengajar IPS Terpadu pada SMP Negeri di Kecamatan Klojen Kota Malang.
2. Mengetahui hasil ketuntasan belajar siswa dilihat dari latar belakang pendidikan guru mengajar IPS Terpadu pada SMP Negeri di Kecamatan Klojen Kota Malang.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi:
1. Guru IPS Terpadu : sebagai bahan informasi dan motivasi tentang pengetahuan mereka terhadap karakteristik yang dimilikinya dan guru-guru yang lainnya dalam pembelajaran IPS Terpadu dan pengaruhnya terhadap tingkat ketuntasan belajar siswa secara umum.
2. Lembaga Pendidikan : sebagai motivasi agar senantiasa melakukan upaya peningkatan kualitas guru dan sebagai bahan informasi untuk senantiasa memperhatikan usaha pengembangan sistem pembelajaran IPS Terpadu di tingkat SMP dan diharapkan untuk pihak penentu kebijakan bisa dijadikan sebagai rujukan untuk pengembangan pendidikan dalam bidang IPS Terpadu.
3. Bagi Kampus: bagi kampus UM penelitian ini bermanfaat sebagai bahan rujukan untuk pengembangan kualitas mahasiswa dalam bidang pendidikan, mengingat pentingnya penguasaan kompetensi pada bidangnya.
4. Peneliti/Mahasiswa : sebagai bahan informasi dan pengetahuan tentang karakteristik guru IPS Terpadu terhadap hasil ketuntasan belajar siswa. Serta dapat dijadikan bekal untuk terjun di lingkungan sekolah nantinya. Dan penelitian ini dapat bermanfaat untuk penulis sebagai pengembangan pengetahuan penulis sendiri di lapangan sesuai dengan jurusan yang penulis tekuni.

E. Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitan ini akan diuraikan dalam table berikut :
Variabel Sub variabel Indikator Metode Sumber
Karakteristik Guru IPS Terpadu Terhadap Hasil Ketuntasan Belajar Siswa Pada SMP Negeri Di Kecamatan Klojen Kota Malang

F. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan dalam memahami konsep judul skripsi ini perlu dikemukakan definisi operasionalnya:
1. Prestasi belajar siswa, adalah nilai hasil belajar siswa dalam mata pelajaran IPS Terpadu yang diperoleh dari dokumentasi prestasi belajar siswa berupa arsip nilai UAS mata pelajaran IPS Terpadu.
2. Karakteristik guru, adalah dasar-dasar guru dalam bentuk kualifikasi dan kompetensi untuk mendukung tugas-tugasnya dalam mengajar.
3. Latar belakang pendidikan guru IPS Terpadu,adalah dasar pendidikan yang dimiliki seorang guru pengajar IPS Terpadu.
4. IPS Terpadu yaitu pembelajaran yang menghubungkan pelajaran geografi, sejarah, sosiologi dan ekonomi , menjadi suatu bentuk pembelajaran yang tidak berdiri sendiri-sendiri, melainkan menjadi suatu kesatuan yang diajarkan secara simultan. Kesimpulan ini sejalan dengan pernyataan yang disampaikan oleh ketua BSNP (Badan Standar Nasional Pendidikan).